Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Posts by : Admin
Dunia pendidikan Indonesia
Ketua panitia pengarah kongres, Prof. Sutaryo, menyebutkan pendidikan yang ada saat ini belum sesuai dengan karakter bangsa. Yang terlihat justru mengagung-agungkan konsep pendidikan barat, padahal lingkup sosial negara-negara maju cenderung eksploitatif dan mendidik manusia yang individualis. “Konsep pendidikan yang digagas Ki Hadjar Dewantara saat ini mengalami kebekuan. Yang terlihat justru pendidikan dengan konsep dari Barat menjadikan manusia individualis dan serakah, yang tentunya tidak pas dengan bangsa kita, juga melahirkan mentalitas ketidakpercayaan diri,” tuturnya, Jumat (5/4) di Balai Senat UGM.
Sutaryo mencontohkan sebagian pelaku pendidikan merasa berhasil apabila anak didiknya memperoleh nilai akademis tinggi dan cepat terserap di dunia kerja dan memenangkan berbagai kompetisi, meskipun minim rasa kepekaan sosial, tepa slira, dan kebangsaan. “Padahal esensi pendidikan lebih jauh dari itu. Pendidikan adalah upaya pembangunan peradaban bangsa, mencetak manusia Indonesia yang berkarakter Pancasila,” jelas peneliti pada Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM ini.
PEMBENTUKAN KARAKTER (M. Quraish Shihab)
Karakter berbeda dengan temperamen. Temperamen merupakan corak reaksi seseorang terhadap berbagai rangsangan dari luar dan dari dalam. Ia berhubungan erat dengan kondisi biopsikologi seseorang, sehingga sangat sulit diubah karena ia dipengaruhi oleh unsur hormon yang bersifat biologis. Sedang kakarter terbentuk melalui perjalanan hidup seseorang. Ia dibangun oleh pengetahuan, pengalaman, serta penilaian terhadap pengalaman itu. Kepribadian dan karakter yang baik merupakan interaksi seluruh totalitas manusia. Dalam bahasa Islam, ia dinamai rusyd. Ia bukan saja nalar, tetapi gabungan dari nalar, kesadaran moral, dan kesucian jiwa.
Karakter terpuji merupakan hasil internalisasi nilai-nilai agama dan moral pada diri seseorang yang ditandai oleh sikap dan perilaku positif. Karena itu, ia berkaitan sangat erat dengan kalbu. Bisa saja seseorang memiliki pengetahuan yang dalam, tetapi tidak memiliki karakter terpuji. Sebaliknya, bisa juga seseorang yang amat terbatas pengetahuannya, namun karakternya amat terpuji. "Sesungguhnya dalam diri manusia ada suatu gumpalan, kalau ia baik, baiklah seluruh (kegiatan) jasad dan kalau buruk, buruk pula seluruh (kegiatan) jasad. Gumpalan itu adalah hati”.
Memang ilmu tidak mampu menciptakan akhlak atau iman, ia hanya mampu mengukuhkannya, dan karena itu pula mengasuh kalbu sambil mengasah nalar, memperkukuh karakter seseorang.
Posts by : Admin
Sertilfikasi Guru
Saat ini ribuan guru di Indonesia tengah menunggu hasil sertifikasi yang telah dijanjikan oleh pemerintah tersebut. tengah menunggu nasibnya. Apakah lulus sertifikasi atau tidak, atau bila tidak lulus akan mendapatkan pelatihan sampai sang guru itu lulus sertifikasi. Atau harus naik ‘sepeda kumbang’ lagi kesekolah.
tapi ada seorang guru di yogya mengatakan sertifikasi guru di Indonesia hanya pemborosan saja, karena anak didik juga tidak makin meningkat pembelajarannya sehingga hanya memboroskan keuangan negara.
"Kenyataannya, pemberlakuan sertifikasi itu malah membuat para guru sikut-sikutan untuk mendapatkan jam pelajaran lebih banyak lagi sehingga kualitas mengajarnya pasti menurun," tegasnya kepada Bisnis hari ini.
Sertifikasi guru, juga kini menjadi obyek empuk Dinas Pendidikan di daerah untuk menakut-nakuti guru dan merogoh kocek guru dengan dalih sosialisasi guru berbiaya Rp 250 ribu-Rp 500 ribu/ orang.
Menurut Agus, program sertifikasi guru misalnya, sudah melenceng dari tujuan awalnya.
Seperti diketahui, Sertifikasi dan Penilaian Kinerja (PK) guru kini mengalami perubahan proses yang diklaim untuk memudahkan mereka meningkatkan kinerja dan profesionalitas.
Namun, menurut Agus, bukan profesionalitas yang didapat, kualitas mengajarnya hanya segitu saja bahkan menurun seiring jam mengajar yang bertambah.
Agus juga menyoroti masalah Block Grand yang sering tidak tepat sasaran. "Sekolah saya saja APBS nya mencapai puluhan miliar tetap dapat block grand. Ini salah kaprah, mending dikasih saja ke sekolah yang membutuhkannya," tegasnya.
sumber http://www.bisnis.com/articles/sertifikasi-guru-dianggap-hanya-boroskan-uang-negara-dan-tak-majukan-pendidikan
Posts by : Admin
Siapa karakter anda
Masih ingatkah anda kalimat yang diucapkan bapak presiden pertama kita, "Anda tidak bisa mengajarkan apa yang Anda mau, Anda tidak bisa mengajarkan apa yang Anda tahu. Anda hanya bisa mengajarkan siapa Anda" soekarno
Jangan tanamkan karakter apabila kita belum berkarakter, artinya melihat kita secara pasti belajar dari kita.dari ujung rambut sampai ujung kaki, mata mereka memperhatikan kita.
maukah kita memberi contoh pada mereka ? Jangan katakan kepada murid anda bahwa MEROKOK ADALAH BERBAHAYA, JIKALAU ANDA BELUM MENINGGALKAN KEBIASAAN TERSEBUT.
Dari penelitian diberbagai belahan dunia yang terus berkembang, hasil riset tentang tehnik penyerapan informasi ke otak dibagi menjadi 5 tahap :
# Membaca dengan prosentase penyerapan informasi 10%
# Mendengar dengan prosentase penyerapan informasi 20%
# Mendengar dan Melihat dengan prosentase penyerapan informasi 50%
# Mengatakan dengan prosentase penyerapan informasi 70%
# Mengatakan dan melakukan dengan prosentase penyerapan informasi 90%
jadi mereka murid kita cermin kita.
Jangan tanamkan karakter apabila kita belum berkarakter, artinya melihat kita secara pasti belajar dari kita.dari ujung rambut sampai ujung kaki, mata mereka memperhatikan kita.
maukah kita memberi contoh pada mereka ? Jangan katakan kepada murid anda bahwa MEROKOK ADALAH BERBAHAYA, JIKALAU ANDA BELUM MENINGGALKAN KEBIASAAN TERSEBUT.
Dari penelitian diberbagai belahan dunia yang terus berkembang, hasil riset tentang tehnik penyerapan informasi ke otak dibagi menjadi 5 tahap :
# Membaca dengan prosentase penyerapan informasi 10%
# Mendengar dengan prosentase penyerapan informasi 20%
# Mendengar dan Melihat dengan prosentase penyerapan informasi 50%
# Mengatakan dengan prosentase penyerapan informasi 70%
# Mengatakan dan melakukan dengan prosentase penyerapan informasi 90%
jadi mereka murid kita cermin kita.
Posts by : Admin
Membangun karakter mandiri
Bagaimana membangun karakter mandiri pada diri anakanak, Pada biasanya banyak ditemukan bahwa Anak-anak yang kurang mandiri dan manja, adalah anak-anak yang tidak mengembangkan otonominya. Anda perlu tahu bahwa pada satu tahap perkembangan anak, mereka mempunyai sebuah tahap dimana mereka ingin otonomi lebih besar. Ini dimulai ketika mereka berusia 2 atau 3 tahun. Dia ingin melakukan sesuatu saat itu. Tetapi biasanya kita orang tua terkadang terlalu melindungi anak. Ketika dia ingin memanjat kursi, kita larang dia, “jangan nanti jatuh”. Ketika dia memegang sesuatu tidak kita perbolehkan karena takut pecah dan lain sebagainya. Nah, akhirnya anak ini menjadi pasif dan hanya menunggu apa yang kita berikan atau apa yang diberikan oleh pengasuhnya. Ketika hal ini terjadi bertahun-tahun maka kita sudah mulai membentuk sebuah pola dalam diri anak kita. Untuk menjadi pasif dan tidak mandiri. Cobalah Anda memberikan sebuah latihan agar anak-anak mengerjakan sendiri.
Jika Anda mempunyai anak yang sudah menginjak kelas 1 Sekolah Dasar, sebaiknya jangan bawakan tasnya ketika dia turun dari mobil. Anda mungkin berpendapat, “aduh.. saya kan harus berangkat kerja, kalau tunggu dia lama banget”. Itu tidak boleh di lakukan. Anda bisa berangkat lebih awal jika Anda tahu itu akan membuat Anda terlambat dan biarkan dia bawa tasnya sendiri masuk ke kelasnya. Jangan hanya karena kita tidak mau repot akhirnya “udah sini tak bawain sudah masuk di kelas”. Itulah hal-hal kecil yang membuat anak Anda jadi kurang mandiri. Jika dia sudah bisa mengembalikan piring yang dia gunakan untuk makan ke tempat cucian, biar dia melakukannya. “Lho.. kalau begitu apa gunanya pembantu yang saya bayar”. Justru itulah masalahnya Anda tidak memberikan kesempatan anak Anda untuk mengembangkan dirinya. Semua itu perlu latihan. Anda tidak bisa membuat seorang anak mandiri tanpa sebuah proses. Sama seperti ketika dulu kita di besarkan oleh kondisi susah payah oleh orang tua kita. Saat itu orang tua kita mungkin tidak sengaja melakukan hal tersebut pada kita. Bahkan mungkin mereka merasa bersalah karena tidak bisa melayani kita sebaik mungkin. Tetapi justru itulah yang baik ternyata bagi kita, bagi perkembangan kita. Kita akhirnya menjadi seorang yang mandiri. Dan kemudian ketika kita sekarang sudah menjadi orang yang berhasil kita tidak melakukan itu pada anak, dengan alasan kasian.
Para pembaca yang budiman, inilah permasalahannya kita harus melatih anak kita untuk memiliki karakter mandiri. Kita harus memberikan kesempatan pada mereka seluas-luasnya untuk mengembangkan diri dengan mengerjakan banyak hal kecil-kecil yang sangat-sangat berguna bagi perkembangan karakternya. Ketika seorang anak mengembalikan piring makannya di tempatnya, mengangkat tasnya sendiri, mengembalikan sepatunya pada saat dia telah selesai pakai, atau melakukan kegiatan kecil-kecil maka si anak akan merasakan sebuah harga diri yang positif. Dia akan merasa bahwa dirinya sejajar dengan orang dewasa yang melakukan hal-hal tersebut. Ini akan membuat percaya dirinya melambung tinggi. Oleh karena itu berikanlah kesempatan ini pada anak-anak anda. Anda tidak akan pernah kecewa melihat mereka bertumbuh dan berkembang dengan semangat kemandirian ketika mereka mulai menginjak masa-masa remaja.
Jadi pastikanlah Anda memberikan suatu kesempatan pada anak Anda untuk melakukan apa-apa yang dia telah mampu lakukan. Itulah kunci untuk membantu seorang anak memiliki karakter mandiri, percaya diri dan mampu mengerjakan segala sesuatu dengan tanggung jawab penuh
Jika Anda mempunyai anak yang sudah menginjak kelas 1 Sekolah Dasar, sebaiknya jangan bawakan tasnya ketika dia turun dari mobil. Anda mungkin berpendapat, “aduh.. saya kan harus berangkat kerja, kalau tunggu dia lama banget”. Itu tidak boleh di lakukan. Anda bisa berangkat lebih awal jika Anda tahu itu akan membuat Anda terlambat dan biarkan dia bawa tasnya sendiri masuk ke kelasnya. Jangan hanya karena kita tidak mau repot akhirnya “udah sini tak bawain sudah masuk di kelas”. Itulah hal-hal kecil yang membuat anak Anda jadi kurang mandiri. Jika dia sudah bisa mengembalikan piring yang dia gunakan untuk makan ke tempat cucian, biar dia melakukannya. “Lho.. kalau begitu apa gunanya pembantu yang saya bayar”. Justru itulah masalahnya Anda tidak memberikan kesempatan anak Anda untuk mengembangkan dirinya. Semua itu perlu latihan. Anda tidak bisa membuat seorang anak mandiri tanpa sebuah proses. Sama seperti ketika dulu kita di besarkan oleh kondisi susah payah oleh orang tua kita. Saat itu orang tua kita mungkin tidak sengaja melakukan hal tersebut pada kita. Bahkan mungkin mereka merasa bersalah karena tidak bisa melayani kita sebaik mungkin. Tetapi justru itulah yang baik ternyata bagi kita, bagi perkembangan kita. Kita akhirnya menjadi seorang yang mandiri. Dan kemudian ketika kita sekarang sudah menjadi orang yang berhasil kita tidak melakukan itu pada anak, dengan alasan kasian.
Para pembaca yang budiman, inilah permasalahannya kita harus melatih anak kita untuk memiliki karakter mandiri. Kita harus memberikan kesempatan pada mereka seluas-luasnya untuk mengembangkan diri dengan mengerjakan banyak hal kecil-kecil yang sangat-sangat berguna bagi perkembangan karakternya. Ketika seorang anak mengembalikan piring makannya di tempatnya, mengangkat tasnya sendiri, mengembalikan sepatunya pada saat dia telah selesai pakai, atau melakukan kegiatan kecil-kecil maka si anak akan merasakan sebuah harga diri yang positif. Dia akan merasa bahwa dirinya sejajar dengan orang dewasa yang melakukan hal-hal tersebut. Ini akan membuat percaya dirinya melambung tinggi. Oleh karena itu berikanlah kesempatan ini pada anak-anak anda. Anda tidak akan pernah kecewa melihat mereka bertumbuh dan berkembang dengan semangat kemandirian ketika mereka mulai menginjak masa-masa remaja.
Jadi pastikanlah Anda memberikan suatu kesempatan pada anak Anda untuk melakukan apa-apa yang dia telah mampu lakukan. Itulah kunci untuk membantu seorang anak memiliki karakter mandiri, percaya diri dan mampu mengerjakan segala sesuatu dengan tanggung jawab penuh
Posts by : Admin
Hak Anak menurut Agama Islam
Hak anak dalam agama islam Dalam filosofi pendidikan Islam dikenal dua hal. Pertama adalah bashira wa nadlira, bahwa mendidik anak seharusnya tidak hanya dilakukan melalui interaksi secara langsung tetapi juga harus dilihat secara batin, hal tersebut mempunyai makna bahwa usaha untuk mendidik anak tidak hanya dapat dilakukan secara lahiriyah seperti menyekolahkan anak dan memenuhi kebutuhannya, tetapi juga dilakukan secara bathin misalnya melalui doa bagi mereka.
Kedua adalah konsep fa alhamaha fujuraha wa taqwaha. Falsafah ini mempunyai implikasi dalam pendidikan bahwa manusia pada dasarnya disamping memiliki fitrah yang baik juga mempunyai fitrah yang buruk. Agar fitrah yang buruk tersebut tidak berkembang, maka dibutuhkan proses pendidikan agar fitrah yang baik berkembang dengan baik. Dengan demikian proses pendidikan tersebut harus benar-benar berlandaskan pada tujuan pendidikan yang paling mendasar yaitu pendidikan untuk memanusiakan manusia.
Ketiga adalah konsep rahmah atau kasih sayang, Al-jurajani menyatakan bahwa al rahma hiya iradatu isholu al-khair, artinya kasih sayang adalah segala sesuatu perbuatan yang akan mendatangkan kebaikan. Dengan memberikan kasih sayang maka pada dasarnya seseorang telah mengadakan pendekatan psikologis dalam mendidik anak, karena dengan pendekatan ini anak akan merasa terlindungi dan tenang, dengan demikian anak akan berada pada sebuah kehidupan yang nyaman tanpa ada intimadasi, kekerasan dan lain sebagainya. Sebagai hasilnya anak dapat hidup dan tumbuh kembang di tengah masyarakatnya dengan karakter anak yang kreatif, dan mempunyai sikap self convidance yang tinggi.
Lantas bagaimana pandangan Islam dalam penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan empat prinsip sebagaimana dalam CRC yang telah disebut di atas?.
Hak Hidup, Keberlangsungan Tumbuh Kembang
Dalam pandangan Islam, bahwa hidup adalah pemberian Allah, sebagaimana dikatakan dalam firmannya: Dan sesungguhnya benar-benar Kamilah yang menghidupkan dan mematikan dan Kamilah (pulalah) yang mewarisi (QS. Al-Hijr:23). Ini berarti, bahwa hak hidup, keberlangsungan dan hak perkembangan melekat pada setiap diri anak, dan mutlak adanya sebagai dasar untuk memberikan pemenuhan dan perlindungan atas kehidupan mereka. Tidaklah mengherankan apabila Allah SWT mengecam keras orang-orang yang tidak menghargai hak asasi manusia, misalnya melakukan pembunuhan lebih-lebih pada anak seperti sampai sekarang masih banyak terjadi diberbagai belahan dunia dimana Islam telah menentangnya sejak zaman jahiliyyah. Allah berfirman: Barang siapa yang membunuh jiwa seorang manusia bukan karena pembunuhan dan bukan pula kerana membuat kerusakan di bumi, maka ia seakan membunuh manusia seluruhnya, dan barang siapa menyelamatkan jiwa seorang manusia sekan ia menyelamatkan manusia seluruhnya (QS. Al-Maidah:32).
Anak adalah anugerah dan amanah Allah SWT sebagaimana telah dijelaskan di muka. Anak merupakan kekayaan bagi keluarga dan bangsa, yang memiliki fungsi strategis sebagai pemilik dan penerus generasi di masa yang akan datang. Sebagai pengejawantahan rasa syukur pada Allah SWT, maka hak-hak anak untuk kelangsungan dan perkembangan hidupnya baik secara fisik maupun mental harus di penuhi. Hak kelangsungan hidup anak dapat diwujudkan dalam bentuk memberikan kasih sayang pada anak, memenuhi kebutuhan hak dasar anak.
Kebutuhan alami seorang anak adalah mendapatkan kasih sayang terutama dari orangtuanya sendiri khususnya ibu. Seorang ibu yang muslimah harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang menghalanginya untuk memberikan kasih sayang dan perlindungan kepada anaknya. Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah termasuk golongan kami, orang-orang yang tidak mengasihi anak kecil di antara kami dan tidak mengetahui hak orang besar di antara kami (HR Abu Daud dan Tirmidzi).
Selain yang tersebut diatas, memenuhi kebutuhan dasar anak demi keberlangsungan dan perkembangan anak, diantaranya adalah kebutuhan sandang, papan dan pangan. Hal ini sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an: Dan kewajiban ayah adalah memberi makan dan pakaian kepada para ibu (dan anaknya) dengan cara yang ma’ruf (QS.Al-baqarah:233).
Menjamin Perkembangan Anak dapat dilakukan dengan cara mendidik anak. Dengan pendidikan anak dapat berkembang secara sempurna baik pemikiran, maupun sikap dan perilakunya. Pendidikan yang diberikan kepada anak merupakan pendidikan yang bersifat komprehensif, yaitu pendidikan yang diarahkan untuk pengembangan kemampuan intelektual, mental dan spritual. Nabi memerintahkan para orangtua untuk mendidik anak-anaknya sebagaimana disebutkan dalam Hadist: Ajarkanlah kebaikan kepada anak-anak kamu dan keluarga kamu dan didiklah mereka (HR.Abdur Razzaq dan Sa’id bin Mansur).
Non-Diskriminasi
Prinsip non-diskriminasi (non-discrimination) dalam pendidikan anak adalah perlakuan yang tidak membeda-bedakan dalam penyelenggaraan pendidikan anak atas dasar perbedaan asal-usul, suku, agama, ras, jenis kelamin dan status sosial lainnya. Prinsip ini didasarkan pada pandangan kefitrahan anak, bahwa pada hakekatnya anak dilahirkan sama hak asasinya sebagai makhluk ciptaan Allah. Perbedaan tersebut terjadi semata-mata karena konstruk sosial masyarakat yang mewarnai perjalanan dan perkembangan anak.
Misalnya, pada zaman jahiliyah, anak perempuan tidak diterima sepenuh hati oleh masyarakat secara umum. Al-Qur’an merekam pandangan dan praktek jahiliyah mulai dari yang paling ringan yaitu bermuka masam jika disampaikan berita kelahiran anak perempuan,2 sampai kepada yang paling parah yaitu membunuh bayi-bayi perempuan.3 Terhadap hal ini Al-Qur’an mengecam keras. Kecaman-kecaman itu antara lain dimaksudkan untuk mengantar mereka agar menyadari bahwa kedua jenis kelamin anak masing-masing memiliki keistimewaan4 dan tidaklah yang satu lebih utama dari yang lain.5
Islam sangat tegas dan konsisten dalam menerapkan prinsip non-diskriminasi dalam penyelenggaraan pendidikan anak yang ditandai dengan seruan untuk berlaku adil pada anak. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan umat manusia untuk berbuat adil terhadap anak-anak: Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…(Qs. Al-Maidah:8).Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:“…..Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil…. (QS. An-Nisa’:127).
Perintah untuk berlaku adil dan tidak membeda-bedakan anak atas jenis kelaminnya juga di jelaskan dalam beberapa hadist, diantaranya:”Berbuat adillah diantara anak-anakmu, berbuat adillah diantara anak-anakmu, berbuat adillah diantara anak-anakmu” (HR. Ashabus Sunan, Imam Ahmad dan Ibnu Hibban). Perintah Rasulullah SAW kepada para orangtua untuk berbuat adil terhadap anak-anaknya dilakukan dalam semua pemberian, baik berupa pemberian harta (materi) maupun kasih sayang (immateri). Berikut perintah Nabi Muhammad SAW agar orangtua berbuat adil dalam hal pemberian (materi) terhadap anak-anaknya. Rasulullah SAW bersabda: Samakanlah diantara anak-anak kalian di dalam pemberian (HR.Thabrani).
Dalam hal pemberian kasih sayang (immateri), Nabi Muhammad SAW juga sangat menganjurkan kepada orangtua agar berlaku adil sebagaimana diriwayatkan oleh Anas, bahwa seorang laki-laki berada disisi Rasulullah SAW kemudian datanglah seorang anak laki-lakinya, lalu ia mencium dan mendudukkannya diatas pangkuannya. Setelah itu datanglah puterinya, tidak dipangku sebagaimana anak laki-lakinya, hanya didudukkan di depan Rasulullah SAW. Atas peristiwa itu Rasulullah SAW bersabda: Mengapa engkau tidak menyamakan keduanya?
Hadist ini menunjukkan bahwa perbuatan non-diskriminatif yang harus ditunjukkan oleh orang tua terhadap anak adalah adil secara keseluruhan. Perbuatan adil harus ditunjukkan dalam bentuk pemberian yang dapat dilihat oleh mata atau pemberian yang tidak dapat dilihat oleh mata seperti perwujudan kasih sayang. Apabila di dalam masyarakat muslim masih terdapat orangtua yang memandang anak wanita lebih rendah daripada anak laki, maka hal ini tentu disebabkan oleh lemahnya iman dan rapuhnya keyakinan. Disamping itu juga disebabkan oleh lingkungan sosial yang rusak yang diserap dari kebiasaan jahiliyah atau tradisi sosial tercela. Dalam hubungan ini Allah SWT berfirman:
Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehianaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketauhilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu (QS. AN-Nahl: 58-59).
Perlakuan diskriminatif terhadap anak dapat menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan kejiwaannya, yaitu munculnya penyakit kejiwaan seperti rendah diri dan hasud. Jika perlakuan tersebut berlangsung terus menerus membuat anak agresif, misalnya suka bertengkar, melukai, bahkan membunuh. Peristiwa pembunuhan Yusuf oleh saudaranya sendiri dapat dijadikan contoh itu. Dalam peristiwa ini disebutkan bahwa Bunyamin dan saudara-saudara yang lainnya makar pada Yusuf, yaitu memasukkan Yusuf ke dalam Sumur semata-mata karena saudara -saudaranya mengalami perlakuan diskriminatif dari ayahnya, Nabi Ya’kub sebagaimana diabadikan dalam al-Qur’an: (Yaitu) ketika mereka berkata: “sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata (QS. Yusuf:8).
Belajar dari pengalaman tersebut dapatlah dikatakan bahwa para orang tua, wali atau siapa saja yang diberi mandat untuk memelihara dan mendidik anak wajib menerapkan prinsip non-diskriminasi dan persamaan didalam pemberian, kecintaan, perlakuan kasih sayang kepada anak-anak, tanpa membeda-bedakan antara yang satu dengan lainnya, antara pria dan wanita. Oleh karena itu dalam pandangan legislasi ditandaskan bahwa perilaku diskriminatif terhadap anak merupakan tindakan tidak saja bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Tentu pasti, bahwa orang tua, masyarakat, pemerintah dan negara sebagai penyelenggara perlindungan anak memiliki tanggungjawab dan kewajiban untuk tidak berlaku diskriminatif dalam bentuk apapun.
Kedua adalah konsep fa alhamaha fujuraha wa taqwaha. Falsafah ini mempunyai implikasi dalam pendidikan bahwa manusia pada dasarnya disamping memiliki fitrah yang baik juga mempunyai fitrah yang buruk. Agar fitrah yang buruk tersebut tidak berkembang, maka dibutuhkan proses pendidikan agar fitrah yang baik berkembang dengan baik. Dengan demikian proses pendidikan tersebut harus benar-benar berlandaskan pada tujuan pendidikan yang paling mendasar yaitu pendidikan untuk memanusiakan manusia.
Ketiga adalah konsep rahmah atau kasih sayang, Al-jurajani menyatakan bahwa al rahma hiya iradatu isholu al-khair, artinya kasih sayang adalah segala sesuatu perbuatan yang akan mendatangkan kebaikan. Dengan memberikan kasih sayang maka pada dasarnya seseorang telah mengadakan pendekatan psikologis dalam mendidik anak, karena dengan pendekatan ini anak akan merasa terlindungi dan tenang, dengan demikian anak akan berada pada sebuah kehidupan yang nyaman tanpa ada intimadasi, kekerasan dan lain sebagainya. Sebagai hasilnya anak dapat hidup dan tumbuh kembang di tengah masyarakatnya dengan karakter anak yang kreatif, dan mempunyai sikap self convidance yang tinggi.
Lantas bagaimana pandangan Islam dalam penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan empat prinsip sebagaimana dalam CRC yang telah disebut di atas?.
Hak Hidup, Keberlangsungan Tumbuh Kembang
Dalam pandangan Islam, bahwa hidup adalah pemberian Allah, sebagaimana dikatakan dalam firmannya: Dan sesungguhnya benar-benar Kamilah yang menghidupkan dan mematikan dan Kamilah (pulalah) yang mewarisi (QS. Al-Hijr:23). Ini berarti, bahwa hak hidup, keberlangsungan dan hak perkembangan melekat pada setiap diri anak, dan mutlak adanya sebagai dasar untuk memberikan pemenuhan dan perlindungan atas kehidupan mereka. Tidaklah mengherankan apabila Allah SWT mengecam keras orang-orang yang tidak menghargai hak asasi manusia, misalnya melakukan pembunuhan lebih-lebih pada anak seperti sampai sekarang masih banyak terjadi diberbagai belahan dunia dimana Islam telah menentangnya sejak zaman jahiliyyah. Allah berfirman: Barang siapa yang membunuh jiwa seorang manusia bukan karena pembunuhan dan bukan pula kerana membuat kerusakan di bumi, maka ia seakan membunuh manusia seluruhnya, dan barang siapa menyelamatkan jiwa seorang manusia sekan ia menyelamatkan manusia seluruhnya (QS. Al-Maidah:32).
Anak adalah anugerah dan amanah Allah SWT sebagaimana telah dijelaskan di muka. Anak merupakan kekayaan bagi keluarga dan bangsa, yang memiliki fungsi strategis sebagai pemilik dan penerus generasi di masa yang akan datang. Sebagai pengejawantahan rasa syukur pada Allah SWT, maka hak-hak anak untuk kelangsungan dan perkembangan hidupnya baik secara fisik maupun mental harus di penuhi. Hak kelangsungan hidup anak dapat diwujudkan dalam bentuk memberikan kasih sayang pada anak, memenuhi kebutuhan hak dasar anak.
Kebutuhan alami seorang anak adalah mendapatkan kasih sayang terutama dari orangtuanya sendiri khususnya ibu. Seorang ibu yang muslimah harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang menghalanginya untuk memberikan kasih sayang dan perlindungan kepada anaknya. Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah termasuk golongan kami, orang-orang yang tidak mengasihi anak kecil di antara kami dan tidak mengetahui hak orang besar di antara kami (HR Abu Daud dan Tirmidzi).
Selain yang tersebut diatas, memenuhi kebutuhan dasar anak demi keberlangsungan dan perkembangan anak, diantaranya adalah kebutuhan sandang, papan dan pangan. Hal ini sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an: Dan kewajiban ayah adalah memberi makan dan pakaian kepada para ibu (dan anaknya) dengan cara yang ma’ruf (QS.Al-baqarah:233).
Menjamin Perkembangan Anak dapat dilakukan dengan cara mendidik anak. Dengan pendidikan anak dapat berkembang secara sempurna baik pemikiran, maupun sikap dan perilakunya. Pendidikan yang diberikan kepada anak merupakan pendidikan yang bersifat komprehensif, yaitu pendidikan yang diarahkan untuk pengembangan kemampuan intelektual, mental dan spritual. Nabi memerintahkan para orangtua untuk mendidik anak-anaknya sebagaimana disebutkan dalam Hadist: Ajarkanlah kebaikan kepada anak-anak kamu dan keluarga kamu dan didiklah mereka (HR.Abdur Razzaq dan Sa’id bin Mansur).
Non-Diskriminasi
Prinsip non-diskriminasi (non-discrimination) dalam pendidikan anak adalah perlakuan yang tidak membeda-bedakan dalam penyelenggaraan pendidikan anak atas dasar perbedaan asal-usul, suku, agama, ras, jenis kelamin dan status sosial lainnya. Prinsip ini didasarkan pada pandangan kefitrahan anak, bahwa pada hakekatnya anak dilahirkan sama hak asasinya sebagai makhluk ciptaan Allah. Perbedaan tersebut terjadi semata-mata karena konstruk sosial masyarakat yang mewarnai perjalanan dan perkembangan anak.
Misalnya, pada zaman jahiliyah, anak perempuan tidak diterima sepenuh hati oleh masyarakat secara umum. Al-Qur’an merekam pandangan dan praktek jahiliyah mulai dari yang paling ringan yaitu bermuka masam jika disampaikan berita kelahiran anak perempuan,2 sampai kepada yang paling parah yaitu membunuh bayi-bayi perempuan.3 Terhadap hal ini Al-Qur’an mengecam keras. Kecaman-kecaman itu antara lain dimaksudkan untuk mengantar mereka agar menyadari bahwa kedua jenis kelamin anak masing-masing memiliki keistimewaan4 dan tidaklah yang satu lebih utama dari yang lain.5
Islam sangat tegas dan konsisten dalam menerapkan prinsip non-diskriminasi dalam penyelenggaraan pendidikan anak yang ditandai dengan seruan untuk berlaku adil pada anak. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan umat manusia untuk berbuat adil terhadap anak-anak: Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…(Qs. Al-Maidah:8).Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:“…..Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil…. (QS. An-Nisa’:127).
Perintah untuk berlaku adil dan tidak membeda-bedakan anak atas jenis kelaminnya juga di jelaskan dalam beberapa hadist, diantaranya:”Berbuat adillah diantara anak-anakmu, berbuat adillah diantara anak-anakmu, berbuat adillah diantara anak-anakmu” (HR. Ashabus Sunan, Imam Ahmad dan Ibnu Hibban). Perintah Rasulullah SAW kepada para orangtua untuk berbuat adil terhadap anak-anaknya dilakukan dalam semua pemberian, baik berupa pemberian harta (materi) maupun kasih sayang (immateri). Berikut perintah Nabi Muhammad SAW agar orangtua berbuat adil dalam hal pemberian (materi) terhadap anak-anaknya. Rasulullah SAW bersabda: Samakanlah diantara anak-anak kalian di dalam pemberian (HR.Thabrani).
Dalam hal pemberian kasih sayang (immateri), Nabi Muhammad SAW juga sangat menganjurkan kepada orangtua agar berlaku adil sebagaimana diriwayatkan oleh Anas, bahwa seorang laki-laki berada disisi Rasulullah SAW kemudian datanglah seorang anak laki-lakinya, lalu ia mencium dan mendudukkannya diatas pangkuannya. Setelah itu datanglah puterinya, tidak dipangku sebagaimana anak laki-lakinya, hanya didudukkan di depan Rasulullah SAW. Atas peristiwa itu Rasulullah SAW bersabda: Mengapa engkau tidak menyamakan keduanya?
Hadist ini menunjukkan bahwa perbuatan non-diskriminatif yang harus ditunjukkan oleh orang tua terhadap anak adalah adil secara keseluruhan. Perbuatan adil harus ditunjukkan dalam bentuk pemberian yang dapat dilihat oleh mata atau pemberian yang tidak dapat dilihat oleh mata seperti perwujudan kasih sayang. Apabila di dalam masyarakat muslim masih terdapat orangtua yang memandang anak wanita lebih rendah daripada anak laki, maka hal ini tentu disebabkan oleh lemahnya iman dan rapuhnya keyakinan. Disamping itu juga disebabkan oleh lingkungan sosial yang rusak yang diserap dari kebiasaan jahiliyah atau tradisi sosial tercela. Dalam hubungan ini Allah SWT berfirman:
Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehianaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketauhilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu (QS. AN-Nahl: 58-59).
Perlakuan diskriminatif terhadap anak dapat menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan kejiwaannya, yaitu munculnya penyakit kejiwaan seperti rendah diri dan hasud. Jika perlakuan tersebut berlangsung terus menerus membuat anak agresif, misalnya suka bertengkar, melukai, bahkan membunuh. Peristiwa pembunuhan Yusuf oleh saudaranya sendiri dapat dijadikan contoh itu. Dalam peristiwa ini disebutkan bahwa Bunyamin dan saudara-saudara yang lainnya makar pada Yusuf, yaitu memasukkan Yusuf ke dalam Sumur semata-mata karena saudara -saudaranya mengalami perlakuan diskriminatif dari ayahnya, Nabi Ya’kub sebagaimana diabadikan dalam al-Qur’an: (Yaitu) ketika mereka berkata: “sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata (QS. Yusuf:8).
Belajar dari pengalaman tersebut dapatlah dikatakan bahwa para orang tua, wali atau siapa saja yang diberi mandat untuk memelihara dan mendidik anak wajib menerapkan prinsip non-diskriminasi dan persamaan didalam pemberian, kecintaan, perlakuan kasih sayang kepada anak-anak, tanpa membeda-bedakan antara yang satu dengan lainnya, antara pria dan wanita. Oleh karena itu dalam pandangan legislasi ditandaskan bahwa perilaku diskriminatif terhadap anak merupakan tindakan tidak saja bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Tentu pasti, bahwa orang tua, masyarakat, pemerintah dan negara sebagai penyelenggara perlindungan anak memiliki tanggungjawab dan kewajiban untuk tidak berlaku diskriminatif dalam bentuk apapun.
Posts by : Admin
Hukuman Terhadap siswa
Hukuman secara fisik dan emosional dari guru terhadap murid merupakan hal yang lumrah terjadi di dalam sistem pendidikan di Indonesia. Banyak guru biasa mencubit, memukul anak-anak bahkan menghina mereka, baik di sekolah-sekolah negeri maupun sekolah yang berbasis keagamaan. Kadang guru tidak menyadari bahwa hal ini sebetulnya terlarang dalam hukum Indonesia. Undang-undang Perlindungan Anak No. 23, bab 54 secara tegas menyatakan bahwa guru dan siapapun lainnya di sekolah dilarang untuk memberikan hukuman fisik kepada anak-anak. Terlebih lagi Indonesia merupakan salah satu penanda tanganan dari konversi PBB untuk Hak-hak Anak, disebutkan dalam artikel 37 yang mengharuskan negara menjamin bahwa: ”Tak seorang anakpun boleh mendapatkan siksaan atau kekejaman lainnya, tindakan tidak manusiawi ataupun perlakuan yang merendahkan atau hukuman”. Meski demikian, tampaknya undang-undang tersebut belum dipahami oleh kebanyakan pelaku pendidikan, hal ini sebagaimana laporan penelitian Ibu Nur Hidayati, dkk, dari penelitian lapangan terhadap 8 Madrasah Ibtidaiyah di propinsi Riau ditemukan bahwa hukuman jasmani lumrah terjadi di semua madrasah yang dituju, dengan kisaran antara 50% - 80%, anak-anak melaporkan bahwa mereka pernah mengalami hal ini dari guru-guru mereka secara rutin.[1]
Ibarat gunung es, kasus di atas baru di permukaan. Masih banyak tindak kekerasan dalam pendidikan yang tidak tampak. Demikian rapuhnya dunia pendidikan kita, hingga aksi kekerasan dan pelanggaran HAM para pelajar, para remaja, para penerus generasi bangsa terus meningkat.
Hak Anak dalam Pendidikan
Dalam Deklarasi Universal HAM (Universal Declaration of Human Rights) Pasal 1 disebutkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Pendidikan hendaknya diselenggarakan secara bebas (biaya), sekurang-kurangnya pada tingkat dasar. Di samping itu, pendidikan dasar haruslah bersifat wajib; pendidikan keahlian dan teknik hendaknya dibuat secara umum dapat diikuti oleh peminatnya; dan pendidikan tinggi hendaknya dapat diakses secara sama bagi semua orang atas dasar kelayakan.
Dalam Pasal 2 Deklarasi HAM juga dinyatakan bahwa pendidikan hendaknya diarahkan untuk mengembangkan secara utuh kepribadian manusia dan memperkokoh penghormatan terhadap HAM dan kebebasan asasi. Pendidikan hendaknya mendorong saling pengertian, toleransi, dan persahabatan antar berbagai bangsa tanpa memandang perbedaan ras dan agama, dan hendaknya meningkatkan kegiatan PBB untuk memelihara perdamaian.
Sedangkan pada Pasal 3 disebutkan bahwa orang tua memiliki hak utama untuk menentukan jenis pendidikan yang semestinya diberikan kepada anak-anak mereka. PBB menindaklanjuti pasal-pasal ini melalui berbagai kegiatan untuk memelihara perdamaian dunia. Dengan kata lain, pendidikan damai adalah upaya menyeluruh PBB melalui proses belajar mengajar yang humanis, dan para pendidik damai yang memfasilitasi perkembangan manusia. Mereka berjuang melawan proses dehumanisasi yang ditimbulkan akibat kemiskinan, prasangka diskriminasi, perkosaan, kekerasan, dan perang.
Dalam upaya global, para pendidik berupaya memajukan pengajaran nilai, standar dan prinsip yang terwujud dalam instrumen sebagaimana Pemusnahan Semua Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on Elimination of all Form of Discrimination Against Women, CEDAW),[2]Descrimination Based on Religion or Belief).[3] Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child, CRC), dan Deklarasi Sedunia tentang Pendidikan untuk semua (Education for all).
Secara khusus dalam CRC terdapat empat prinsip dasar dalam menyelenggarakan pendidikan yang dapat memenuhi hak anak, yaitu: non-discrimination (non diskriminasi), the best interests of the child (kepentingan terbaik bagi anak), the right to life, survival and development (hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan), dan respect for the views of the child (penghargaan terhadap pendapat anak).
Pertama, Non-Discrimination. Yang dimaksud non diskriminasi adalah penyelenggaraan pendidikan anak yang bebas dari diskriminasi dalam bentuk apapun, tanpa memandang etnis, agama, jenis kelamin, ekonomi, keluarga, bahasa dan kelahiran serta kedudukan anak dalam status keluarga. Untuk mengimplementasikan prinsip ini pemerintah memiliki kewajiban untuk mengambil langkah-langkah yang layak.[4]
Kedua, The Best Interests of The Child. Yang dimaksud dengan prinsip Kepentingan Terbaik bagi Anak adalah dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan, kesejahteraan sosial pemerintah maupun swasta, lembaga peradilan, badan legislatif, dan badan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama.[5]
Ketiga, The Right to Life, Survival and Development. Yang dimaksud dengan prinsip hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan adalah hak asasi yang paling mendasar bagi anak yang harus dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orangtua.[6] Karena itulah KHA memandang pentingnya pengakuan serta jaminan dari negara bagi kelangsungan hidup dan perkembangan anak, seperti dinyatakan dalam pasal 6 ayat 1, bahwa negara-negara peserta mengakui bahwa setiap anak memilki hak yang melekat atas kehidupan (inherent right to life)”, serta ayat 2 “ negara-negara peserta secara maksimal mungkin akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan anak (survival and development of child)”.[7]
Keempat, Respect for The Views of The Child. Yang dimaksud dengan penghargaan terhadap pendapat anak adalah penghormatan atas hak-hak anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan terutama jika menyangkut hal-hal yang mempengaruhi kehidupannya.
Ibarat gunung es, kasus di atas baru di permukaan. Masih banyak tindak kekerasan dalam pendidikan yang tidak tampak. Demikian rapuhnya dunia pendidikan kita, hingga aksi kekerasan dan pelanggaran HAM para pelajar, para remaja, para penerus generasi bangsa terus meningkat.
Hak Anak dalam Pendidikan
Dalam Deklarasi Universal HAM (Universal Declaration of Human Rights) Pasal 1 disebutkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Pendidikan hendaknya diselenggarakan secara bebas (biaya), sekurang-kurangnya pada tingkat dasar. Di samping itu, pendidikan dasar haruslah bersifat wajib; pendidikan keahlian dan teknik hendaknya dibuat secara umum dapat diikuti oleh peminatnya; dan pendidikan tinggi hendaknya dapat diakses secara sama bagi semua orang atas dasar kelayakan.
Dalam Pasal 2 Deklarasi HAM juga dinyatakan bahwa pendidikan hendaknya diarahkan untuk mengembangkan secara utuh kepribadian manusia dan memperkokoh penghormatan terhadap HAM dan kebebasan asasi. Pendidikan hendaknya mendorong saling pengertian, toleransi, dan persahabatan antar berbagai bangsa tanpa memandang perbedaan ras dan agama, dan hendaknya meningkatkan kegiatan PBB untuk memelihara perdamaian.
Sedangkan pada Pasal 3 disebutkan bahwa orang tua memiliki hak utama untuk menentukan jenis pendidikan yang semestinya diberikan kepada anak-anak mereka. PBB menindaklanjuti pasal-pasal ini melalui berbagai kegiatan untuk memelihara perdamaian dunia. Dengan kata lain, pendidikan damai adalah upaya menyeluruh PBB melalui proses belajar mengajar yang humanis, dan para pendidik damai yang memfasilitasi perkembangan manusia. Mereka berjuang melawan proses dehumanisasi yang ditimbulkan akibat kemiskinan, prasangka diskriminasi, perkosaan, kekerasan, dan perang.
Dalam upaya global, para pendidik berupaya memajukan pengajaran nilai, standar dan prinsip yang terwujud dalam instrumen sebagaimana Pemusnahan Semua Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on Elimination of all Form of Discrimination Against Women, CEDAW),[2]Descrimination Based on Religion or Belief).[3] Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child, CRC), dan Deklarasi Sedunia tentang Pendidikan untuk semua (Education for all).
Secara khusus dalam CRC terdapat empat prinsip dasar dalam menyelenggarakan pendidikan yang dapat memenuhi hak anak, yaitu: non-discrimination (non diskriminasi), the best interests of the child (kepentingan terbaik bagi anak), the right to life, survival and development (hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan), dan respect for the views of the child (penghargaan terhadap pendapat anak).
Pertama, Non-Discrimination. Yang dimaksud non diskriminasi adalah penyelenggaraan pendidikan anak yang bebas dari diskriminasi dalam bentuk apapun, tanpa memandang etnis, agama, jenis kelamin, ekonomi, keluarga, bahasa dan kelahiran serta kedudukan anak dalam status keluarga. Untuk mengimplementasikan prinsip ini pemerintah memiliki kewajiban untuk mengambil langkah-langkah yang layak.[4]
Kedua, The Best Interests of The Child. Yang dimaksud dengan prinsip Kepentingan Terbaik bagi Anak adalah dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan, kesejahteraan sosial pemerintah maupun swasta, lembaga peradilan, badan legislatif, dan badan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama.[5]
Ketiga, The Right to Life, Survival and Development. Yang dimaksud dengan prinsip hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan adalah hak asasi yang paling mendasar bagi anak yang harus dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orangtua.[6] Karena itulah KHA memandang pentingnya pengakuan serta jaminan dari negara bagi kelangsungan hidup dan perkembangan anak, seperti dinyatakan dalam pasal 6 ayat 1, bahwa negara-negara peserta mengakui bahwa setiap anak memilki hak yang melekat atas kehidupan (inherent right to life)”, serta ayat 2 “ negara-negara peserta secara maksimal mungkin akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan anak (survival and development of child)”.[7]
Keempat, Respect for The Views of The Child. Yang dimaksud dengan penghargaan terhadap pendapat anak adalah penghormatan atas hak-hak anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan terutama jika menyangkut hal-hal yang mempengaruhi kehidupannya.
Posts by : Admin
Pendekatan S-T-M
Pendekatan S-T-M pada awalnya merupakan salah satu pendekatan yang ditujukan untuk pendidikan ilmu alam (natural science education). Pertama kali berkembang di Amerika Serikat, selanjutnya di Inggris dengan nama SATIS (Science Technology in Society), di Eropa dikembangkan EU-SATIS. Sedangkan di Israel dengan istilah (Science Technology Environment Society) dan di negara-negara Afrika dengan nama Science Policy. Sedangkan istilah Sains-Teknologi-Masyarakat (S-T-M atau SATEMAS) sendiri pertama kali dikemukakan oleh John Ziman dalam bukunya Teaching and Learning About Science and Society.
Sains dan teknologi dalam kehidupan masyarakat khususnya dunia pendidikan mempunyai hubungan yang erat. Hal ini dapat dipahami karena ilmu pengetahuan pada dasarnya menjelaskan tentang konsep. Sedangkan teknologi merupakan suatu seni/keterampilan sebagai perwujudan dari konsep yang telah dipelajari dan dipahami. Dengan kata lain untuk memahami sains dan teknologi berarti harus memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah dengan menggunakan konsep-konsep ilmu, mengenal teknologi yang ada di masyarakat serta dampaknya, mampu menggunakan dan memelihara hasil teknologi, kreatif membuat hasil teknologi sederhana, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakatnya.
Hubungan saling mempengaruhi dan ketergantungan antara sains, teknologi dan masyarakat dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar1. Hubungan antara Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Masyarakat
Diadaptasi dari Hungerford dalam Fajar.
Definisi S-T-M menurut The National Science Teachers Association (NSTA) adalah belajar dan mengajar sains dalam konteks pengalaman manusia. Sedangkan Poedjiadi (2005:47) mengatakan bahwa pembelajaran S-T-M berarti menggunakan teknologi sebagai penghubung antara sains dan masyarakat.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Pendekatan S-T-M merupakan suatu strategi pembelajaran yang memadukan pemahaman dan pemanfaatan sains, teknologi dan masyarakat dengan tujuan agar konsep sains dapat diaplikasikan melalui keterampilan yang bermanfaat bagi peserta didik dan masyarakat.
Menurut Fajar (2003:108), mengemukakan pada umumnya S-T-M memiliki karakteristik/ciri-ciri sebagai berikut:
a. Identifikasi masalah-masalah setempat yang memiliki kepentingan dan dampak.
b. Penggunaan sumber daya setempat (manusia, benda, lingkungan) untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah.
c. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.
d. Perpanjangan belajar di luar kelas dan sekolah.
e. Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap siswa.
f. Suatu pandangan bahwa isi dari pada sains bukan hanya konsep-konsep saja yang harus dikuasai siswa dalam tes.
g. Penekanan pada keterampilan proses dimana siswa dapat menggunakannya dalam memecahkan masalah.
h. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi.
i. Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga negara dimana ia mencoba untuk memecahkan isu-isu yang telah diidentiflkasikan.
j. Identifikasi sejauhmana sains dan teknologi berdampak di masa depan.
k. Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.
Dari karakteristik S-T-M yang dikemukakan Yager, dapat dikatakan bahwa pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan S-T-M diawali dengan isu dan isu itulah yang merupakan ciri utamanya. Karena dengan mengemukakan isu mendorong peserta didik untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah yang diakibatkan oleh isu tersebut. Dalam memecahkan masalah peserta didik akan mencari informasi dari berbagai sumber, bukan hanya di dalam kelas melainkan di luar kelas dengan menggunakan berbagai cara termasuk memanfaatkan teknologi. Dengan demikian peserta didik belajar menemukan dan menyusun sendiri pengetahuan yang diperolehnya dari proses belajar yang dilakukannya. Selain itu proses belajar juga merupakan kesempatan bagi peserta didik untuk dapat berpartisipasi sebagai warga negara.
Sains dan teknologi dalam kehidupan masyarakat khususnya dunia pendidikan mempunyai hubungan yang erat. Hal ini dapat dipahami karena ilmu pengetahuan pada dasarnya menjelaskan tentang konsep. Sedangkan teknologi merupakan suatu seni/keterampilan sebagai perwujudan dari konsep yang telah dipelajari dan dipahami. Dengan kata lain untuk memahami sains dan teknologi berarti harus memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah dengan menggunakan konsep-konsep ilmu, mengenal teknologi yang ada di masyarakat serta dampaknya, mampu menggunakan dan memelihara hasil teknologi, kreatif membuat hasil teknologi sederhana, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakatnya.
Hubungan saling mempengaruhi dan ketergantungan antara sains, teknologi dan masyarakat dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar1. Hubungan antara Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Masyarakat
Diadaptasi dari Hungerford dalam Fajar.
Definisi S-T-M menurut The National Science Teachers Association (NSTA) adalah belajar dan mengajar sains dalam konteks pengalaman manusia. Sedangkan Poedjiadi (2005:47) mengatakan bahwa pembelajaran S-T-M berarti menggunakan teknologi sebagai penghubung antara sains dan masyarakat.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Pendekatan S-T-M merupakan suatu strategi pembelajaran yang memadukan pemahaman dan pemanfaatan sains, teknologi dan masyarakat dengan tujuan agar konsep sains dapat diaplikasikan melalui keterampilan yang bermanfaat bagi peserta didik dan masyarakat.
Menurut Fajar (2003:108), mengemukakan pada umumnya S-T-M memiliki karakteristik/ciri-ciri sebagai berikut:
a. Identifikasi masalah-masalah setempat yang memiliki kepentingan dan dampak.
b. Penggunaan sumber daya setempat (manusia, benda, lingkungan) untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah.
c. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.
d. Perpanjangan belajar di luar kelas dan sekolah.
e. Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap siswa.
f. Suatu pandangan bahwa isi dari pada sains bukan hanya konsep-konsep saja yang harus dikuasai siswa dalam tes.
g. Penekanan pada keterampilan proses dimana siswa dapat menggunakannya dalam memecahkan masalah.
h. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi.
i. Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga negara dimana ia mencoba untuk memecahkan isu-isu yang telah diidentiflkasikan.
j. Identifikasi sejauhmana sains dan teknologi berdampak di masa depan.
k. Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.
Dari karakteristik S-T-M yang dikemukakan Yager, dapat dikatakan bahwa pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan S-T-M diawali dengan isu dan isu itulah yang merupakan ciri utamanya. Karena dengan mengemukakan isu mendorong peserta didik untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah yang diakibatkan oleh isu tersebut. Dalam memecahkan masalah peserta didik akan mencari informasi dari berbagai sumber, bukan hanya di dalam kelas melainkan di luar kelas dengan menggunakan berbagai cara termasuk memanfaatkan teknologi. Dengan demikian peserta didik belajar menemukan dan menyusun sendiri pengetahuan yang diperolehnya dari proses belajar yang dilakukannya. Selain itu proses belajar juga merupakan kesempatan bagi peserta didik untuk dapat berpartisipasi sebagai warga negara.
Posts by : Admin
Jenis – jenis Bimbingan dan Konseling
Bimbingan konseling lebih inten dilakukan pada siswa menengah pertama dan tingkat atas, terkadang peranan bimbingan konseling di Sekolah Dasar tidak begitu di dokumentasikan, ya mungkin ada beberapa saja guru yang menggunakan. padahal bimbingan konseling bermacam-macam jenis dan penanganan. berikut jenis-jenis bimbingan konseling di sekolah.
Bimbingan akademik
Bertujuan:
1. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif.
2. Memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat
3. Memiliki keterampilan belajar yang efektif.
4. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan belajar/pendidikan.
5. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
6. Memiliki keterampilan membaca buku.
Bimbingan pribadi/social
Bertujuan:
1. Mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME.
2. Memiliki pemahaman ttg irama kehidupan yg bersifat fluktuatif (antara anugrah dan musibah) dan mampu meresponnya dg positif.
3. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif
4. Memiliki sikap respek thd diri sendiri
5. Dapat mengelola stress
6. Mampu mengendalikan diri dari perbuatan yang diharamkan agama
7. Memahami perasaan diri dan mampu mengekspresikannya secara wajar
8. Memiliki kemampuan memecahkan masalh
9. Memiliki rasa percaya diri
10. Memiliki mental yang sehat
Bimbingan karier
Bertujuan:
1. Memiliki pemahaman tentang sekolah-sekolah lanjutan.
2. Memiliki pemahaman bahwa studi merupakan investasi untuk meraih masa depan.
3. Memiliki pemahaman tentang kaitan belajar dengan bekerja.
4. Memiliki pemahaman tentang minat dan kemampuan diri yang terkait dengan pekerjaan.
5. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir.
6. Memiliki sikap positif terhadap pekerjaan.
7. Memiliki sikap optimis dalam menghadapi masa depan.
8. Memiliki kemauan untuk meningkatkan kemampuan yang terkait dg pekerjaan.
Bimbingan keluarga
Bertujuan:
1. Memiliki sikap pemimpin dalam keluarga
2. Mampu memberdayakan diri secara produktif
3. Mampu menyesuaikan diri dengan norma yang ada dalam keluarga
4. Mampu berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.
Tujuan diberikannya layanan Bimbingan dan Konseling
1. Menghayati nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam berperilaku
2. Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek nilai dan berani menghadapi resiko.
3. Memiliki kemampuan mengendalikan diri (self-control) dalam mengekspresikan emosi atau dalam memenuhi kebutuhan diri.
4. Mampu memecahkan masalah secara wajar dan objektif.
5. Memelihara nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalamberinteraksi dengan orang lain.
6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kodrati laki-laki atau perempuan sebagai dasar dalam kehidupan sosial
7. Mengembangkan potensi diri melalui berbagai aktivitas yang positif
8. Memperkaya strategi dan mencari peluang dalam berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompetitif.
9. Mengembangkan dan memelihara penguasaan perilaku, nilai, dan kompetensi yang mendukung pilihan karir.
10. Meyakini nilai-nilai yg terkandung dalam pernikahan dan berkeluarga sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat yg bermartabat.
Bimbingan akademik
Bertujuan:
1. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif.
2. Memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat
3. Memiliki keterampilan belajar yang efektif.
4. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan belajar/pendidikan.
5. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
6. Memiliki keterampilan membaca buku.
Bimbingan pribadi/social
Bertujuan:
1. Mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME.
2. Memiliki pemahaman ttg irama kehidupan yg bersifat fluktuatif (antara anugrah dan musibah) dan mampu meresponnya dg positif.
3. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif
4. Memiliki sikap respek thd diri sendiri
5. Dapat mengelola stress
6. Mampu mengendalikan diri dari perbuatan yang diharamkan agama
7. Memahami perasaan diri dan mampu mengekspresikannya secara wajar
8. Memiliki kemampuan memecahkan masalh
9. Memiliki rasa percaya diri
10. Memiliki mental yang sehat
Bimbingan karier
Bertujuan:
1. Memiliki pemahaman tentang sekolah-sekolah lanjutan.
2. Memiliki pemahaman bahwa studi merupakan investasi untuk meraih masa depan.
3. Memiliki pemahaman tentang kaitan belajar dengan bekerja.
4. Memiliki pemahaman tentang minat dan kemampuan diri yang terkait dengan pekerjaan.
5. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir.
6. Memiliki sikap positif terhadap pekerjaan.
7. Memiliki sikap optimis dalam menghadapi masa depan.
8. Memiliki kemauan untuk meningkatkan kemampuan yang terkait dg pekerjaan.
Bimbingan keluarga
Bertujuan:
1. Memiliki sikap pemimpin dalam keluarga
2. Mampu memberdayakan diri secara produktif
3. Mampu menyesuaikan diri dengan norma yang ada dalam keluarga
4. Mampu berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.
Tujuan diberikannya layanan Bimbingan dan Konseling
1. Menghayati nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam berperilaku
2. Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek nilai dan berani menghadapi resiko.
3. Memiliki kemampuan mengendalikan diri (self-control) dalam mengekspresikan emosi atau dalam memenuhi kebutuhan diri.
4. Mampu memecahkan masalah secara wajar dan objektif.
5. Memelihara nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalamberinteraksi dengan orang lain.
6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kodrati laki-laki atau perempuan sebagai dasar dalam kehidupan sosial
7. Mengembangkan potensi diri melalui berbagai aktivitas yang positif
8. Memperkaya strategi dan mencari peluang dalam berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompetitif.
9. Mengembangkan dan memelihara penguasaan perilaku, nilai, dan kompetensi yang mendukung pilihan karir.
10. Meyakini nilai-nilai yg terkandung dalam pernikahan dan berkeluarga sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat yg bermartabat.
Posts by : Admin
Transisi Peralihan Pendidikan
Pra Sekolah Dasar banyak yang perlu difikirkan dan dicermati, ketika siswa baru mengapa ? karena murid baru pada siswa kelas 1 Sekolah dasar merupakan jenjang kelas transisi atau peralihan dari jenjang pendidikan prasekolah/PAUD kepada jenjang pendidikan sekolah/akademik yang menuntut peserta didiknya memiliki performance Kesiapan Belajar yang baik. Namun seringkali Kesiapan Belajar ini menjadi kendala yang berarti manakala jenjang pendidikan sebelumnya (prasekolah/PAUD) belum mampu memapankan performance Kesiapan Belajar peserta didiknya yang telah menamatkan program belajarnya. Selain itu Kesiapan Belajar menjadi masalah manakala kemampuan adaptasi belajar anak cukup rendah. Dan akhirnya terbawa menjadi masalah sehari-hari dalam kegiatan belajar di sekolah. Kemampuan berhitung dasar merupakan salah satu komponen kesiapan belajar yang amat penting, selain itu berhitung dasar dalam mata pelajaran matematika juga menjadi materi yang strategis untuk menyiapkan kemampuan awal akademik anak. Hanya saja permasalahan yang ada di lapangan adalah jumlah anak yang belum memiliki keterampilan berhitung dasar masih cukup tinggi.
sesuatu ang perlu digambarkan strategi yang dilakaukan guru ketika siswa tidak tertarik untuk mengikuti pembelajaran matematika. Solusi yang ditawarkan dalam program ini adalah Membuka percakapan sederhana tentang sesuatu yang sempat teramati oleh siswa, mengajak siswa untuk mengeksplorasi dengan membilang yang ada di lingkungan sekitar, memberikan pula contoh langsung oleh guru dengan benda/sesuatu yang telah disiapkan dan meminta siswa melakukan hal yang sama. Dan Terakhir adalah memberi penguatan ketika mereka memberi respons terhadap apa yang kita contohkan.
dan guru terkadang mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatian siswa terhadap materi yang diajarkan. Solusi yang ditawarkan adalah dengan menggunakan alat peraga yang menarik. Siswa dialihkan dan arahkan perhatiannya pada alat peraga yang digunakan guru dalam mengajar. Selain itu siswa diajak mengeksplorasi dengan alat peraga yang disiapkan guru dengan cara meraba atau menggunakan langsung dan terakhir siswa diminta mengekspresikan kegembiraan selama kegiatan tersebut berlangsung yang dilakukan secara verbal
sesuatu ang perlu digambarkan strategi yang dilakaukan guru ketika siswa tidak tertarik untuk mengikuti pembelajaran matematika. Solusi yang ditawarkan dalam program ini adalah Membuka percakapan sederhana tentang sesuatu yang sempat teramati oleh siswa, mengajak siswa untuk mengeksplorasi dengan membilang yang ada di lingkungan sekitar, memberikan pula contoh langsung oleh guru dengan benda/sesuatu yang telah disiapkan dan meminta siswa melakukan hal yang sama. Dan Terakhir adalah memberi penguatan ketika mereka memberi respons terhadap apa yang kita contohkan.
dan guru terkadang mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatian siswa terhadap materi yang diajarkan. Solusi yang ditawarkan adalah dengan menggunakan alat peraga yang menarik. Siswa dialihkan dan arahkan perhatiannya pada alat peraga yang digunakan guru dalam mengajar. Selain itu siswa diajak mengeksplorasi dengan alat peraga yang disiapkan guru dengan cara meraba atau menggunakan langsung dan terakhir siswa diminta mengekspresikan kegembiraan selama kegiatan tersebut berlangsung yang dilakukan secara verbal
Posts by : Admin
BAGAIMANA MENJADI BELAJAR TIDAK TERLUPAKAN
BAGAIMANA MENJADI BELAJAR TIDAK TERLUPAKAN "Sebagian guru mengajar hingga batas akhir masa sekolah, semester, atau bidang studi. Mereka mungkin beranggapan bahwa pada saat-saat akhir mereka dapat menjejalkan lebih banyak informasi dan menyelesaikan topik dan materi yang niasih dalam agenda mereka.
kia-kira bagaimana menjadi belajar yang tidak dapat terlupakan.
Makna dari "menyelesaikan" matapelajaran masih perlu dipertanyakan, karena adakalanya guru hanya sekadar menyelesaikan materi yang masih tersisa. Memaksakan diri untuk mengajar hingga batas akhir seringkali berakibat pada terjadinya pengajaran yang tidak tertata, ada yang terlewatkan. atau ada yang masih belum jelas. Sebaliknya, bila kegiatan belajar bersifat aktif, ada peluang untuk terjadinya pemahaman. Bila kita menyediakan waktu untuk memantapkan apa yang telah dipelajari, maka ada peluang untuk terjadinya pengingatan.
Pikirkanlah apa yang terjadi bila anda bekerja keras menggunakan komputer, mencari informasi, memecahkan masalah. dan menyusun konsep namun, anda lupa menyimpan hasil pekerjaan anda. Tentu saja, semua pekerjaan anda akan hilang sia-sia. Demikian pula, hasil pembelajaran dapat menghilang bila siswa tidak diberi kesempatan untuk menyimpannya.
Di samping menyimpan apa yang lelah dipelajari, penting pula untuk menikmatinya. Seperti halnya pengalaman, pembelajaran akan dapat dinikmati bila ada kesempatan untuk mengingatnya dan memberinya sentuhan akhir yang menyentuh perasaan. Sebagaimana yang telah kita bicarakan tentang "hidangan pembuka" dan "entri" dari kegiatan belajar aktif, sekarang yang akan kita bahas adalah "hidangan penutup."
Ada banyak tindakan positif yang bisa kita ambil untuk menciptakan penutup mata pelajaran yang bermakna dan, barangkali, tak terlupakan. Di bagian ini kami akan mernbahasnya dalam empat kategori.
1. Strategi Peninjauan Kembali: Bagian ini membahas cara-cara untuk membantu siswa mengingat apa yang telah mereka pelajari dan menguji pengetahuan dan kemampuan mereka yang sekarang. Anda akan menjumpai strategi peninjauan kembali yang menarik bagi siswa dan membantu "menyimpan" pembelajaran yang telah mereka terima.
2. Penilaian-Sendiri: Bagian ini membahas cara-cara untuk membantu siswa menilai apa yang kini mereka ketahui, apa yang kini dapat mereka kerjakan, dan sikap apa yang sekarang mereka pegang. Anda akan menjum¬pai strategi penilaian yang membantu siswa mengevaluasi kemajuan mereka.
3. Perencanaan Masa Depan: Bagian ini membahas cara-cara untuk membantu siswa mempertimbangkan apa yang akan mereka lakukan dalam rangka menerapkan hal-hal yang telah mereka pelajari. Anda akan mendapati strategi perencanaan masa depan yang menghadapkan siswa pada fakta bahwa kegiatan belajar mereka tidak berhenti di ruang kelas.
4. Ucapan perpisahan: Bagian ini membahas cara-cara untuk membantu siswa mengenang pengalaman mereka bersama-sama dan mengungkapkan apresiasi mereka. Anda akan mendapati strategi-strategi yang membantu menghadirkan bagian penutup pelajaran yang memungkinkan siswa untuk mengucapkan perpisahan.
kia-kira bagaimana menjadi belajar yang tidak dapat terlupakan.
Makna dari "menyelesaikan" matapelajaran masih perlu dipertanyakan, karena adakalanya guru hanya sekadar menyelesaikan materi yang masih tersisa. Memaksakan diri untuk mengajar hingga batas akhir seringkali berakibat pada terjadinya pengajaran yang tidak tertata, ada yang terlewatkan. atau ada yang masih belum jelas. Sebaliknya, bila kegiatan belajar bersifat aktif, ada peluang untuk terjadinya pemahaman. Bila kita menyediakan waktu untuk memantapkan apa yang telah dipelajari, maka ada peluang untuk terjadinya pengingatan.
Pikirkanlah apa yang terjadi bila anda bekerja keras menggunakan komputer, mencari informasi, memecahkan masalah. dan menyusun konsep namun, anda lupa menyimpan hasil pekerjaan anda. Tentu saja, semua pekerjaan anda akan hilang sia-sia. Demikian pula, hasil pembelajaran dapat menghilang bila siswa tidak diberi kesempatan untuk menyimpannya.
Di samping menyimpan apa yang lelah dipelajari, penting pula untuk menikmatinya. Seperti halnya pengalaman, pembelajaran akan dapat dinikmati bila ada kesempatan untuk mengingatnya dan memberinya sentuhan akhir yang menyentuh perasaan. Sebagaimana yang telah kita bicarakan tentang "hidangan pembuka" dan "entri" dari kegiatan belajar aktif, sekarang yang akan kita bahas adalah "hidangan penutup."
Ada banyak tindakan positif yang bisa kita ambil untuk menciptakan penutup mata pelajaran yang bermakna dan, barangkali, tak terlupakan. Di bagian ini kami akan mernbahasnya dalam empat kategori.
1. Strategi Peninjauan Kembali: Bagian ini membahas cara-cara untuk membantu siswa mengingat apa yang telah mereka pelajari dan menguji pengetahuan dan kemampuan mereka yang sekarang. Anda akan menjumpai strategi peninjauan kembali yang menarik bagi siswa dan membantu "menyimpan" pembelajaran yang telah mereka terima.
2. Penilaian-Sendiri: Bagian ini membahas cara-cara untuk membantu siswa menilai apa yang kini mereka ketahui, apa yang kini dapat mereka kerjakan, dan sikap apa yang sekarang mereka pegang. Anda akan menjum¬pai strategi penilaian yang membantu siswa mengevaluasi kemajuan mereka.
3. Perencanaan Masa Depan: Bagian ini membahas cara-cara untuk membantu siswa mempertimbangkan apa yang akan mereka lakukan dalam rangka menerapkan hal-hal yang telah mereka pelajari. Anda akan mendapati strategi perencanaan masa depan yang menghadapkan siswa pada fakta bahwa kegiatan belajar mereka tidak berhenti di ruang kelas.
4. Ucapan perpisahan: Bagian ini membahas cara-cara untuk membantu siswa mengenang pengalaman mereka bersama-sama dan mengungkapkan apresiasi mereka. Anda akan mendapati strategi-strategi yang membantu menghadirkan bagian penutup pelajaran yang memungkinkan siswa untuk mengucapkan perpisahan.
Posts by : Admin
Karakter seperti apa yang sekolah harapkan?
“Bagaimana mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pendidikan karakter direncanakan dan dilaksanakan?” agar pendidikan karakter terlaksana efektif. Untuk memenuhi harapan itu, saya menggugah peserta pelatihan dengan pertanyaan “Sekolah ini berkehendak memfasilitasi siswa memiliki karakter seperti apa?”
Menjawab pertanyaan itu, para guru menyatakan bahwa sekolahnya diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang beriman, bertaqwa, berahlak mulia, jujur, sabar, percaya diri…..dan banyak lagi.
Pertanyaan dilanjutkan, apakah hal itu telah ditulis dalam rencana kerja sekolah atau dalam dokumen satu KTSP sebagai sasaran program pembinaan karakater siswa? Menjawab pertanyaan ini teman-teman tersenyum sebelum menyatakan “belum”. Jadi pada hari itu, di kesadari bahwa sekolah telah menugaskan kepada guru-guru untuk meningkatkan mutu pendidikan berkarakter, namun sekolah belum memasukkan program pengembangan karakter secara tertulis baik dalam program tahunan maupun dalam dokumen satu KTSP.
Pendidikan karakter melekat kewajiban sekolah sebagai sistem. Pada sistem ini terdapat tugas lembaga, kepala sekolah, guru-guru, dan siswa. Pada semua komponen itu tugas itu dibebankan.
Sekolah, dalam hal ini menjadi tanggung jawab kepala sekolah memiliki kewajiban untuk menetapkan kebijakan sekolah tentang karakter yang disepakati sebagai target yang hendak sekolah wujudkan. Misalnya, sekolah berkehendak agar lulusan sekolahnya memiliki karakter enam karakter utama, yaitu (1) berahlak mulia, (2) berisiplin (3) bersikap terbuka, (4) memiliki kesadaran sosial yang tinggi (5) ramah (6) memiliki stabilitas emosi yang tinggi (7) selalu ingin tahu (8) penuh percaya diri.
Sungguh, semua karakter tersebut dalam kehidupan nyata di sekolah mudah kita kenali, mudah kita lihat. Lebih dari itu, pada guru bisa mengenali siswa mana saja yang memiliki karakter seperti itu. Namun ketika langkah pengenalan atau identifikasi dan menuliskannya secara sistematis, maka proses itu bukan langkah mudah. Namun demikian, karena guru memerlukan indikator yang spesifik sebagai bahan perumusan indikator belajar, maka mau tak mau sekolah perlu menganalisis setiap karakter ke dalam indikator yang terukur, teramati dalam prilaku, dan dapat dikembangkan secara bertahap sampai pada akhirnya semua indikator itu melekat menjadi karakter kompleks pada penampilan pribadi siswa.
Indikator yang sekolah tetapkan secara sistematis sebenarnya menjadi target yang hendak sekolah wujudkan, namun karena prosesnya dilakukan secara bertahap, maka target harus diurai dalam banyak indikator yang akan menjadi dasar menyusun program pembelajaran. Indikator ahlak mulia, misalnya, dapat dikembangkan dalam prilaku seperti di bawah ini.
* Kebersihan diri : bersih kuku, bersih tangan, bersih badan, bersih pakaian, dsb.
* Sehat sosial : ramah, menghargai orang, menghargai pendapat yang berbeda
* Ramah lingkungan; partisipatif dalam membangun kebersihan kelas, berdisiplin dalam ngelola sampah dan seterusnya …..semuanya sekolah yang menentukan.
Beberapa contoh di atas tentu harus menjadi produk kesepakatan antara kepala sekolah dengan dewan pendidik, ditulis dalam dokumen program, dan dilaksanakan, dan dievaluasi pencapainnya.
Bagaimana karakter terbentuk?
Pendidikan karakter akan berhasil efektif jika didukung dengan tujuan yang dirumuskan dengan jelas, target yang terukur, pelaksanaan yang terpantau efektivitasnya, dan evaluasi yang terlaksana secara berkala dan berkelanjutan sehingga menghasilkan data perkembangan karakter siswa.
Pengembangan karakter siswa hendaknya tidak dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Semuanya harus terintegrasi sebagai proses perkembangan mental yang tidak terlepas dari pembawaan seseorang dengan pengaruh dari lingkungan.
Bagaimana merencanakan pendidikan karakter?
Merumuskan bentuk karakter yang diharapkan merupakan fokus utama perencanaan. Indikator yang diharapkan perlu dideskripsikan dalam program sekolah. Langkah berikutnya adalah menentukan strategi untuk mewujudkannya.
Dengan adanya rumusan yang jelas pada tingkat sekolah akan memperjelas tugas kepala sekolah, guru, hingga siswa. Terdapat contoh yang menarik ketika satu sekolah menetapkan sholat duha menjadi salah satu kewajiban yang harus siswa lakukan dalam meningkatkan pembiasaan. Pada saat kegiatan dilakukan hanya siswa yang dianjurkan, guru-guru tidak melakukannya.
Pada kasus lain, sering terjadi sekolah meningkatkan disiplin siswa, mengawasi siswa untuk patuh pada aturan. Sekolah berusaha untuk meningkatkan kebiasaan membaca dan menulis. Berusaha meningkatkan kebiasaan tepat waktu. Hal-hal semacam ini sering terkendala dengan kesulitan sekolah meningkatkan komitmen guru mematuhi aturan sekolah sehingga dapat menjadi teladan para siswa.
Menegakkan kepatuhan guru dan siswa terhadap aturan yang ditetakan bersama memerlukan sistem kontrol yang baik. Di SMAN 4 Denpasar, dalam setiap usaha pengembangan karakter dibicarakan terlebih dahulu dalam forum guru dan dalam forum organisasi siswa secara terpisah. Setelah semua pihak mendapat informasi yang jelas tentang kegiatan, tujuan, target, strategi pelaksanaan, dan evaluasi keterlaksanaan maka suatu program dapat dimulai.
Kegiatan selanjutnya guru-guru memantau perkebangan siswa. Sebaliknya siswa melakukan hal yang sama, menilai dukungan guru. Jika ada hal yang belum memenuhi harapan mereka, maka para siswa melakukan pertemuan berkala dengan pimpinan manajemen sekolah untuk menyampaikan hasil evaluasinya.
Dalam forum kerja pendidik dibahas keunggulan, kelemahan, serta hasil analisis kinerja guru menurut para siswa. Sebaliknya dalam forum siswa dibahas pula kinerja siswa menurut pandangan para guru dan menurut mereka sendiri. Dalam forum ini mereka jaga betul agar para siswa tetap dapat menempatkan penghormatan kepada guru sebagai sasaran pendidikan yang utama. Oleh karena itu pembahasan kinerja tidak diarahkan pada pembahasan kelemahan orang per orang melainkan kondisi yang belum memenuhi harapan.
Tanggung jawab mengurus diri, mengelola pakaian, mengenakan pakaian, berjalan, dan berinteraksi mendapat pengawasan dari waktu ke waktu sehingga sekolah yakin bahwa karakter siswa terbentuk dan memenuhi kriteria calon pemimpin bangsa.
Contoh itu menunjukkan bahwa pembentukan karakter melalui peningkatan peran sekolah terutama dalam membentuk kepatuhan dan budaya tertentu di sekolah memegang kendali utama. Sekolah yang kurang memperhatikan sistem pembinaan pada tingkat sekolah dan lebih mengandalkan pada peran guru melalui pelaksanaan pembelajaran hanya akan menghasilan karakter siswa yang biasa-biasa saja.
Pembentukan Karakter dalam Kegiatan Pembelajaran
Pembentukan karakter melalui kegiatan pembelajaran perlu dimulai dari perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP). Lebih spesifik karakter yang hendak dikembangkan dapat dinyatakan secara eksplisit dalam tujuan pebelajaran.
Jika bentuk karakter dinyatakan secara eksplisit dalam tujuan, maka guru harus mengevaluasinya secara eksplisit pula. Oleh karena itu, dalam setiap kegiatan pembelajaran guru perlu menetapkan karakter yang sesuai dengan mater pelajaran dan strategi pembelajaran.
Namun demikian jika karakter yang hendak dikembangkan seperti kejujuran, disiplin waktu, sifat selalu ingin tahu, sikap percaya diri, keterbukaan, inovatif, kreatif dapat diintegrasikan dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari pada tiap saat. Yang diperlukan adalah kesadaran guru untuk selalu menaruh perhatian terhadap karakter yang ingin dikuatkan pada saat pemebeljaran berlangsung.
Pernyatan menegaskan bahwa belajar bukan cuma mendapatkan ilmu pengetahuan, namun juga bagaimana dapat menerapkan ilmu pengetahuan itu dalam bentuk karya yang mencerminkan keterampilan dan meningkatkan sikap yang semakin mencerminkan kedewasaan hidup seseorang (sumber gurupembaharu.com)
Menjawab pertanyaan itu, para guru menyatakan bahwa sekolahnya diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang beriman, bertaqwa, berahlak mulia, jujur, sabar, percaya diri…..dan banyak lagi.
Pertanyaan dilanjutkan, apakah hal itu telah ditulis dalam rencana kerja sekolah atau dalam dokumen satu KTSP sebagai sasaran program pembinaan karakater siswa? Menjawab pertanyaan ini teman-teman tersenyum sebelum menyatakan “belum”. Jadi pada hari itu, di kesadari bahwa sekolah telah menugaskan kepada guru-guru untuk meningkatkan mutu pendidikan berkarakter, namun sekolah belum memasukkan program pengembangan karakter secara tertulis baik dalam program tahunan maupun dalam dokumen satu KTSP.
Pendidikan karakter melekat kewajiban sekolah sebagai sistem. Pada sistem ini terdapat tugas lembaga, kepala sekolah, guru-guru, dan siswa. Pada semua komponen itu tugas itu dibebankan.
Sekolah, dalam hal ini menjadi tanggung jawab kepala sekolah memiliki kewajiban untuk menetapkan kebijakan sekolah tentang karakter yang disepakati sebagai target yang hendak sekolah wujudkan. Misalnya, sekolah berkehendak agar lulusan sekolahnya memiliki karakter enam karakter utama, yaitu (1) berahlak mulia, (2) berisiplin (3) bersikap terbuka, (4) memiliki kesadaran sosial yang tinggi (5) ramah (6) memiliki stabilitas emosi yang tinggi (7) selalu ingin tahu (8) penuh percaya diri.
Sungguh, semua karakter tersebut dalam kehidupan nyata di sekolah mudah kita kenali, mudah kita lihat. Lebih dari itu, pada guru bisa mengenali siswa mana saja yang memiliki karakter seperti itu. Namun ketika langkah pengenalan atau identifikasi dan menuliskannya secara sistematis, maka proses itu bukan langkah mudah. Namun demikian, karena guru memerlukan indikator yang spesifik sebagai bahan perumusan indikator belajar, maka mau tak mau sekolah perlu menganalisis setiap karakter ke dalam indikator yang terukur, teramati dalam prilaku, dan dapat dikembangkan secara bertahap sampai pada akhirnya semua indikator itu melekat menjadi karakter kompleks pada penampilan pribadi siswa.
Indikator yang sekolah tetapkan secara sistematis sebenarnya menjadi target yang hendak sekolah wujudkan, namun karena prosesnya dilakukan secara bertahap, maka target harus diurai dalam banyak indikator yang akan menjadi dasar menyusun program pembelajaran. Indikator ahlak mulia, misalnya, dapat dikembangkan dalam prilaku seperti di bawah ini.
* Kebersihan diri : bersih kuku, bersih tangan, bersih badan, bersih pakaian, dsb.
* Sehat sosial : ramah, menghargai orang, menghargai pendapat yang berbeda
* Ramah lingkungan; partisipatif dalam membangun kebersihan kelas, berdisiplin dalam ngelola sampah dan seterusnya …..semuanya sekolah yang menentukan.
Beberapa contoh di atas tentu harus menjadi produk kesepakatan antara kepala sekolah dengan dewan pendidik, ditulis dalam dokumen program, dan dilaksanakan, dan dievaluasi pencapainnya.
Bagaimana karakter terbentuk?
Pendidikan karakter akan berhasil efektif jika didukung dengan tujuan yang dirumuskan dengan jelas, target yang terukur, pelaksanaan yang terpantau efektivitasnya, dan evaluasi yang terlaksana secara berkala dan berkelanjutan sehingga menghasilkan data perkembangan karakter siswa.
Pengembangan karakter siswa hendaknya tidak dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Semuanya harus terintegrasi sebagai proses perkembangan mental yang tidak terlepas dari pembawaan seseorang dengan pengaruh dari lingkungan.
Bagaimana merencanakan pendidikan karakter?
Merumuskan bentuk karakter yang diharapkan merupakan fokus utama perencanaan. Indikator yang diharapkan perlu dideskripsikan dalam program sekolah. Langkah berikutnya adalah menentukan strategi untuk mewujudkannya.
Dengan adanya rumusan yang jelas pada tingkat sekolah akan memperjelas tugas kepala sekolah, guru, hingga siswa. Terdapat contoh yang menarik ketika satu sekolah menetapkan sholat duha menjadi salah satu kewajiban yang harus siswa lakukan dalam meningkatkan pembiasaan. Pada saat kegiatan dilakukan hanya siswa yang dianjurkan, guru-guru tidak melakukannya.
Pada kasus lain, sering terjadi sekolah meningkatkan disiplin siswa, mengawasi siswa untuk patuh pada aturan. Sekolah berusaha untuk meningkatkan kebiasaan membaca dan menulis. Berusaha meningkatkan kebiasaan tepat waktu. Hal-hal semacam ini sering terkendala dengan kesulitan sekolah meningkatkan komitmen guru mematuhi aturan sekolah sehingga dapat menjadi teladan para siswa.
Menegakkan kepatuhan guru dan siswa terhadap aturan yang ditetakan bersama memerlukan sistem kontrol yang baik. Di SMAN 4 Denpasar, dalam setiap usaha pengembangan karakter dibicarakan terlebih dahulu dalam forum guru dan dalam forum organisasi siswa secara terpisah. Setelah semua pihak mendapat informasi yang jelas tentang kegiatan, tujuan, target, strategi pelaksanaan, dan evaluasi keterlaksanaan maka suatu program dapat dimulai.
Kegiatan selanjutnya guru-guru memantau perkebangan siswa. Sebaliknya siswa melakukan hal yang sama, menilai dukungan guru. Jika ada hal yang belum memenuhi harapan mereka, maka para siswa melakukan pertemuan berkala dengan pimpinan manajemen sekolah untuk menyampaikan hasil evaluasinya.
Dalam forum kerja pendidik dibahas keunggulan, kelemahan, serta hasil analisis kinerja guru menurut para siswa. Sebaliknya dalam forum siswa dibahas pula kinerja siswa menurut pandangan para guru dan menurut mereka sendiri. Dalam forum ini mereka jaga betul agar para siswa tetap dapat menempatkan penghormatan kepada guru sebagai sasaran pendidikan yang utama. Oleh karena itu pembahasan kinerja tidak diarahkan pada pembahasan kelemahan orang per orang melainkan kondisi yang belum memenuhi harapan.
Tanggung jawab mengurus diri, mengelola pakaian, mengenakan pakaian, berjalan, dan berinteraksi mendapat pengawasan dari waktu ke waktu sehingga sekolah yakin bahwa karakter siswa terbentuk dan memenuhi kriteria calon pemimpin bangsa.
Contoh itu menunjukkan bahwa pembentukan karakter melalui peningkatan peran sekolah terutama dalam membentuk kepatuhan dan budaya tertentu di sekolah memegang kendali utama. Sekolah yang kurang memperhatikan sistem pembinaan pada tingkat sekolah dan lebih mengandalkan pada peran guru melalui pelaksanaan pembelajaran hanya akan menghasilan karakter siswa yang biasa-biasa saja.
Pembentukan Karakter dalam Kegiatan Pembelajaran
Pembentukan karakter melalui kegiatan pembelajaran perlu dimulai dari perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP). Lebih spesifik karakter yang hendak dikembangkan dapat dinyatakan secara eksplisit dalam tujuan pebelajaran.
Jika bentuk karakter dinyatakan secara eksplisit dalam tujuan, maka guru harus mengevaluasinya secara eksplisit pula. Oleh karena itu, dalam setiap kegiatan pembelajaran guru perlu menetapkan karakter yang sesuai dengan mater pelajaran dan strategi pembelajaran.
Namun demikian jika karakter yang hendak dikembangkan seperti kejujuran, disiplin waktu, sifat selalu ingin tahu, sikap percaya diri, keterbukaan, inovatif, kreatif dapat diintegrasikan dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari pada tiap saat. Yang diperlukan adalah kesadaran guru untuk selalu menaruh perhatian terhadap karakter yang ingin dikuatkan pada saat pemebeljaran berlangsung.
Pernyatan menegaskan bahwa belajar bukan cuma mendapatkan ilmu pengetahuan, namun juga bagaimana dapat menerapkan ilmu pengetahuan itu dalam bentuk karya yang mencerminkan keterampilan dan meningkatkan sikap yang semakin mencerminkan kedewasaan hidup seseorang (sumber gurupembaharu.com)
Posts by : Admin
Sastra sebagai Pendidikan Watak
1. Menurut Prof. Slamet Iman Santoso, tugas utama pendidikan adalah membangun watak agar anak mampu menghadapi berbagai tantangan.
2. Orientasi pendidikan saat ini adalah lulusan siap pakai, sehingga siswa harus belajar bermacam-macam ilmu, tapi di sisi lain pembinaan watak mulai terlupakan. Padahal membangun watak anak didik adalah tugas utama pendidikan
3. Inti pembangunan watak bukanlah hal yang abstrak, melainkan nyata dalam perilaku sehari-hari. Manusia tidak lepas dari perkembangan personal, sosial, dan keagamaan
4. Personal mencakup nalar, inderawi, dan afeksi.
5. Sosial antara lain kemampuan bekerjasama dan saling menghormati
6. Keagamaan berkaitan dengan tanggung jawab dan kehidupan religi, tidak sekedar pelajaran agama.
7.Tugas pendidikan lebih luas adalah mengasah keterampilan, kepandaian, kejujuran, membina disiplin, membuat anak mengenal batasan kemampuannya, dan membangun kehormatan diri. Pendidikan yang berhasil akan menciptakan manusia yang pantas dan berkelayakan di masyarakat, serta tidak menyusahkan orang lain
8. Untuk pembangunan watak, belajar adalah proses yang membutuhkan waktu. Melalui pembelajaran apresiasi sastra antara lain upaya membangun watak dan karakter dapat dilakukan
9. Cara lain untuk membangun watak juga dapat dilakukan dengan menciptakan kultur sekolah, yakni sekolah memberikan nuansa dan atmosfer yang mendukung upaya untuk menginternalisasi nilai dan etika yang hendak ditanamkan
10. Menurut HAR Tilaar, tujuan pendidikan antara lain agar anak mampu menjalani kehidupan bersama dalam bermasyarakat dengan segala keragamannya. Melaui pendidkan budi pekerti, guru memberikan contoh perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai serta etika yang ingin ditanamkan
2. Orientasi pendidikan saat ini adalah lulusan siap pakai, sehingga siswa harus belajar bermacam-macam ilmu, tapi di sisi lain pembinaan watak mulai terlupakan. Padahal membangun watak anak didik adalah tugas utama pendidikan
3. Inti pembangunan watak bukanlah hal yang abstrak, melainkan nyata dalam perilaku sehari-hari. Manusia tidak lepas dari perkembangan personal, sosial, dan keagamaan
4. Personal mencakup nalar, inderawi, dan afeksi.
5. Sosial antara lain kemampuan bekerjasama dan saling menghormati
6. Keagamaan berkaitan dengan tanggung jawab dan kehidupan religi, tidak sekedar pelajaran agama.
7.Tugas pendidikan lebih luas adalah mengasah keterampilan, kepandaian, kejujuran, membina disiplin, membuat anak mengenal batasan kemampuannya, dan membangun kehormatan diri. Pendidikan yang berhasil akan menciptakan manusia yang pantas dan berkelayakan di masyarakat, serta tidak menyusahkan orang lain
8. Untuk pembangunan watak, belajar adalah proses yang membutuhkan waktu. Melalui pembelajaran apresiasi sastra antara lain upaya membangun watak dan karakter dapat dilakukan
9. Cara lain untuk membangun watak juga dapat dilakukan dengan menciptakan kultur sekolah, yakni sekolah memberikan nuansa dan atmosfer yang mendukung upaya untuk menginternalisasi nilai dan etika yang hendak ditanamkan
10. Menurut HAR Tilaar, tujuan pendidikan antara lain agar anak mampu menjalani kehidupan bersama dalam bermasyarakat dengan segala keragamannya. Melaui pendidkan budi pekerti, guru memberikan contoh perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai serta etika yang ingin ditanamkan
Posts by : Admin
Guru Pengajar dan Pembimbing
Peranan guru dalam dunia pendidikan adalah salah satunya sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggurfg jawab sosial tingkah laku sosial anak. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuannya dimasa akan datang.
juga guru adalah Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman. Pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan.
Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya.
Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik
yang tidak kalah pentingnya adalah Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila
juga guru adalah Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman. Pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan.
Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya.
Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik
yang tidak kalah pentingnya adalah Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila
Posts by : Admin
Ciri Kepribadian Guru
Ciri-ciri kepribadian guru yang harus dimiliki dan di pegang teguh oleh seorang guru adalah sebagai berikut :
Pertama, semangat yang terkontrol. Seorang guru mesti menjadi orang yang ulet, telaten, peduli, dan memiliki tekad yang memadai.
Sebab, peserta didik memerlukan hal baru, tambahan informasi, perhatian, dan didikan yang baik darinya.
Kedua, ilmu yang terus berkembang. Ia mempunyai dua kelebihan, yakni kelebihan horizontal (pengetahuan luas) dan vertikal (menguasai bidangnya secara mendalam). Guru yang enggan membaca lambat laun akan kekeringan wawasan seiring permasalahan yang muncul. Hendaknya mempunyai perpustakaan sendiri walaupun sederhana.paling tidak dapat mengenal IT di era global ini.
Ketiga, perencanaan yang rapi. Perencanaan pendidikan yang matang, tertulis dan tersusun rapi, serta dalam jangka waktu tertentu, terukur, dan realistis agar tujuan pendidikan bisa tercapai. Istilahnya, ‘TUKER-KERIS’ (TUlis apa yang anda KERjakan, dan KERjakan apa yang anda tulIS}misalnya membuat PTK
Keempat, variasi kecerdasan. Guru itu seperti sungai, ia memberi minum kepada orang-orang yang kehausan, mengalir deras ke setiap lembah,mengubah tandusnya akal menjadi pengetahuan yang berbunga di lembah pengetahuan yang beraneka ragam.
Oleh karena itu, guru harus menjadi bapak bagi siswanya dalam ikatan batin,
seolah menjadi syekh dalam pendidikan rohani, menjadi pendidik dalam penyampaian ilmu, menjadi teman dalam penyampaian curhat, dan menjadi pemimpin dalam keteladanan.
Kelima, kepemimpinan yang bijaksana. Tidak cukup seorang guru hanya menyampaikan materi pelajaran tanpa memenuhi tujuan pendidikan sesungguhnya, yakni menanamkan nilai-nilai luhur, mengembangkan potensinya menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
Keenam, menjaga celah. Guru adalah arsitek peradaban. Masa depan anak didik adalah amanah di pundak guru. Baiknya generasi muda ke depan tergantung kepada kesungguhan guru dalam mempersiapkan anak didiknya. Oleh karena itu, guru harus mampu menjaga celah di bidang pendidikan. Sebab, jika pendidikan tidak bisa diharapkan, tunggulah akan kehancuran. Syauqi pernah berkata, ”Jika guru berbuat salah sedikit saja, akan lahirlah siswa-siswa yang lebih buruk lagi.”
Ketujuh, tidak mengenal putus asa. Kenyataan terkadang membuat guru sedih dengan fakta dekadensi moral pada generasi muda. Orang yang bertekad lemah, kadang menyatakan bahwa generasi sekarang tidak bisa diharapkan, tak ada harapan akan perbaikan. Tetapi, guru harus yakin, bahwa impian hari ini adalah kenyataan esok hari. Karena itu, guru perlu terus berbuat dan meninggikan bendera kebajikan guna menyiapkan generasi mendatang yang lebih baik.
Bila ciri-ciri guru di atas mampu diejawantahkan dalam dunia pendidikan maka tidak menutup kemungkinan pembentukan anak didik menjadi manusia seutuhkan (cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual) akan mudah terwujud
Pertama, semangat yang terkontrol. Seorang guru mesti menjadi orang yang ulet, telaten, peduli, dan memiliki tekad yang memadai.
Sebab, peserta didik memerlukan hal baru, tambahan informasi, perhatian, dan didikan yang baik darinya.
Kedua, ilmu yang terus berkembang. Ia mempunyai dua kelebihan, yakni kelebihan horizontal (pengetahuan luas) dan vertikal (menguasai bidangnya secara mendalam). Guru yang enggan membaca lambat laun akan kekeringan wawasan seiring permasalahan yang muncul. Hendaknya mempunyai perpustakaan sendiri walaupun sederhana.paling tidak dapat mengenal IT di era global ini.
Ketiga, perencanaan yang rapi. Perencanaan pendidikan yang matang, tertulis dan tersusun rapi, serta dalam jangka waktu tertentu, terukur, dan realistis agar tujuan pendidikan bisa tercapai. Istilahnya, ‘TUKER-KERIS’ (TUlis apa yang anda KERjakan, dan KERjakan apa yang anda tulIS}misalnya membuat PTK
Keempat, variasi kecerdasan. Guru itu seperti sungai, ia memberi minum kepada orang-orang yang kehausan, mengalir deras ke setiap lembah,mengubah tandusnya akal menjadi pengetahuan yang berbunga di lembah pengetahuan yang beraneka ragam.
Oleh karena itu, guru harus menjadi bapak bagi siswanya dalam ikatan batin,
seolah menjadi syekh dalam pendidikan rohani, menjadi pendidik dalam penyampaian ilmu, menjadi teman dalam penyampaian curhat, dan menjadi pemimpin dalam keteladanan.
Kelima, kepemimpinan yang bijaksana. Tidak cukup seorang guru hanya menyampaikan materi pelajaran tanpa memenuhi tujuan pendidikan sesungguhnya, yakni menanamkan nilai-nilai luhur, mengembangkan potensinya menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab.
Keenam, menjaga celah. Guru adalah arsitek peradaban. Masa depan anak didik adalah amanah di pundak guru. Baiknya generasi muda ke depan tergantung kepada kesungguhan guru dalam mempersiapkan anak didiknya. Oleh karena itu, guru harus mampu menjaga celah di bidang pendidikan. Sebab, jika pendidikan tidak bisa diharapkan, tunggulah akan kehancuran. Syauqi pernah berkata, ”Jika guru berbuat salah sedikit saja, akan lahirlah siswa-siswa yang lebih buruk lagi.”
Ketujuh, tidak mengenal putus asa. Kenyataan terkadang membuat guru sedih dengan fakta dekadensi moral pada generasi muda. Orang yang bertekad lemah, kadang menyatakan bahwa generasi sekarang tidak bisa diharapkan, tak ada harapan akan perbaikan. Tetapi, guru harus yakin, bahwa impian hari ini adalah kenyataan esok hari. Karena itu, guru perlu terus berbuat dan meninggikan bendera kebajikan guna menyiapkan generasi mendatang yang lebih baik.
Bila ciri-ciri guru di atas mampu diejawantahkan dalam dunia pendidikan maka tidak menutup kemungkinan pembentukan anak didik menjadi manusia seutuhkan (cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual) akan mudah terwujud
Posts by : Admin
Coretan Anak Bermakna
Sering kita jumpai pada saat pembelajaran di kelas anak-anak sering membuat coretan Gambar corat-coret ini sebenarnya merupakan ungkapan bawah sadar anak. Sama seperti mimpi, corat-coret ini menggunakan bahasa gambar dan bisa kita cari maknanya. Lalu, apa ya artinya?
Coretan Anak yang Bermakna adalah sebagai berikut :
GAMBAR BENTUK
PANAH
Menunjukkan Anda orang yang ambisius dan agresif. Tanda panah ke kiri berarti senang mengenang masa lalu. Tanda panah ke kanan berarti siap untuk menyongsong masa depan. Tanda panah ke suatu objek berarti marah atau penasaran dengan objek tersebut.
LINGKARAN
Gambar ini sering dikaitkan dengan keramahan, senang bicara dan senang berteman. Artinya Anda fleksibel, mudah beradaptasi dan menyesuaikan diri. Anda juga memiliki iman yang kuat sehingga berjiwa optimis dan pantang menyerah.
BENTUK GEOMETRIS
Gambar segitiga, segi empat, persegi panjang dan formasi pola lain menunjukkan pikiran yang logis. Gambar ini juga menandakan pikiran yang teratur, proses pemikiran yang jernih dan ketrampilan dalam membuat perencanaan efisiensi dan tujuan. Meski orang menilai Anda kolot, Anda mampu menyelesaikan pekerjaan dalam situasi kritis sekalipun.
BENANG KUSUT
Lingkaran kusut yang besar melambangkan keinginan akan gaya hidup bebas yang menggelinding begitu saja. Sementara lingkaran kusut yang kecil melambangkan perasaan marah yang terpendam.
GAMBAR ABSTRAK
Gambar ini sering melambangkan ketegangan, kesulitan dan gangguan dalam konsentrasi.
KOTAK
Gambar ini memang lebih banyak digambar kaum lelaki. Kotak yang ditumpuk menunjukkan pemikiran yang metodis dan konstruktif. Kotak tertutup menandakan Anda orang yang menghargai privasi. Sementara kotak terbuka mencerminkan harapan untuk menyambut seseorang atau sebaliknya keinginan lari dari situasi yang menekan.
GAMBAR BENDA HIDUP
BINATANG
Mencerminkan bagaimana memandang diri sendiri. Jika menggambar hewan peliharaan, kucing misalnya, berarti Anda memiliki pribadi yang ramah dan sensitif. Gambar burung, artinya Anda memiliki daya imajinasi yang tinggi, penuh pertimbangan, cinta kasih, dan menyukai kebebasan. Jika Anda menggambar hewan kecil, ini mengindikasikan perasaan takut yang tersembunyi. Juga menggambarkan lemah, pasif, kurang percaya diri dan introvert. Sedangkan gambar hewan liar mencerminkan agresivitas dan ketegasan. Gambar hewan yang suka bersenang-senang, misalnya anjing menunjukkan Anda orang yang senang bermain. Gambar hewan berjalan pelan, misalnya kura-kurang menunjukkan kpribadian yang senang merenung.
BUNGA
Melambangkan sisi feminin dan keinginan melihat pertumbuhan, alam dan reproduksi. Gambar bunga juga menunjukkan keinginan berkembang dan menghasilkan sesuatu dalam hidup. Bunga dalam rangkaian bisa menggambarkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan. Sementara gambar bunga dan tumbuhan menunjukkan Anda orang yang sensitif, manusiawi, hangat dan terbuka.
POHON
Gambar ini melambangkan ego dan ambisi. Jika pohon itu memiliki daun yang lebat dan buah, ini menunjukkan Anda orang yang mendambakan cinta, seks dan anak. Pohon tanpa daun dan buah, dengan daun terkulai menunjukkan depresi dan kurang semangat juang. Lalu, kalau pohon digambar dengan akar, menunjukkan orang yang mementingkan asal-usul.
HATI
Ini sering digambar orang yang sedang jatuh cinta. Hati melambangkan pikiran orang yang menggambarnya dipenuhi cinta dan sentimentil.
WAJAH CANTIK
Menggambarkan rasa kasih sayang kepada orang lain. Orang yang senang menggambar wajah cantik melihat hal-hal positif dalam diri seseorang, situasi, optimistik, manusiawi, bersifat baik, sensitif terhadap sesama. Ia juga mampu menunjukkan empati, ramah dan senang bergaul.
WAJAH JELEK
Artinya Anda penuh curiga, tidak suka dan tidak percaya pada orang lain. Anda memiliki jiwa pemberontak, kurang percaya diri, senang melihat hal-hal buruk dalam diri setiap orang dan situasi. Anda juga defensif, cenderung mengubah fakta karena pandangan Anda yang 'gelap' dan sempit.
GAMBAR LAINNYA
RUMAH
Coretan ini banyak digambar perempuan. Gambar ini menunjukkan perasaan terhadap lingkungan rumah. Coba perhatikan pintu depannya terbuka atau tertutup? Apakah cerobong asap mengeluarkan asap? Rumah yang tidak bahagia biasanya dilambangkan dengan rumah berbentuk asimetris tanpa jendela. Sementara rumah dengan cerobong asap yang mengeluarkan asap menunjukkan Anda orang yang bahagia dengan sikap positif terhadap kehidupan di rumah. Rumah yang dingin tanpa hiasan menunjukkan rasa tidak senang dengan kehidupan di rumah.
BENDA LANGIT
Gambar bintang dan benda-benda langit menunjukkan perasaan penuh harapan, optimisme, ambisi dan kebutuhan untuk membuktikan serta mempromosikan diri.
KENDARAAN
Gambar alat transportasi dalam bentuk apa pun melambangkan hasrat untuk pergi atau mencapai tujuan. Makin cepat jenis kendaraan yang digambar artinya Anda ingin cepat-cepat menyampaikan pendapat atau pergi.
MAKANAN
Gambar ini memiliki tiga makna. Pertama, kebutuhan akan cinta. Kedua, hasrat yang ingin dipenuhi. Dan ketiga haus akan sesuatu. Mana yang sesuai dengan Anda?
SENJATA
Gambar pistol, senapan dan anak panah menunjukkan sikap persaingan dan kebutuhan untuk membuktikan diri.
TANGGA
Menunjukkan banyak ambisi, dorongan yang kuat untuk membuktikan diri, tidak sabar terhadap proses yang panjang dan berusaha untuk mencapai tujuan terdekat.
ALAT VITAL
Memang ini lebih banyak digambar kaum Adam. Jika ada lelaki yang menggambarkan payudara besar atau vagina, artinya hidup lelaki itu sedang terancam oleh perempuan. Namun, jika ia senang menggambarkan alat vital dari kaum sejenisnya, artinya ia memiliki kelainan seksual. Lalu, bagaimana jika Anda menggambarkan penis? Bukan tidak mungkin Anda tiba-tiba menggambarkannya kan? Jika Anda melakukannya, ini berarti Anda sedang merasa dikucilkan laki-laki.
CORETAN NAMA
Jika Anda senang menulis nama sendiri dengan bentuk tulisan berbeda maka Anda adalah seorang yang sedang mengalami krisis kepribadian. Anda tidak yakin dengan arah kehidupan Anda sendiri.
TANDA TANGAN
Lalu bagaimana dengan goresan tanda tangan yang berulang-ulang secara tak sadar? Ini menandakan konflik emosional dan intelektual sedang meningkat sehingga Anda berada dalam kesulitan.(sumber: Erma Dwi Kusumastuti. www.kompas.com, 24 April 2008)
Coretan Anak yang Bermakna adalah sebagai berikut :
GAMBAR BENTUK
PANAH
Menunjukkan Anda orang yang ambisius dan agresif. Tanda panah ke kiri berarti senang mengenang masa lalu. Tanda panah ke kanan berarti siap untuk menyongsong masa depan. Tanda panah ke suatu objek berarti marah atau penasaran dengan objek tersebut.
LINGKARAN
Gambar ini sering dikaitkan dengan keramahan, senang bicara dan senang berteman. Artinya Anda fleksibel, mudah beradaptasi dan menyesuaikan diri. Anda juga memiliki iman yang kuat sehingga berjiwa optimis dan pantang menyerah.
BENTUK GEOMETRIS
Gambar segitiga, segi empat, persegi panjang dan formasi pola lain menunjukkan pikiran yang logis. Gambar ini juga menandakan pikiran yang teratur, proses pemikiran yang jernih dan ketrampilan dalam membuat perencanaan efisiensi dan tujuan. Meski orang menilai Anda kolot, Anda mampu menyelesaikan pekerjaan dalam situasi kritis sekalipun.
BENANG KUSUT
Lingkaran kusut yang besar melambangkan keinginan akan gaya hidup bebas yang menggelinding begitu saja. Sementara lingkaran kusut yang kecil melambangkan perasaan marah yang terpendam.
GAMBAR ABSTRAK
Gambar ini sering melambangkan ketegangan, kesulitan dan gangguan dalam konsentrasi.
KOTAK
Gambar ini memang lebih banyak digambar kaum lelaki. Kotak yang ditumpuk menunjukkan pemikiran yang metodis dan konstruktif. Kotak tertutup menandakan Anda orang yang menghargai privasi. Sementara kotak terbuka mencerminkan harapan untuk menyambut seseorang atau sebaliknya keinginan lari dari situasi yang menekan.
GAMBAR BENDA HIDUP
BINATANG
Mencerminkan bagaimana memandang diri sendiri. Jika menggambar hewan peliharaan, kucing misalnya, berarti Anda memiliki pribadi yang ramah dan sensitif. Gambar burung, artinya Anda memiliki daya imajinasi yang tinggi, penuh pertimbangan, cinta kasih, dan menyukai kebebasan. Jika Anda menggambar hewan kecil, ini mengindikasikan perasaan takut yang tersembunyi. Juga menggambarkan lemah, pasif, kurang percaya diri dan introvert. Sedangkan gambar hewan liar mencerminkan agresivitas dan ketegasan. Gambar hewan yang suka bersenang-senang, misalnya anjing menunjukkan Anda orang yang senang bermain. Gambar hewan berjalan pelan, misalnya kura-kurang menunjukkan kpribadian yang senang merenung.
BUNGA
Melambangkan sisi feminin dan keinginan melihat pertumbuhan, alam dan reproduksi. Gambar bunga juga menunjukkan keinginan berkembang dan menghasilkan sesuatu dalam hidup. Bunga dalam rangkaian bisa menggambarkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan. Sementara gambar bunga dan tumbuhan menunjukkan Anda orang yang sensitif, manusiawi, hangat dan terbuka.
POHON
Gambar ini melambangkan ego dan ambisi. Jika pohon itu memiliki daun yang lebat dan buah, ini menunjukkan Anda orang yang mendambakan cinta, seks dan anak. Pohon tanpa daun dan buah, dengan daun terkulai menunjukkan depresi dan kurang semangat juang. Lalu, kalau pohon digambar dengan akar, menunjukkan orang yang mementingkan asal-usul.
HATI
Ini sering digambar orang yang sedang jatuh cinta. Hati melambangkan pikiran orang yang menggambarnya dipenuhi cinta dan sentimentil.
WAJAH CANTIK
Menggambarkan rasa kasih sayang kepada orang lain. Orang yang senang menggambar wajah cantik melihat hal-hal positif dalam diri seseorang, situasi, optimistik, manusiawi, bersifat baik, sensitif terhadap sesama. Ia juga mampu menunjukkan empati, ramah dan senang bergaul.
WAJAH JELEK
Artinya Anda penuh curiga, tidak suka dan tidak percaya pada orang lain. Anda memiliki jiwa pemberontak, kurang percaya diri, senang melihat hal-hal buruk dalam diri setiap orang dan situasi. Anda juga defensif, cenderung mengubah fakta karena pandangan Anda yang 'gelap' dan sempit.
GAMBAR LAINNYA
RUMAH
Coretan ini banyak digambar perempuan. Gambar ini menunjukkan perasaan terhadap lingkungan rumah. Coba perhatikan pintu depannya terbuka atau tertutup? Apakah cerobong asap mengeluarkan asap? Rumah yang tidak bahagia biasanya dilambangkan dengan rumah berbentuk asimetris tanpa jendela. Sementara rumah dengan cerobong asap yang mengeluarkan asap menunjukkan Anda orang yang bahagia dengan sikap positif terhadap kehidupan di rumah. Rumah yang dingin tanpa hiasan menunjukkan rasa tidak senang dengan kehidupan di rumah.
BENDA LANGIT
Gambar bintang dan benda-benda langit menunjukkan perasaan penuh harapan, optimisme, ambisi dan kebutuhan untuk membuktikan serta mempromosikan diri.
KENDARAAN
Gambar alat transportasi dalam bentuk apa pun melambangkan hasrat untuk pergi atau mencapai tujuan. Makin cepat jenis kendaraan yang digambar artinya Anda ingin cepat-cepat menyampaikan pendapat atau pergi.
MAKANAN
Gambar ini memiliki tiga makna. Pertama, kebutuhan akan cinta. Kedua, hasrat yang ingin dipenuhi. Dan ketiga haus akan sesuatu. Mana yang sesuai dengan Anda?
SENJATA
Gambar pistol, senapan dan anak panah menunjukkan sikap persaingan dan kebutuhan untuk membuktikan diri.
TANGGA
Menunjukkan banyak ambisi, dorongan yang kuat untuk membuktikan diri, tidak sabar terhadap proses yang panjang dan berusaha untuk mencapai tujuan terdekat.
ALAT VITAL
Memang ini lebih banyak digambar kaum Adam. Jika ada lelaki yang menggambarkan payudara besar atau vagina, artinya hidup lelaki itu sedang terancam oleh perempuan. Namun, jika ia senang menggambarkan alat vital dari kaum sejenisnya, artinya ia memiliki kelainan seksual. Lalu, bagaimana jika Anda menggambarkan penis? Bukan tidak mungkin Anda tiba-tiba menggambarkannya kan? Jika Anda melakukannya, ini berarti Anda sedang merasa dikucilkan laki-laki.
CORETAN NAMA
Jika Anda senang menulis nama sendiri dengan bentuk tulisan berbeda maka Anda adalah seorang yang sedang mengalami krisis kepribadian. Anda tidak yakin dengan arah kehidupan Anda sendiri.
TANDA TANGAN
Lalu bagaimana dengan goresan tanda tangan yang berulang-ulang secara tak sadar? Ini menandakan konflik emosional dan intelektual sedang meningkat sehingga Anda berada dalam kesulitan.(sumber: Erma Dwi Kusumastuti. www.kompas.com, 24 April 2008)
Posts by : Admin
PTK Individual Kolaboratif
Banyak guru yang tidak tahu tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sangat mudah dan gampang. Dipikirnya, PTK milik dosen dan para pakar pendidikan. Padahal, PTK itu sebenarnya hanya catatan mengajar yang ditulis guru untuk direviu menjadi dasar perbaikan pembelajaran berikutnya. Guru yang terbiasa mencatatsetiap pembelajaran yang dilaksanakan akan dengan mudah membuat PTK. PTK merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru secara langsung untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran.
PTK dapat dilaksanakan secara individual dan kolaboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK kolaboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau kelas orang lain, sedang dalam PTK kolaboratif beberapa orang guru secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar kelas.
Berikut prinsip PTK.
Bersifat siklis, artinya PTK terlihat siklis-siklis (perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi), sebagai prosedur baku penelitian.
Bersifat longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinyu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan "sekali tembak" selesai pelaksanaannya.
Bersifat partikular-spesifik jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka mendapatkan dalil-dalil. Hasilnyapun tidak untuk digenaralisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain dan ditempat lain yang konteksnya mirip.
Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekali gus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu diubah. Ini berarti guru berperan ganda, yakni sebagai orang yang meneliti sekali gus yang diteliti pula.
Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang diteliti.
Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian.
Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; menggarap masalah-masalah besar.
Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian.
Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasifan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif. Sebab itu, PTK hanya menuntut penggunaan statistik yang sederhana, bukan yang rumit.
Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.
Tujuan PTK sebagai berikut :
Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Memperbaiki dan meningkatkan kinerja-kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.
Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi masalah pembelajaran di kelas agar pembelajaran bermutu.
Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya.
Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya, pendekatan, metode, strategi, dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran.
Mencobakan gagasan, pikiran, kiat, cara, dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru.
Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada realitas empiris kelas, bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum atau asumsi.
Manfaat PTK
Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat menjadi bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan, antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.
Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan guru. Hal ini telah ikut mendukung professionalisme dan karir guru.
Mampu mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antar-guru dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.
Mampu meningkatkan kemampuan guru dalam menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini memperkuat dan relevansi pembelajaran bagi kebutuhan siswa.
Dapat memupuk dan meningkatkan keterlibatan , kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas yang dilaksanakan guru. Hasil belajar siswa pun dapat meningkatkan.
Dapat mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, dan melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.
Prosedur Pelaksanaan PTK.
1. Menyusun proposal PTK. Dalam kegiatan ini perlu dilakukan kegiatan pokok, yaitu; (1) mendeskripsikan dan menemukan masalah PTK dengan berbagai metode atau cara, (2) menentukan cara pemecahan masalah PTK dengan pendekatan, strategi, media, atau kiat tertentu, (3) memilih dan merumuskan masalah PTK baik berupa pertanyaan atau pernyataan sesuai dengan masalah dan cara pemecahannya, (4) menetapkan tujuan pelaksanaan PTK sesuai dengan masalah yang ditetapkan, (5) memilih dan menyusun persfektif, konsep, dan perbandingan yang akan mendukung dan melandasi pelaksanaan PTK, (6) menyusun siklus-siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini dapat memecahkan masalah-masalah yang telah dirumuskan, (7) menetapkan cara mengumpulkan data sekaligus menyusun instrumen yang diperlukan untuk menjaring data PTK, (8) menetapkan dan menyusun cara-cara analisis data PTK.
2. Melasanakan siklus (rencana tindakan) di dalam kelas. Dalam kegiatan ini diterapkan rencana tindakan yang telah disusun dengan variasi tertentu sesuai dengan kondisi kelas. Selama pelaksanaan tindakan dalam siklus dilakukan pula pengamatan dan refleksi. baik pelaksanaan tindakan, pengamatan maupun refleksi dapat dilakukan secara beiringan, bahkan bersamaan. Semua hal yang berkaitan dengan hal diatas perlu dikumpulkan dengan sebaik-baiknya.
3. Menganalisis data yang telah dikumpulkan baik data tahap perencanaan, pelaksnaan tindakan, pengamatan, maupun refleksi. Analisis data ini harus disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Hasil analisis data ini dipaparkan sebagai hasil PTK. Setelah itu, perlu dibuat kesimpulan dan rumusan saran.
4. Menulis laporan PTK, yang dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan menganalisis data. Dalam kegiatan ini pertama-tama perlu ditulis paparan hasil-hasil PTK. Paparan hasil PTK ini disatukan dengan deskripsi masalah, rumusan masalah, tujuan, dan kajian konsep atau teoritis. Inilah laporan PTK.
PTK dapat dilaksanakan secara individual dan kolaboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK kolaboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau kelas orang lain, sedang dalam PTK kolaboratif beberapa orang guru secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar kelas.
Berikut prinsip PTK.
Bersifat siklis, artinya PTK terlihat siklis-siklis (perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi), sebagai prosedur baku penelitian.
Bersifat longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinyu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan "sekali tembak" selesai pelaksanaannya.
Bersifat partikular-spesifik jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka mendapatkan dalil-dalil. Hasilnyapun tidak untuk digenaralisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain dan ditempat lain yang konteksnya mirip.
Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekali gus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu diubah. Ini berarti guru berperan ganda, yakni sebagai orang yang meneliti sekali gus yang diteliti pula.
Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang diteliti.
Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian.
Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; menggarap masalah-masalah besar.
Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian.
Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasifan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif. Sebab itu, PTK hanya menuntut penggunaan statistik yang sederhana, bukan yang rumit.
Bermaksud mengubah kenyataan, dan situasi pembelajaran menjadi lebih baik dan memenuhi harapan, bukan bermaksud membangun teori dan menguji hipotesis.
Tujuan PTK sebagai berikut :
Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.
Memperbaiki dan meningkatkan kinerja-kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru.
Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi masalah pembelajaran di kelas agar pembelajaran bermutu.
Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya.
Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya, pendekatan, metode, strategi, dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran.
Mencobakan gagasan, pikiran, kiat, cara, dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran selain kemampuan inovatif guru.
Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada realitas empiris kelas, bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum atau asumsi.
Manfaat PTK
Menghasilkan laporan-laporan PTK yang dapat dijadikan bahan panduan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu hasil-hasil PTK yang dilaporkan dapat menjadi bahan artikel ilmiah atau makalah untuk berbagai kepentingan, antara lain disajikan dalam forum ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah.
Menumbuhkembangkan kebiasaan, budaya, dan atau tradisi meneliti dan menulis artikel ilmiah di kalangan guru. Hal ini telah ikut mendukung professionalisme dan karir guru.
Mampu mewujudkan kerja sama, kaloborasi, dan atau sinergi antar-guru dalam satu sekolah atau beberapa sekolah untuk bersama-sama memecahkan masalah pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran.
Mampu meningkatkan kemampuan guru dalam menjabarkan kurikulum atau program pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan konteks lokal, sekolah, dan kelas. Hal ini memperkuat dan relevansi pembelajaran bagi kebutuhan siswa.
Dapat memupuk dan meningkatkan keterlibatan , kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, dan kesenangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas yang dilaksanakan guru. Hasil belajar siswa pun dapat meningkatkan.
Dapat mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang menarik, menantang, nyaman, menyenangkan, dan melibatkan siswa karena strategi, metode, teknik, dan atau media yang digunakan dalam pembelajaran demikian bervariasi dan dipilih secara sungguh-sungguh.
Prosedur Pelaksanaan PTK.
1. Menyusun proposal PTK. Dalam kegiatan ini perlu dilakukan kegiatan pokok, yaitu; (1) mendeskripsikan dan menemukan masalah PTK dengan berbagai metode atau cara, (2) menentukan cara pemecahan masalah PTK dengan pendekatan, strategi, media, atau kiat tertentu, (3) memilih dan merumuskan masalah PTK baik berupa pertanyaan atau pernyataan sesuai dengan masalah dan cara pemecahannya, (4) menetapkan tujuan pelaksanaan PTK sesuai dengan masalah yang ditetapkan, (5) memilih dan menyusun persfektif, konsep, dan perbandingan yang akan mendukung dan melandasi pelaksanaan PTK, (6) menyusun siklus-siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini dapat memecahkan masalah-masalah yang telah dirumuskan, (7) menetapkan cara mengumpulkan data sekaligus menyusun instrumen yang diperlukan untuk menjaring data PTK, (8) menetapkan dan menyusun cara-cara analisis data PTK.
2. Melasanakan siklus (rencana tindakan) di dalam kelas. Dalam kegiatan ini diterapkan rencana tindakan yang telah disusun dengan variasi tertentu sesuai dengan kondisi kelas. Selama pelaksanaan tindakan dalam siklus dilakukan pula pengamatan dan refleksi. baik pelaksanaan tindakan, pengamatan maupun refleksi dapat dilakukan secara beiringan, bahkan bersamaan. Semua hal yang berkaitan dengan hal diatas perlu dikumpulkan dengan sebaik-baiknya.
3. Menganalisis data yang telah dikumpulkan baik data tahap perencanaan, pelaksnaan tindakan, pengamatan, maupun refleksi. Analisis data ini harus disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Hasil analisis data ini dipaparkan sebagai hasil PTK. Setelah itu, perlu dibuat kesimpulan dan rumusan saran.
4. Menulis laporan PTK, yang dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan menganalisis data. Dalam kegiatan ini pertama-tama perlu ditulis paparan hasil-hasil PTK. Paparan hasil PTK ini disatukan dengan deskripsi masalah, rumusan masalah, tujuan, dan kajian konsep atau teoritis. Inilah laporan PTK.
Posts by : Admin
OLAHRAGA MENCERDASKAN SISWA
setelah diakui bahwa olahraga mencerdaskan siswa. Belajar sambil melakukan merupakan jenis belajar yang berada pada konteks olahraga. Lawan dari metode itu adalah belajar dengan cara ceramah.Tak sekadar olahraga
Ternyata, selain menyehatkan badan, futsal juga memiliki banyak manfaat, seperti:
1. Kecerdasan. Saat bermain futsal, anak dituntut bisa melakukan improvisasi dalam menghadapi masalah dalam bermain. Pemain harus bisa mengeluarkan tekniknya secara spontan. Artinya, dengan futsal anak dapat mengembangkan intelegensinya.
2. Keahlian teknik. Dalam futsal, teknik lebih berperan ketimbang tenaga. Dengan begitu, anak dapat meningkatkan skill agar dia dapat melepaskan dri dari desakan lawan, mengontrol bola atau pergerakan kaki dengan dan tanpa bola.
3. Totalitas. Jumlah pemain futsal yang sedikit membuat seluruh pemain bermain dengan total. Baik saat menyerang atau pun bertahan. Dengan demikian si kecil akan belajar perlunya melakukan sesuatu dengan total, tak hanya saat bermain futsal.
4. Kecepatan. Ruang gerak yang tak begitu luas, menuntut para pemain futsal untuk bergerak cepat. Sehingga si kecil akan terbiasa untuk bergerak cepat dan tepat dalam melakukan suatu kegiatan.
5. Meningkatkan kebugaran jantung-paru. Futsal merupakan salah satu bentuk latihan aerobik. Latihan aerobik bila dilakukan secara teratur, yaitu minimal 3 kali seminggu, selama 30 menit setiap kali latihan, dengan intensitas sedang, maka dapat bermanfaat pada tubuh, yaitu dapat memelihara dan meningkatkan kebugaran jantung-paru. Pada anak-anak yang tingkat kebugaran jantung parunya baik, dapat menjalankan kegiatan di sekolah tanpa merasa mudah lelah dan mengantuk, sehingga diharapkan prestasi belajar meningkat.
6. Mencegah obesitas. Bermain futsal dapat mencegah anak-anak dari kegemukan dimana mereka banyak bergerak – tentu harus diimbangi dengan pola makan yang sehat.
7. Kerjasama tim. Dengan futsal anak dilatih untuk melaksanakan kerjasama dengan baik, karena futsal adalah permainan beregu, bukan individu. Dengan demikian bila ingin hasilnya baik maka perlu kerjasama yang baik antar anggota regu.
8. Rasa senang. Pada saat bermain futsal, tubuh mengeluarkan hormon endorphin yang menimbulkan rasa senang. Sehingga bila kita melakukan latihan fisik aerobik secara teratur kita dapat terhindar dari depresi dan kecemasan.
Yang patut diperhatikan
Jangan karena baik untuk tubuh, lantas bermain futsal setiap hari. Sebaiknya, futsal dilakukan 2x seminggu, diselingi 2-3 hari istirahat dengan tujuan memberi kesempatan pada tubuh untuk kembali ke keadaan awal.
Namun, jika bermain futsal hampir setiap hari, yang terjadi adalah rasa lelah yang berlebihan, mengantuk, konsentrasi menurun (tanda-tanda overtraining). Selain itu, yang harus diingat adalah lakukan pemanasan sebelum dan pendinginan setelah bermain futsal. Pemanasan dan pendinginan ini anak dapat jalan cepat selama 5-10 menit, dan gerakan peregangan pada bagian kepala, bahu, lengan, tangan, batang tubuh, paha, dan kaki. Semua ini untuk menghindari terjadinya cedera muskuloskeletal (terkilir) -¬ keluhan sakit, nyeri, pegal-pegal dan lainnya pada sistem otot – saat bermain futsal. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie)
bahwa Detikhealth melaporkan bahwa olahraga tidak hanya membuat tubuh jadi lebih bugar, pikiran juga ikut segar sehingga lebih mendukung proses belajar. Menurut penelitian terbaru, olahraga 5 kali sepekan bisa meningkatkan prestasi belajar siswa antara 55 hingga 68 persen.
Penelitian yang melibatkan ratusan siswa Sekolah Dasar di Charleston ini dilakukan oleh ilmuwan dari Medical University of South Carolina Children's Hospital. Hasilnya telah dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Pediatric Academic Societies di Denver awal bulan ini.
Dalam peneltian tersebut, siswa kelas 1 hingga kelas 6 diwajibkan mengikuti tambahan jam olahraga selama 40 menit/hari sebanyak 5 kali tiap pekan. Sebelumnya seperti dikutip dari Medicinenet, Rabu (4/5/2011), siswa hanya berolahraga sekali dalam sepekan dengan durasi sama yakni 40 menit.
Jenis olahraganya sengaja dipadukan dengan aktivitas belajar siswa. Misalnya kelas 1-2 belajar berhitung dengan naik turun tangga yang diberi warna, sementara kelas 3-6 diajak jogging di atas treadmill sambil membuka-buka materi pelajaran geografi.
Temuan ini menunjukkan bahwa makin sering siswa melakukan aktivitas fisik maka prestasi belajar akan meningkat. Peningkatannya akan lebih efisien jika aktivitas fisik tersebut juga dipadukan dengan proses belajar, sehingga tidak membutuhkan waktu tersendiri.
Berbagai penelitian sebelumnya memang menunjukkan, bahwa aktivitas fisik terbukti bisa meningkatkan fungsi otak. Menurut penelitian tahun 2010, jalan kaki 40 menit sehari sebanyak 5 kali/pekan bisa menjaga fungsi kognitif atau kecerdasan pada lansia maupun kaum muda. (sumber: detikhealth.com)
Ternyata, selain menyehatkan badan, futsal juga memiliki banyak manfaat, seperti:
1. Kecerdasan. Saat bermain futsal, anak dituntut bisa melakukan improvisasi dalam menghadapi masalah dalam bermain. Pemain harus bisa mengeluarkan tekniknya secara spontan. Artinya, dengan futsal anak dapat mengembangkan intelegensinya.
2. Keahlian teknik. Dalam futsal, teknik lebih berperan ketimbang tenaga. Dengan begitu, anak dapat meningkatkan skill agar dia dapat melepaskan dri dari desakan lawan, mengontrol bola atau pergerakan kaki dengan dan tanpa bola.
3. Totalitas. Jumlah pemain futsal yang sedikit membuat seluruh pemain bermain dengan total. Baik saat menyerang atau pun bertahan. Dengan demikian si kecil akan belajar perlunya melakukan sesuatu dengan total, tak hanya saat bermain futsal.
4. Kecepatan. Ruang gerak yang tak begitu luas, menuntut para pemain futsal untuk bergerak cepat. Sehingga si kecil akan terbiasa untuk bergerak cepat dan tepat dalam melakukan suatu kegiatan.
5. Meningkatkan kebugaran jantung-paru. Futsal merupakan salah satu bentuk latihan aerobik. Latihan aerobik bila dilakukan secara teratur, yaitu minimal 3 kali seminggu, selama 30 menit setiap kali latihan, dengan intensitas sedang, maka dapat bermanfaat pada tubuh, yaitu dapat memelihara dan meningkatkan kebugaran jantung-paru. Pada anak-anak yang tingkat kebugaran jantung parunya baik, dapat menjalankan kegiatan di sekolah tanpa merasa mudah lelah dan mengantuk, sehingga diharapkan prestasi belajar meningkat.
6. Mencegah obesitas. Bermain futsal dapat mencegah anak-anak dari kegemukan dimana mereka banyak bergerak – tentu harus diimbangi dengan pola makan yang sehat.
7. Kerjasama tim. Dengan futsal anak dilatih untuk melaksanakan kerjasama dengan baik, karena futsal adalah permainan beregu, bukan individu. Dengan demikian bila ingin hasilnya baik maka perlu kerjasama yang baik antar anggota regu.
8. Rasa senang. Pada saat bermain futsal, tubuh mengeluarkan hormon endorphin yang menimbulkan rasa senang. Sehingga bila kita melakukan latihan fisik aerobik secara teratur kita dapat terhindar dari depresi dan kecemasan.
Yang patut diperhatikan
Jangan karena baik untuk tubuh, lantas bermain futsal setiap hari. Sebaiknya, futsal dilakukan 2x seminggu, diselingi 2-3 hari istirahat dengan tujuan memberi kesempatan pada tubuh untuk kembali ke keadaan awal.
Namun, jika bermain futsal hampir setiap hari, yang terjadi adalah rasa lelah yang berlebihan, mengantuk, konsentrasi menurun (tanda-tanda overtraining). Selain itu, yang harus diingat adalah lakukan pemanasan sebelum dan pendinginan setelah bermain futsal. Pemanasan dan pendinginan ini anak dapat jalan cepat selama 5-10 menit, dan gerakan peregangan pada bagian kepala, bahu, lengan, tangan, batang tubuh, paha, dan kaki. Semua ini untuk menghindari terjadinya cedera muskuloskeletal (terkilir) -¬ keluhan sakit, nyeri, pegal-pegal dan lainnya pada sistem otot – saat bermain futsal. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie)
bahwa Detikhealth melaporkan bahwa olahraga tidak hanya membuat tubuh jadi lebih bugar, pikiran juga ikut segar sehingga lebih mendukung proses belajar. Menurut penelitian terbaru, olahraga 5 kali sepekan bisa meningkatkan prestasi belajar siswa antara 55 hingga 68 persen.
Penelitian yang melibatkan ratusan siswa Sekolah Dasar di Charleston ini dilakukan oleh ilmuwan dari Medical University of South Carolina Children's Hospital. Hasilnya telah dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Pediatric Academic Societies di Denver awal bulan ini.
Dalam peneltian tersebut, siswa kelas 1 hingga kelas 6 diwajibkan mengikuti tambahan jam olahraga selama 40 menit/hari sebanyak 5 kali tiap pekan. Sebelumnya seperti dikutip dari Medicinenet, Rabu (4/5/2011), siswa hanya berolahraga sekali dalam sepekan dengan durasi sama yakni 40 menit.
Jenis olahraganya sengaja dipadukan dengan aktivitas belajar siswa. Misalnya kelas 1-2 belajar berhitung dengan naik turun tangga yang diberi warna, sementara kelas 3-6 diajak jogging di atas treadmill sambil membuka-buka materi pelajaran geografi.
Temuan ini menunjukkan bahwa makin sering siswa melakukan aktivitas fisik maka prestasi belajar akan meningkat. Peningkatannya akan lebih efisien jika aktivitas fisik tersebut juga dipadukan dengan proses belajar, sehingga tidak membutuhkan waktu tersendiri.
Berbagai penelitian sebelumnya memang menunjukkan, bahwa aktivitas fisik terbukti bisa meningkatkan fungsi otak. Menurut penelitian tahun 2010, jalan kaki 40 menit sehari sebanyak 5 kali/pekan bisa menjaga fungsi kognitif atau kecerdasan pada lansia maupun kaum muda. (sumber: detikhealth.com)
Posts by : Admin
Strategi Siswa Agar Kreatif
Beberapa Langkah-langkah Strategi agar siswa Kreatif adalah sebagai berikut :
Strategi pertama adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning). Guru menurut strategi ini berperan sebagai fasilitator yang menolong para siswa untuk melakukan refleksi diri, diskusi kelompok, bermain peran, melakukan presentasi secara dramatikal, dan berbagai aktifitas kelompok lainnya. Guru juga berperan sebagai teman belajar, inspirator, navigator, dan orang yang berbagi pengalaman. Para siswa diberi kebebasan untuk memilih perspektif yang akan mereka gunakan untuk mempelajari suatu topik. Berbagai metode tersebut akan membuat para siswa berubah dari pendengar pasif menjadi observer, mampu menunjukkan kemampuannya, dan co-learner. Guru hendaknya juga memberikan kesempatan kepada para siswa untuk memilih topik dalam berbagai tugas proyek individu atau kelompok. Melalui metode ini, kreatifitas ditimbulkan untuk mengeksplorasi berbagai ide yang dipandang menarik oleh para siswa. Collins dan Amabile (dalam Horng dkk., 2005) menyatakan bahwa motivasi intrinsik dan kreatifitas seorang siswa dapat ditingkatkan jika guru mmapu mendorong para siswa untuk mendiskusikan proses pembelajaran mereka yang secara intrinsik menyenangkan dan menggairahkan.
Strategi kedua adalah penggunaan berbagai peralatan bantu dalam pengajaran (multi-teaching aids assisstance). Guru-guru yang kreatif dan banyak akal menggunakan berbagai peralatan dalam mengajar, seperti penghancur kertas, kotak mainan, palu, naskah tulisan para siswa, power-point, komputer, dan peralatan multimedia untuk menggairahkan para siswa dalam berfikir, memperluas sudut pandangnya, dan memicu diskusi yang lebih mendalam. Tan (dalam Horng dkk., 2005) mengemukakan bahwa video terbukti efektif untuk meningkatkan kreatifitas para siswa. Storm dan Storm (dalam Horng dkk., 2005) juga menyatakan bahwa pelajaran yang difasilitasi oleh penggunaan video akan menjadi lebih atraktif, menarik, dan lebih mudah diingat oleh para siswa. Mata pelajaran juga akan lebih atraktif dan menstimulasi pada saat menggunakan komputer, transparansi, slide show, dan berbagai peralatan multimedia lainnya. Selain itu, keahlian penggunaan komputer merupakan prasyarat bagi guru yang kreatif dan akses terhadap sumber-sumber pendidikan yang berlimpah di internet.
Strategi ketiga adalah strategi manajemen kelas (class management strategies). Strategi ini mencakup pembuatan iklim interaksi antara guru dan siswa yang bersahabat dan memperlakukan siswa dengan menghormati berbagai kebutuhan dan individualitasnya. Guru diharapkan mampu berbicara dengan nada dan bahasa tubuh yang ramah (gentle) kepada para siswanya. Guru diharapkan juga tidak menginterupsi atau menghakimi secara tergesa-gesa pada saat para siswa mengekspresikan ide-idenya. Guru diharapkan mampu memberikan bimbingan, pertanyaan terbuka yang lebih banyak, atau menyampaikan pengalaman pribadinya sebagai referensi. Humor yang digunakan guru di dalam kelas dapat menjadi jembatan penghubung antara guru dan siswa, serta menyediakan lingkungan belajar yang santai.
Berbagai penelitian yang dilakukan di seluruh dunia (dalam Horng dkk., 2005) menunjukkan bahwa lingkungan belajar merupakan kunci untuk pembelajaran yang kreatif. Keterampilan untuk membuat interaksi bersahabat dengan siswa merupakan kualitas yang penting dari seorang guru yang kreatif. Guru yang mengajari siswanya untuk kreatif seharusnya juga mempercayai bahwa siswanya memiliki kemampuan untuk mendisiplinkan diri sendiri, berfokus pada komunikasi dan semangat demokratis, serta menolong siswanya untuk mengembangkan berbagai kelebihan individualitasnya.
Petrowski (dalam Horng dkk., 2005) mengemukakan beberapa prinsip untuk membangun lingkungan pembelajaran yang kreatif. Prinsip-prinsip tersebut yaitu: (a) menyediakan kesempatan untuk memilih dan mengetahui berbagai kemungkinan yang ada, (b) mendukung berbagai usaha untuk berbuat atau menciptakan, dan (c) mengimplementasikan strategi manajemen kelas yang tepat.
Strategi keempat untuk meningkatkan kreatifitas para siswa adalah dengan menghubungkan isi pengajaran dengan konteks kehidupan nyata. Esquivel (dalam Horng dkk., 2005) mengemukakan bahwa para siswa menyukai pelajaran yang berhubungan dengan berbagai peristiwa kehidupan nyata. Guru yang mampu memberikan pelajaran sesuai dengan konteks nyata kehidupan berarti telah membagikan pengalamannya kepada para siswa. Hal ini akan menjadi pemicu bagi para siswa untuk memberikan respon, berdiskusi, dan berfikir dalam tingkat tinggi.
Proses pengajaran yang terintegrasi akan menolong para siswa untuk mengembangkan keterampilan dalam mengekspresikan dan merealisasikannya dalam kehidupan nyata sehari-hari, menemukan contoh dalam kehidupan nyata untuk membuktikan apa yang telah mereka pelajari, dan menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan berbagai pengalaman kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan seharusnya memusatkan pada peningkatan keterampilan untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan dengan membebaskan kreatifitas para siswa.
Strategi kelima adalah menggunakan pertanyaan terbuka dan mendorong para siswa untuk berfikir kreatif (open questions and encouragement of creative thinking). Pertanyaan-pertanyaan terbuka akan menggerakkan para siswa untuk berfikir kreatif. Esquivel (dalam Horng dkk., 2005) bahkan menyatakan bahwa pertanyaan terbuka merupakan karakteristik dari guru yang kreatif. Guru yang kreatif juga selalu mendorong siswanya untuk membuat dan berimajinasi dalam diskusi kelompok. Berbagai hasil penelitian (dalam Horng dkk., 2005) menunjukkan bahwa para guru dapat memberikan pengaruh yang lebih positif dengan mendorong para siswa agar ”menjadi kreatif”
Strategi pertama adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning). Guru menurut strategi ini berperan sebagai fasilitator yang menolong para siswa untuk melakukan refleksi diri, diskusi kelompok, bermain peran, melakukan presentasi secara dramatikal, dan berbagai aktifitas kelompok lainnya. Guru juga berperan sebagai teman belajar, inspirator, navigator, dan orang yang berbagi pengalaman. Para siswa diberi kebebasan untuk memilih perspektif yang akan mereka gunakan untuk mempelajari suatu topik. Berbagai metode tersebut akan membuat para siswa berubah dari pendengar pasif menjadi observer, mampu menunjukkan kemampuannya, dan co-learner. Guru hendaknya juga memberikan kesempatan kepada para siswa untuk memilih topik dalam berbagai tugas proyek individu atau kelompok. Melalui metode ini, kreatifitas ditimbulkan untuk mengeksplorasi berbagai ide yang dipandang menarik oleh para siswa. Collins dan Amabile (dalam Horng dkk., 2005) menyatakan bahwa motivasi intrinsik dan kreatifitas seorang siswa dapat ditingkatkan jika guru mmapu mendorong para siswa untuk mendiskusikan proses pembelajaran mereka yang secara intrinsik menyenangkan dan menggairahkan.
Strategi kedua adalah penggunaan berbagai peralatan bantu dalam pengajaran (multi-teaching aids assisstance). Guru-guru yang kreatif dan banyak akal menggunakan berbagai peralatan dalam mengajar, seperti penghancur kertas, kotak mainan, palu, naskah tulisan para siswa, power-point, komputer, dan peralatan multimedia untuk menggairahkan para siswa dalam berfikir, memperluas sudut pandangnya, dan memicu diskusi yang lebih mendalam. Tan (dalam Horng dkk., 2005) mengemukakan bahwa video terbukti efektif untuk meningkatkan kreatifitas para siswa. Storm dan Storm (dalam Horng dkk., 2005) juga menyatakan bahwa pelajaran yang difasilitasi oleh penggunaan video akan menjadi lebih atraktif, menarik, dan lebih mudah diingat oleh para siswa. Mata pelajaran juga akan lebih atraktif dan menstimulasi pada saat menggunakan komputer, transparansi, slide show, dan berbagai peralatan multimedia lainnya. Selain itu, keahlian penggunaan komputer merupakan prasyarat bagi guru yang kreatif dan akses terhadap sumber-sumber pendidikan yang berlimpah di internet.
Strategi ketiga adalah strategi manajemen kelas (class management strategies). Strategi ini mencakup pembuatan iklim interaksi antara guru dan siswa yang bersahabat dan memperlakukan siswa dengan menghormati berbagai kebutuhan dan individualitasnya. Guru diharapkan mampu berbicara dengan nada dan bahasa tubuh yang ramah (gentle) kepada para siswanya. Guru diharapkan juga tidak menginterupsi atau menghakimi secara tergesa-gesa pada saat para siswa mengekspresikan ide-idenya. Guru diharapkan mampu memberikan bimbingan, pertanyaan terbuka yang lebih banyak, atau menyampaikan pengalaman pribadinya sebagai referensi. Humor yang digunakan guru di dalam kelas dapat menjadi jembatan penghubung antara guru dan siswa, serta menyediakan lingkungan belajar yang santai.
Berbagai penelitian yang dilakukan di seluruh dunia (dalam Horng dkk., 2005) menunjukkan bahwa lingkungan belajar merupakan kunci untuk pembelajaran yang kreatif. Keterampilan untuk membuat interaksi bersahabat dengan siswa merupakan kualitas yang penting dari seorang guru yang kreatif. Guru yang mengajari siswanya untuk kreatif seharusnya juga mempercayai bahwa siswanya memiliki kemampuan untuk mendisiplinkan diri sendiri, berfokus pada komunikasi dan semangat demokratis, serta menolong siswanya untuk mengembangkan berbagai kelebihan individualitasnya.
Petrowski (dalam Horng dkk., 2005) mengemukakan beberapa prinsip untuk membangun lingkungan pembelajaran yang kreatif. Prinsip-prinsip tersebut yaitu: (a) menyediakan kesempatan untuk memilih dan mengetahui berbagai kemungkinan yang ada, (b) mendukung berbagai usaha untuk berbuat atau menciptakan, dan (c) mengimplementasikan strategi manajemen kelas yang tepat.
Strategi keempat untuk meningkatkan kreatifitas para siswa adalah dengan menghubungkan isi pengajaran dengan konteks kehidupan nyata. Esquivel (dalam Horng dkk., 2005) mengemukakan bahwa para siswa menyukai pelajaran yang berhubungan dengan berbagai peristiwa kehidupan nyata. Guru yang mampu memberikan pelajaran sesuai dengan konteks nyata kehidupan berarti telah membagikan pengalamannya kepada para siswa. Hal ini akan menjadi pemicu bagi para siswa untuk memberikan respon, berdiskusi, dan berfikir dalam tingkat tinggi.
Proses pengajaran yang terintegrasi akan menolong para siswa untuk mengembangkan keterampilan dalam mengekspresikan dan merealisasikannya dalam kehidupan nyata sehari-hari, menemukan contoh dalam kehidupan nyata untuk membuktikan apa yang telah mereka pelajari, dan menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan berbagai pengalaman kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan seharusnya memusatkan pada peningkatan keterampilan untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan dengan membebaskan kreatifitas para siswa.
Strategi kelima adalah menggunakan pertanyaan terbuka dan mendorong para siswa untuk berfikir kreatif (open questions and encouragement of creative thinking). Pertanyaan-pertanyaan terbuka akan menggerakkan para siswa untuk berfikir kreatif. Esquivel (dalam Horng dkk., 2005) bahkan menyatakan bahwa pertanyaan terbuka merupakan karakteristik dari guru yang kreatif. Guru yang kreatif juga selalu mendorong siswanya untuk membuat dan berimajinasi dalam diskusi kelompok. Berbagai hasil penelitian (dalam Horng dkk., 2005) menunjukkan bahwa para guru dapat memberikan pengaruh yang lebih positif dengan mendorong para siswa agar ”menjadi kreatif”
Posts by : Admin
Peran Guru di Kelas
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan.untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Itu karena secara prinsip, guru memegang dua tugas sekaligus masalah pokok, yakni pengajaran dan pengelolaan kelas.Tugas sekaligus masalah pertama, yakni pengajaran, dimaksudkan segala usaha membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, Usman dalam salah satu bukunya mengemukakan bahwa suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur murid dan sarana pembelajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Di sini, jelas sekali betapa pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terciptanya proses belajar-mengajar yang efektif pula.
Berdasarkan pendapat di atas, jelas betapa pentingnya pengelolaan kelas guna menciptakan suasana kelas yang kondusif demi meningkatkan kualitas pembelajaran. Pengelolaan kelas menjadi tugas dan tanggung jawab guru dengan memberdayakan segala potensi yang ada dalam kelas demi kelangsungan proses pembelajaran. Hal ini berarti setiap guru dituntut secara profesional mengelola kelas sehingga tercipta suasana kelas yang kondusif mulai dari awal hingga akhir pembelajaran.
Penciptaan suasana kelas yang kondusif guna menunjang proses pembelajaran yang optimal menuntut kemampuan guru untuk mengetahui, memahami, memilih, dan menerapkan pendekatan yang dinilai efektif menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam menunjang proses pembelajaran yang optimal.
Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya.
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggurfg jawab sosial tingkah laku sosial anak
Peran guru sebagai pelajar (leamer). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman
Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya
Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan
Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur.
Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan.
Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang sangat penting dikuasai dalam rangka proses pembelajaran
Berdasarkan pendapat di atas, jelas betapa pentingnya pengelolaan kelas guna menciptakan suasana kelas yang kondusif demi meningkatkan kualitas pembelajaran. Pengelolaan kelas menjadi tugas dan tanggung jawab guru dengan memberdayakan segala potensi yang ada dalam kelas demi kelangsungan proses pembelajaran. Hal ini berarti setiap guru dituntut secara profesional mengelola kelas sehingga tercipta suasana kelas yang kondusif mulai dari awal hingga akhir pembelajaran.
Penciptaan suasana kelas yang kondusif guna menunjang proses pembelajaran yang optimal menuntut kemampuan guru untuk mengetahui, memahami, memilih, dan menerapkan pendekatan yang dinilai efektif menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam menunjang proses pembelajaran yang optimal.
Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya.
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggurfg jawab sosial tingkah laku sosial anak
Peran guru sebagai pelajar (leamer). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman
Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya
Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan
Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur.
Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan.
Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang sangat penting dikuasai dalam rangka proses pembelajaran
Posts by : Admin
Tahap-Tahap Perkembangan Anak
Secara khusus, perkembangan kemampuan membaca pada anak berlangsung dalam beberapa tahap sebagai berikut:
1. Tahap fantasi (magical stage)
Pada tahap ini anak mulai belajar menggunakan buku, mulai berpikir bahwa buku itu penting, melihat atau membolak-balikan buku dan kadang-kadang anak membawa buku kesukaannya. Pada tahap pertama, guru dapat memberikan atau menunjukkan model/contoh tentang perlunya membaca, membacakan sesuatu pada anak, membicarakan buku pada anak.
2. Tahap pembentukan konsep diri (self concept stage)
Anak memandang dirinya sebagai pembaca, dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna pada gambar atau pengalaman sebelumnya dengan buku, menggunakan bahasa buku meskipun tidak cocok dengan tulisan.
Pada tahap kedua, orang tua atau guru memberikan rangsangan dengan jalan membacakan sesuatu pada anak. Guru hendaknya memberikan akses pada buku-buku yang diketahui anak-anak. Orang tua atau guru juga hendaknya melibatkan anak membacakan buku.
3. Tahap membaca gambar (bridging reading stage)
Pada tahap ini anak menjadi sadar pada cetakan yang tampak serta dapat menemukan kata yang sudah dikenal, dapat mengungkapkan kata-kata yang memiliki makna dengan dirinya, dapat mengulang kembali cerita yang tertulis, dapat mengenal cetakan kata dari puisi atau lagu yang dikenalinya serta sudah mengenal abjad.
Pada tahap ketiga, guru membacakan sesuatu pada anak-anak, menghadirkan berbagai kosa kata pada lagu dan puisi, memberikan kesempatan sesering mungkin.
4. Tahap pengenalan bacaan (take-off reader stage)
Anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (fraphoponic, semantic dan syntactic) secara bersama-sama. Anak tertarik pada bacaan, mulai mengingat kembali cetakan pada konteknya, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan serta membaca berbagai tanda seperti kotak susu, pasta gigi, atau papan iklan.
Pada tahap keempat guru masih harus membacakan sesuatu pada anak-anak sehingga mendorong anak membaca suatu pada berbagai situasi. Orang tua dan guru jangan memaksa anak membaca huruf secara sempurna.
5. Tahap membaca lancar (independent reader stage)
Pada tahap ini anak dapat membaca berbagai jenis buku yang berbeda secara bebas. Menyusun pengertian dari tanda, pengalaman dan isyarat yang dikenalnya, dapat membuat perkiraan bahan-bahan bacaan. Bahan-bahan yang berhubungan secara langsung dengan pengalaman anak semakin mudah dibaca. (DepDikNas, 2000 : 7 – 8).
Untuk memberikan rangsangan positif terhadap munculnya berbagai potensi keberbahasaan anak diatas maka permainan dan berbagai alatnya memegang peranan penting. Lingkungan (termasuk didalamnya peranan orang tua dan guru) seharusnya menciptakan berbagai aktifitas bermain secara sederhana yang memberikan arah dan bimbingan agar berbagai potensi yang tampak akan tumbuh dan berkembang secara optimal
1. Tahap fantasi (magical stage)
Pada tahap ini anak mulai belajar menggunakan buku, mulai berpikir bahwa buku itu penting, melihat atau membolak-balikan buku dan kadang-kadang anak membawa buku kesukaannya. Pada tahap pertama, guru dapat memberikan atau menunjukkan model/contoh tentang perlunya membaca, membacakan sesuatu pada anak, membicarakan buku pada anak.
2. Tahap pembentukan konsep diri (self concept stage)
Anak memandang dirinya sebagai pembaca, dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna pada gambar atau pengalaman sebelumnya dengan buku, menggunakan bahasa buku meskipun tidak cocok dengan tulisan.
Pada tahap kedua, orang tua atau guru memberikan rangsangan dengan jalan membacakan sesuatu pada anak. Guru hendaknya memberikan akses pada buku-buku yang diketahui anak-anak. Orang tua atau guru juga hendaknya melibatkan anak membacakan buku.
3. Tahap membaca gambar (bridging reading stage)
Pada tahap ini anak menjadi sadar pada cetakan yang tampak serta dapat menemukan kata yang sudah dikenal, dapat mengungkapkan kata-kata yang memiliki makna dengan dirinya, dapat mengulang kembali cerita yang tertulis, dapat mengenal cetakan kata dari puisi atau lagu yang dikenalinya serta sudah mengenal abjad.
Pada tahap ketiga, guru membacakan sesuatu pada anak-anak, menghadirkan berbagai kosa kata pada lagu dan puisi, memberikan kesempatan sesering mungkin.
4. Tahap pengenalan bacaan (take-off reader stage)
Anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat (fraphoponic, semantic dan syntactic) secara bersama-sama. Anak tertarik pada bacaan, mulai mengingat kembali cetakan pada konteknya, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan serta membaca berbagai tanda seperti kotak susu, pasta gigi, atau papan iklan.
Pada tahap keempat guru masih harus membacakan sesuatu pada anak-anak sehingga mendorong anak membaca suatu pada berbagai situasi. Orang tua dan guru jangan memaksa anak membaca huruf secara sempurna.
5. Tahap membaca lancar (independent reader stage)
Pada tahap ini anak dapat membaca berbagai jenis buku yang berbeda secara bebas. Menyusun pengertian dari tanda, pengalaman dan isyarat yang dikenalnya, dapat membuat perkiraan bahan-bahan bacaan. Bahan-bahan yang berhubungan secara langsung dengan pengalaman anak semakin mudah dibaca. (DepDikNas, 2000 : 7 – 8).
Untuk memberikan rangsangan positif terhadap munculnya berbagai potensi keberbahasaan anak diatas maka permainan dan berbagai alatnya memegang peranan penting. Lingkungan (termasuk didalamnya peranan orang tua dan guru) seharusnya menciptakan berbagai aktifitas bermain secara sederhana yang memberikan arah dan bimbingan agar berbagai potensi yang tampak akan tumbuh dan berkembang secara optimal
Langganan:
Postingan (Atom)