Tampilkan postingan dengan label pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Posts by : Admin
Pemahaman konsep Elaborasi, Eksplorasi, Konfirmasi
Behaviorisme adalah teori yang berlandaskan pada prinsip stimulus-respon. Menurut teori ini seluruh perilaku manusia muncul karena rangsangan eksternal. Tokoh yang berkontribusi pada teori ini di antaranya adalah Ivan Pavlov. Dengan menggunakan teori itu sebagai dasar pengelolaan kegiatan pembelajaran, peran utama pendidik sebagai faktor eksternal harus memberikan rangsangan kepada siswa agar siswa mampu merespon dengan baik serta meningkatkan perhatian atas apa yang harus dipelajarinya. Guru juga berperan agar respon yang siswa berikan diarahkan pada prilaku yang guru harapkan.
Tidak semua pakar sependapat dengan teori itu. Alasannya, respon dalam teori behaviorisme hanya berlaku pada hewan. Secara faktual kekuatan pada diri manusia tidak sesederhana itu. Manusia sebagai makhluk yang berakal dapat menunjukkan tingkat aktivitas yang jauh lebih sempurna. Manusia dapat mengembangkan aktivitas pikirannya jauh lebih kompleks. Manusia tidak hanya dapat merespon, namun dapat mengembangkan potensi pikirannya tanpa ada stimulus dari luar dirinya sekalipun. Manusia menunjukan kelebihannya sebagai konsekuensi dari proses berpikir atas akal yang dimilikinya.
Sekali pun prilaku siswa menunjukan kompleksitasnya, namun perubahan perilaku siswa dapat diamati terutama dari hasil belajarnya. Pandangan seperti ini muncul dari pihak yang pro kognitivisme. Penganut kognitivisme mengibaratkan pikiran manusia seperti komputer; mendapat input informasi, memproses informasi, dan menghasilkan outcomes tertentu. Alur sistem ini selanjutnya dijadikan landasan dalam meningkatkan mutu belajar.
Para ahli dari kelompok kognitif pada dasarnya berargumen bahwa “kotak gelap” otak manusia itu harus dibuka dan dipahami. Para pembelajar dipandang sebagai prosesor informasi dalam komputer. Oleh karena itu terdapat beberapa kata kunci dalam usaha memahami kecakapan berpikir seperti : skema, pengolahan informasi, manipulasi simbol, pemetaan informasi, penafsiran informasi, dan mental model.
Studi kognitivisme berfokus pada kegiatan batin atau mental, membuka kotak gelap pikiran manusia agar dapat memahami bagaimana orang belajar. Proses mental seperti berpikir, mengingat, mengetahui, memahami, memecahkan masalah perlu dicermati dengan teliti. Pengetahuan dapat dipahami sebagai skema atau konstruksi simbol-simbol mental. Belajar dipandang sebagai proses perubahan pada pikiran siswa.
Elaborasi
Kognitivisme memiliki beberapa cabang ilmu, di antaranya teori asimilasi, atribusi, pertunjukkan komponen, elaborasi, mental model, dan pengembangan kognitif. Teori elaborasi adalah teori mengenai desain pembelajaran dengan dasar argumen bahwa pelajaran harus diorganisasikan dari materi yang sederhana menuju pada harapan yang kompleks dengan mengembangkan pemahaman pada konteks yang lebih bermakna sehingga berkembang menjadi ide-ide yang terintegrasi. Pengertian ini dirumuskan Charles Reigeluth dari Indiana University dan koleganya pada tahun 1970-an. Konsep ini memiliki tiga kata kunci yang fokus pada urutan elaborasi konsep, elaborasi teori, dan penyederhanaan kondisi.
Pembelajaran dimulai dari konsep sederhana dan pekerjaan yang mudah. Bagaimana mengajarkan secara menyeluruh dan mendalam, serta menerapkan prinsip agar menjadi lebih detil. Prinsipnya harus menggunakan topik dengan pendekatan spiral. Sejumlah konsep dan tahapan belajar harus dibagi dalam “episode belajar”. Selanjutnya siswa memilih konsep, prinsip, atau versi pekerjaan yang dielaborasi atau dipelajari.
Pendekatan elaborasi berkembang sejalan dengan tumbuhnya perubahan paradigma pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa sebagai kebutuhan baru dalam menerapkan langkah-langkah pembelajaran. Dari pikiran Reigeluth lahirlah desain yang bertujuan membantu penyeleksian dan pengurutan materi yang dapat meningkatkan pecapaian tujuan. Para pendukung teori ini juga menekankan pentingnya fungsi-fungsi motivator, analogi, ringkasan, dan sintesis yang membantu meningkatkan efektivitas belajar. Teori ini pun memberikan perhatian pada aspek kognitif yang kompleks dan pembelajaran psikomotor. Ide dasarnya adalah siswa perlu mengembangkan makna kontekstual dalam urutan pengetahuan dan keterampilan yang berasimilasi.
Menurut Reigeluth (1999), teori elaborasi mengandung beberapa nilai lebih, seperti di bawah ini.
* Terdapat urutan instruksi yang mencakup keseluruhan sehingga memungkinkan untuk meningkatkan motivasi dan kebermaknaan.
* Memberi kemungkinan kepada pelajar untuk mengarungi berbagai hal dan memutuskan urutan proses belajar sesuai dengan keinginannya.
* Memfasilitasi pelajar dalam mengembangkan proses pembelajaran dengan cepat.
* Mengintegrasikan berbagai variabel pendekatan sesuai dengan desain teori.
Teori elaborasi mengajukan tujuh komponen strategi yang utama, (1) urutan elaborasi (2) urutan prasyarat belajar (3) ringkasan (4) sintesis (5) analogi (6) strategi kognitif, dan (7) kontrol terhadap siswa. Komponen terpenting yang melandasi semua itu adalah perhatian.
Semua stratregi itu harus berlandaskan pada materi dalam bentuk konsep, prosedur, dan prinsip. Hal itu terkait erat dengan proses elaborasi yang berkelanjutan, melibatkan siswa dalam pengembangan ide atau keterampilan dalam aplikasi praktis. Strategi ini memungkinkan siswa untuk menambahkan sendiri ide dalam menguatkan pengetahuannya. Contoh yang tepat untuk ini adalah peserta didik yang memiliki daftar contoh konsep atau sifat yang dapat bermanfaat.
Eksplorasi
Eksplorasi adalah upaya awal membangun pengetahuan melalui peningkatan pemahaman atas suatu fenomena (American Dictionary). Strategi yang digunakan memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan menerapkan strategi belajar aktif.
Pendekatan pembelajaran yang berkembang saat ini secara empirik telah melahirkan disiplin baru pada proses belajar. Tidak hanya berfokus pada apa yang dapat siswa temukan, namun sampai pada bagaimana cara mengeksplorasi ilmu pengetahuan. Istilah yang populer untuk menggambarkan kegiatan ini ialah “explorative learning”. Konsep ini mengingatkan kita pada pernyataan Lao Tsu, seorang filosof China yang menyatakan “I hear and I forget. I see and I remember. I do and I understand.”
Jaringan komputer pada saat ini telah dikembangkan menjadi media yang efektif sebagai penunjang efektifitas pelaksanaan pembelajaran eksploratif. Salah satu model yang dikembangkan oleh Heimo adalah Architecture of Integrated Information System sebagai model terintegrasi yang menggambarkan kompleksnya proses pembelajaran yang efektif dan interaktif.
Pendekatan belajar yang eksploratif tidak hanya berfokus pada bagaimana mentransfer ilmu pengetahuan, pemahaman, dan interpretasi, namun harus diimbangi dengan peningkatan mutu materi ajar. Informasi tidak hanya disusun oleh guru. Perlu ada keterlibatan siswa untuk memperluas, memperdalam, atau menyusun informasi atas inisiatifnya. Dalam hal ini siswa menyusun dan memvalidasi informasi sebagai input bagi kegiatan belajar (Heimo H. Adelsberger, 2000).
Peta Konsep yang dikembangkan oleh Laurillard (2002) dalam tulisan Heimo menunjukan kompleksitas kegiatan eksplorasi dalam proses pembelajaran yang mengharuskan adanya proses dialog yang (1) interaktif (2) adaptif, interaktif dan reflektif (3) menggambarkan tingkat-tingkat penguasaan pokok bahasan (4) menggambarkan level kegiatan yang berkaitan dengan meningkatkan keterampilan menyelesaikan tugas sehingga memeperoleh pengalaman yang bermakna. Ada pun konsep tersebut dapat disajikan seperti diagram di bawah ini :
Pendekatan eksploratif berkembang sebagai pendekatan pembelajaran dalam bidang lingkungan atau sains. Sylvia Luretta dari Fakultas Pendidikan Queensland misalnya, mengintegrasikan pendekatan ini dengan lima faktor yang menyebabkan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna, yaitu belajar aktif, belajar konstruktif, belajar intens, belajar otentik, dan kolaboratif yang menegaskan pernyataan bahwa pembelajaran eksploratif lebih menekankan pada pengalaman belajar daripada pada materi pelajaran.
Dari pengalaman menggunakan model kooperatif dan kolaboratif dalam praktek pembelajaran pengelolaan kelas ternyata mampu meningkatkan kinerja belajar siswa dalam melakukan langkah-langkah eksploratif.
Model pembelajaran ini dapat dikembangkan melalui bentuk pertanyaan. Seperti yang dikatakan oleh Socrates bahwa pertanyaan yang baik dapat meningkatkan motivasi siswa untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan lebih mendalam.
Eksplorasi merupakan proses kerja dalam memfasilitasi proses belajar siswa dari tidak tahu menjadi tahu. Siswa menghubungkan pikiran yang terdahulu dengan pengalaman belajarnya. Mereka menggambarkan pemahaman yang mendalam untuk memberikan respon yang mendalam juga. Bagaimana membedakan peran masing-masing dalam kegiatan belajar bersama. Mereka melakukan pembagian tugas seperti dalam tugas merekam, mencari informasi melalui internet serta memberikan respon kreatif dalam berdialog.
Di samping itu siswa menindaklanjuti penelusuran informasi dengan membandingkan hasil telaah. Secara kolektif, mereka juga dapat mengembangkan hasil penelusuran informasi dalam bentuk grafik, tabel, diagram serta mempresentasikan gagasan yang dimiliki.
Pelaksanaan kegiatan eksplorasi dapat dilakukan melalui kerja sama dalam kelompok kecil. Bersama teman sekelompoknya siswa menelusuri informasi yang mereka butuhkan, merumuskan masalah dalam kehidupan nyata, berpikir kritis untuk menerapkan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan yang nyata dan bermakna.
Melalui kegiatan eksplorasi siswa dapat mengembangkan pengalaman belajar, meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan serta menerapkannya untuk menjawab fenomena yang ada. Siswa juga dapat mengeksploitasi informasi untuk memperoleh manfaat tertentu sebagai produk belajar.
Konfirmasi
Kebenaran ilmu pengetahuan itu relatif. Sesuatu yang saat ini dianggap benar bisa berubah jika kemudian ditemukan fakta baru yang bertentangan dengan konsep tersebut. Oleh karena itu, sikap keilmuan selalu terbuka dalam memperbaiki pengetahuan sebelumnya berdasarkan penemuan terbaru. Sikap berpikir kritis dan terbuka seperti itu telah membangun sikap berpikir yang apriori, yaitu tidak meyakini sepenuhnya yang benar saat ini mutlak benar atau yang salah mutlak salah. Semua dapat berubah.
Cara berpikir seperti itu tercermin dalam istilah mental model yang mendeskripsikan sikap berpikir seseorang dan bagaimana pikirannya berproses dalam kehidupan nyata. Hal tersebut merepresentasikan proses perubahan sebagai bagian dari persepsi intuitif. Mental model itu membantu seseorang dalam mendefinisikan maupun menetapkan pendekatan untuk memecahkan masalah (wikipedia). Dengan sikap berpikir seperti itu siswa dapat mengembangkan, mengembangkan ulang, dan menggugurkan pengetahuannya jika telah menemukan kebenaran yang lain.
Mental model itu juga dapat melahirkan keraguan terhadap informasi yang diperolehnya. Untuk meningkatkan keyakinan akan kebenaran maka siswa dapat difasilitasi dalam mengembangkan model struktur sseperti pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi atau klarifikasi.
Model ini dapat dinyatakan dalam diagram seperti tertuang di bawah ini meliputi enggage, explore, explain, extend, dan berpusat pada pengembangan kemampuan mengevaluasi sebagaimana yang dikembangkan Anthony W. Lorsbach dari Universitas Illinois sebagai berikut
Dalam prakteknya guru meningkatkan kemampuan ini melalui pengembangan materi. Baik mengenai hal apa yang ingin diketahui siswa lebih jauh, seperti apa tingkat pemahaman dan penguasaan yang ingin dikembangkan dan keraguan apa yang melekat dalam pemahaman tersebut.
Sikap keraguan itu perlu dijawab dengan mengkonfirmasikan terhadap unsur-unsur yang dapat meningkatkan kejelasan atas kebenaran suatu informasi. Siswa melakukan uji kesahihan apakah informasi yang dijadikan landasan kesimpulan itu benar-benar kuat.
Penguatan itu sendiri diperoleh melalui kegiatan eksplorasi melalui perluasan pengalaman, elaborasi melalui sharing dan observation, proses dan genaralisasi dan akhirnya siswa menerapkan pembelajaran yang berstandar dengan merujuk pada paradigma kognitifisme.
Posts by : Admin
Hukuman Terhadap siswa
Hukuman secara fisik dan emosional dari guru terhadap murid merupakan hal yang lumrah terjadi di dalam sistem pendidikan di Indonesia. Banyak guru biasa mencubit, memukul anak-anak bahkan menghina mereka, baik di sekolah-sekolah negeri maupun sekolah yang berbasis keagamaan. Kadang guru tidak menyadari bahwa hal ini sebetulnya terlarang dalam hukum Indonesia. Undang-undang Perlindungan Anak No. 23, bab 54 secara tegas menyatakan bahwa guru dan siapapun lainnya di sekolah dilarang untuk memberikan hukuman fisik kepada anak-anak. Terlebih lagi Indonesia merupakan salah satu penanda tanganan dari konversi PBB untuk Hak-hak Anak, disebutkan dalam artikel 37 yang mengharuskan negara menjamin bahwa: ”Tak seorang anakpun boleh mendapatkan siksaan atau kekejaman lainnya, tindakan tidak manusiawi ataupun perlakuan yang merendahkan atau hukuman”. Meski demikian, tampaknya undang-undang tersebut belum dipahami oleh kebanyakan pelaku pendidikan, hal ini sebagaimana laporan penelitian Ibu Nur Hidayati, dkk, dari penelitian lapangan terhadap 8 Madrasah Ibtidaiyah di propinsi Riau ditemukan bahwa hukuman jasmani lumrah terjadi di semua madrasah yang dituju, dengan kisaran antara 50% - 80%, anak-anak melaporkan bahwa mereka pernah mengalami hal ini dari guru-guru mereka secara rutin.[1]
Ibarat gunung es, kasus di atas baru di permukaan. Masih banyak tindak kekerasan dalam pendidikan yang tidak tampak. Demikian rapuhnya dunia pendidikan kita, hingga aksi kekerasan dan pelanggaran HAM para pelajar, para remaja, para penerus generasi bangsa terus meningkat.
Hak Anak dalam Pendidikan
Dalam Deklarasi Universal HAM (Universal Declaration of Human Rights) Pasal 1 disebutkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Pendidikan hendaknya diselenggarakan secara bebas (biaya), sekurang-kurangnya pada tingkat dasar. Di samping itu, pendidikan dasar haruslah bersifat wajib; pendidikan keahlian dan teknik hendaknya dibuat secara umum dapat diikuti oleh peminatnya; dan pendidikan tinggi hendaknya dapat diakses secara sama bagi semua orang atas dasar kelayakan.
Dalam Pasal 2 Deklarasi HAM juga dinyatakan bahwa pendidikan hendaknya diarahkan untuk mengembangkan secara utuh kepribadian manusia dan memperkokoh penghormatan terhadap HAM dan kebebasan asasi. Pendidikan hendaknya mendorong saling pengertian, toleransi, dan persahabatan antar berbagai bangsa tanpa memandang perbedaan ras dan agama, dan hendaknya meningkatkan kegiatan PBB untuk memelihara perdamaian.
Sedangkan pada Pasal 3 disebutkan bahwa orang tua memiliki hak utama untuk menentukan jenis pendidikan yang semestinya diberikan kepada anak-anak mereka. PBB menindaklanjuti pasal-pasal ini melalui berbagai kegiatan untuk memelihara perdamaian dunia. Dengan kata lain, pendidikan damai adalah upaya menyeluruh PBB melalui proses belajar mengajar yang humanis, dan para pendidik damai yang memfasilitasi perkembangan manusia. Mereka berjuang melawan proses dehumanisasi yang ditimbulkan akibat kemiskinan, prasangka diskriminasi, perkosaan, kekerasan, dan perang.
Dalam upaya global, para pendidik berupaya memajukan pengajaran nilai, standar dan prinsip yang terwujud dalam instrumen sebagaimana Pemusnahan Semua Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on Elimination of all Form of Discrimination Against Women, CEDAW),[2]Descrimination Based on Religion or Belief).[3] Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child, CRC), dan Deklarasi Sedunia tentang Pendidikan untuk semua (Education for all).
Secara khusus dalam CRC terdapat empat prinsip dasar dalam menyelenggarakan pendidikan yang dapat memenuhi hak anak, yaitu: non-discrimination (non diskriminasi), the best interests of the child (kepentingan terbaik bagi anak), the right to life, survival and development (hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan), dan respect for the views of the child (penghargaan terhadap pendapat anak).
Pertama, Non-Discrimination. Yang dimaksud non diskriminasi adalah penyelenggaraan pendidikan anak yang bebas dari diskriminasi dalam bentuk apapun, tanpa memandang etnis, agama, jenis kelamin, ekonomi, keluarga, bahasa dan kelahiran serta kedudukan anak dalam status keluarga. Untuk mengimplementasikan prinsip ini pemerintah memiliki kewajiban untuk mengambil langkah-langkah yang layak.[4]
Kedua, The Best Interests of The Child. Yang dimaksud dengan prinsip Kepentingan Terbaik bagi Anak adalah dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan, kesejahteraan sosial pemerintah maupun swasta, lembaga peradilan, badan legislatif, dan badan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama.[5]
Ketiga, The Right to Life, Survival and Development. Yang dimaksud dengan prinsip hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan adalah hak asasi yang paling mendasar bagi anak yang harus dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orangtua.[6] Karena itulah KHA memandang pentingnya pengakuan serta jaminan dari negara bagi kelangsungan hidup dan perkembangan anak, seperti dinyatakan dalam pasal 6 ayat 1, bahwa negara-negara peserta mengakui bahwa setiap anak memilki hak yang melekat atas kehidupan (inherent right to life)”, serta ayat 2 “ negara-negara peserta secara maksimal mungkin akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan anak (survival and development of child)”.[7]
Keempat, Respect for The Views of The Child. Yang dimaksud dengan penghargaan terhadap pendapat anak adalah penghormatan atas hak-hak anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan terutama jika menyangkut hal-hal yang mempengaruhi kehidupannya.
Ibarat gunung es, kasus di atas baru di permukaan. Masih banyak tindak kekerasan dalam pendidikan yang tidak tampak. Demikian rapuhnya dunia pendidikan kita, hingga aksi kekerasan dan pelanggaran HAM para pelajar, para remaja, para penerus generasi bangsa terus meningkat.
Hak Anak dalam Pendidikan
Dalam Deklarasi Universal HAM (Universal Declaration of Human Rights) Pasal 1 disebutkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Pendidikan hendaknya diselenggarakan secara bebas (biaya), sekurang-kurangnya pada tingkat dasar. Di samping itu, pendidikan dasar haruslah bersifat wajib; pendidikan keahlian dan teknik hendaknya dibuat secara umum dapat diikuti oleh peminatnya; dan pendidikan tinggi hendaknya dapat diakses secara sama bagi semua orang atas dasar kelayakan.
Dalam Pasal 2 Deklarasi HAM juga dinyatakan bahwa pendidikan hendaknya diarahkan untuk mengembangkan secara utuh kepribadian manusia dan memperkokoh penghormatan terhadap HAM dan kebebasan asasi. Pendidikan hendaknya mendorong saling pengertian, toleransi, dan persahabatan antar berbagai bangsa tanpa memandang perbedaan ras dan agama, dan hendaknya meningkatkan kegiatan PBB untuk memelihara perdamaian.
Sedangkan pada Pasal 3 disebutkan bahwa orang tua memiliki hak utama untuk menentukan jenis pendidikan yang semestinya diberikan kepada anak-anak mereka. PBB menindaklanjuti pasal-pasal ini melalui berbagai kegiatan untuk memelihara perdamaian dunia. Dengan kata lain, pendidikan damai adalah upaya menyeluruh PBB melalui proses belajar mengajar yang humanis, dan para pendidik damai yang memfasilitasi perkembangan manusia. Mereka berjuang melawan proses dehumanisasi yang ditimbulkan akibat kemiskinan, prasangka diskriminasi, perkosaan, kekerasan, dan perang.
Dalam upaya global, para pendidik berupaya memajukan pengajaran nilai, standar dan prinsip yang terwujud dalam instrumen sebagaimana Pemusnahan Semua Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on Elimination of all Form of Discrimination Against Women, CEDAW),[2]Descrimination Based on Religion or Belief).[3] Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child, CRC), dan Deklarasi Sedunia tentang Pendidikan untuk semua (Education for all).
Secara khusus dalam CRC terdapat empat prinsip dasar dalam menyelenggarakan pendidikan yang dapat memenuhi hak anak, yaitu: non-discrimination (non diskriminasi), the best interests of the child (kepentingan terbaik bagi anak), the right to life, survival and development (hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan), dan respect for the views of the child (penghargaan terhadap pendapat anak).
Pertama, Non-Discrimination. Yang dimaksud non diskriminasi adalah penyelenggaraan pendidikan anak yang bebas dari diskriminasi dalam bentuk apapun, tanpa memandang etnis, agama, jenis kelamin, ekonomi, keluarga, bahasa dan kelahiran serta kedudukan anak dalam status keluarga. Untuk mengimplementasikan prinsip ini pemerintah memiliki kewajiban untuk mengambil langkah-langkah yang layak.[4]
Kedua, The Best Interests of The Child. Yang dimaksud dengan prinsip Kepentingan Terbaik bagi Anak adalah dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan, kesejahteraan sosial pemerintah maupun swasta, lembaga peradilan, badan legislatif, dan badan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama.[5]
Ketiga, The Right to Life, Survival and Development. Yang dimaksud dengan prinsip hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan adalah hak asasi yang paling mendasar bagi anak yang harus dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orangtua.[6] Karena itulah KHA memandang pentingnya pengakuan serta jaminan dari negara bagi kelangsungan hidup dan perkembangan anak, seperti dinyatakan dalam pasal 6 ayat 1, bahwa negara-negara peserta mengakui bahwa setiap anak memilki hak yang melekat atas kehidupan (inherent right to life)”, serta ayat 2 “ negara-negara peserta secara maksimal mungkin akan menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan anak (survival and development of child)”.[7]
Keempat, Respect for The Views of The Child. Yang dimaksud dengan penghargaan terhadap pendapat anak adalah penghormatan atas hak-hak anak untuk berpartisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan terutama jika menyangkut hal-hal yang mempengaruhi kehidupannya.
Posts by : Admin
Strategi Pajangan Siswa
Diantara implementasi dari Pakem atau Paikem adalah pajangan, tetapi bagaimana strategi pajangan siswa yang baik, sekarang banyak sekali guru di Indonesia yang memajang hasil karya siswa di dalam maupun di luar kelas sebagai bentuk apresiasi terhadap siswa yang telah berusaha keras mengerjakan tugas-tugas tersebut. Bahkan kadang-kadang sekolah-sekolah mengadakan pameran sebagai upaya menunjukkan prestasi siswa. Masalahnya, apakah sebuah kelas hanya perlu didekorasi dengan pajangan karya siswa? Tidak bisakah guru lebih kreatif dengan memajang berbagai artefak atau media pembelajar seperti poster, majalah, artikel, model, miniatur, kartu, mainan, binatang piaraan atau benda-benda lain yang menunjang topik pembelajaran saat itu?
Sebagai contoh, seandainya topik yang diajarkan tentang Benua Asia, guru bisa menugaskan siswa membawa media pembelajar tersebut. Lalu, apakah tujuan mendekorasi kelas semacam ini?
1. Sebelum mengajar tentang sebuah topik, guru perlu mengetahui lebih awal seberapa jauh siswa telah memahami bahan ajar atau pengetahuan awal (prior knowledge). Ini penting karena guru tidak boleh mengajar hal-hal yang sudah dipahami siswa karena pengulangan selalu membuat siswa bosan. Dengan mengetahui pengetahuan awal siswa, guru dapat membuat rancangan pembelajaran yang tepat.
2. Siswa akan lebih kreatif dalam berpikir. Mintalah siswa untuk membuat pertanyaan dasar (apa, di mana, siapa, kapan, mengapa, bagaimana) dan gunakan untuk menulis komentar.
3. Siswa dapat belajar dari teman. Akan lebih baik apabila siswa mempresentasikan artifaknya di kelas supaya terbangun pula cara perpikir dari bermacam sudut pandang yang berbeda.
4. Sumber belajar tidak harus diperoleh di perpustakaan atau internet. Jika siswa mempresentasikan artifak yang dibawanya maka ia belajar menjadi narasumber. Keterampilan yang dikembangkan dalam hal ini tentu saja keterampilan berkomunikasi dan berpikir. Selain itu kepercayaan diri juga akan tumbuh. Setelah selesai presentasi, pajanglah artifak tersebut di kelas.
5. Ketika siswa mempresentasikan artifak, informasi yang disampaikan sangat sedikit karena hal ini sebagai prior knowledge saja. Seiring dengan proses belajar di kelas, maka pemahaman siswa akan bertambah.
6. Display atau artifak sebagai media untuk mengembangan seni, dalam hal ini visual art. Jika siswa mencari artifak berupa artikel dari surat kabar atau majalah, maka izinkan mereka untuk menghias bingkai artikel sesuai jiwa seni mereka
Sebagai contoh, seandainya topik yang diajarkan tentang Benua Asia, guru bisa menugaskan siswa membawa media pembelajar tersebut. Lalu, apakah tujuan mendekorasi kelas semacam ini?
1. Sebelum mengajar tentang sebuah topik, guru perlu mengetahui lebih awal seberapa jauh siswa telah memahami bahan ajar atau pengetahuan awal (prior knowledge). Ini penting karena guru tidak boleh mengajar hal-hal yang sudah dipahami siswa karena pengulangan selalu membuat siswa bosan. Dengan mengetahui pengetahuan awal siswa, guru dapat membuat rancangan pembelajaran yang tepat.
2. Siswa akan lebih kreatif dalam berpikir. Mintalah siswa untuk membuat pertanyaan dasar (apa, di mana, siapa, kapan, mengapa, bagaimana) dan gunakan untuk menulis komentar.
3. Siswa dapat belajar dari teman. Akan lebih baik apabila siswa mempresentasikan artifaknya di kelas supaya terbangun pula cara perpikir dari bermacam sudut pandang yang berbeda.
4. Sumber belajar tidak harus diperoleh di perpustakaan atau internet. Jika siswa mempresentasikan artifak yang dibawanya maka ia belajar menjadi narasumber. Keterampilan yang dikembangkan dalam hal ini tentu saja keterampilan berkomunikasi dan berpikir. Selain itu kepercayaan diri juga akan tumbuh. Setelah selesai presentasi, pajanglah artifak tersebut di kelas.
5. Ketika siswa mempresentasikan artifak, informasi yang disampaikan sangat sedikit karena hal ini sebagai prior knowledge saja. Seiring dengan proses belajar di kelas, maka pemahaman siswa akan bertambah.
6. Display atau artifak sebagai media untuk mengembangan seni, dalam hal ini visual art. Jika siswa mencari artifak berupa artikel dari surat kabar atau majalah, maka izinkan mereka untuk menghias bingkai artikel sesuai jiwa seni mereka
Posts by : Admin
Pendekatan S-T-M
Pendekatan S-T-M pada awalnya merupakan salah satu pendekatan yang ditujukan untuk pendidikan ilmu alam (natural science education). Pertama kali berkembang di Amerika Serikat, selanjutnya di Inggris dengan nama SATIS (Science Technology in Society), di Eropa dikembangkan EU-SATIS. Sedangkan di Israel dengan istilah (Science Technology Environment Society) dan di negara-negara Afrika dengan nama Science Policy. Sedangkan istilah Sains-Teknologi-Masyarakat (S-T-M atau SATEMAS) sendiri pertama kali dikemukakan oleh John Ziman dalam bukunya Teaching and Learning About Science and Society.
Sains dan teknologi dalam kehidupan masyarakat khususnya dunia pendidikan mempunyai hubungan yang erat. Hal ini dapat dipahami karena ilmu pengetahuan pada dasarnya menjelaskan tentang konsep. Sedangkan teknologi merupakan suatu seni/keterampilan sebagai perwujudan dari konsep yang telah dipelajari dan dipahami. Dengan kata lain untuk memahami sains dan teknologi berarti harus memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah dengan menggunakan konsep-konsep ilmu, mengenal teknologi yang ada di masyarakat serta dampaknya, mampu menggunakan dan memelihara hasil teknologi, kreatif membuat hasil teknologi sederhana, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakatnya.
Hubungan saling mempengaruhi dan ketergantungan antara sains, teknologi dan masyarakat dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar1. Hubungan antara Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Masyarakat
Diadaptasi dari Hungerford dalam Fajar.
Definisi S-T-M menurut The National Science Teachers Association (NSTA) adalah belajar dan mengajar sains dalam konteks pengalaman manusia. Sedangkan Poedjiadi (2005:47) mengatakan bahwa pembelajaran S-T-M berarti menggunakan teknologi sebagai penghubung antara sains dan masyarakat.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Pendekatan S-T-M merupakan suatu strategi pembelajaran yang memadukan pemahaman dan pemanfaatan sains, teknologi dan masyarakat dengan tujuan agar konsep sains dapat diaplikasikan melalui keterampilan yang bermanfaat bagi peserta didik dan masyarakat.
Menurut Fajar (2003:108), mengemukakan pada umumnya S-T-M memiliki karakteristik/ciri-ciri sebagai berikut:
a. Identifikasi masalah-masalah setempat yang memiliki kepentingan dan dampak.
b. Penggunaan sumber daya setempat (manusia, benda, lingkungan) untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah.
c. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.
d. Perpanjangan belajar di luar kelas dan sekolah.
e. Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap siswa.
f. Suatu pandangan bahwa isi dari pada sains bukan hanya konsep-konsep saja yang harus dikuasai siswa dalam tes.
g. Penekanan pada keterampilan proses dimana siswa dapat menggunakannya dalam memecahkan masalah.
h. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi.
i. Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga negara dimana ia mencoba untuk memecahkan isu-isu yang telah diidentiflkasikan.
j. Identifikasi sejauhmana sains dan teknologi berdampak di masa depan.
k. Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.
Dari karakteristik S-T-M yang dikemukakan Yager, dapat dikatakan bahwa pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan S-T-M diawali dengan isu dan isu itulah yang merupakan ciri utamanya. Karena dengan mengemukakan isu mendorong peserta didik untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah yang diakibatkan oleh isu tersebut. Dalam memecahkan masalah peserta didik akan mencari informasi dari berbagai sumber, bukan hanya di dalam kelas melainkan di luar kelas dengan menggunakan berbagai cara termasuk memanfaatkan teknologi. Dengan demikian peserta didik belajar menemukan dan menyusun sendiri pengetahuan yang diperolehnya dari proses belajar yang dilakukannya. Selain itu proses belajar juga merupakan kesempatan bagi peserta didik untuk dapat berpartisipasi sebagai warga negara.
Sains dan teknologi dalam kehidupan masyarakat khususnya dunia pendidikan mempunyai hubungan yang erat. Hal ini dapat dipahami karena ilmu pengetahuan pada dasarnya menjelaskan tentang konsep. Sedangkan teknologi merupakan suatu seni/keterampilan sebagai perwujudan dari konsep yang telah dipelajari dan dipahami. Dengan kata lain untuk memahami sains dan teknologi berarti harus memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah dengan menggunakan konsep-konsep ilmu, mengenal teknologi yang ada di masyarakat serta dampaknya, mampu menggunakan dan memelihara hasil teknologi, kreatif membuat hasil teknologi sederhana, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakatnya.
Hubungan saling mempengaruhi dan ketergantungan antara sains, teknologi dan masyarakat dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar1. Hubungan antara Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Masyarakat
Diadaptasi dari Hungerford dalam Fajar.
Definisi S-T-M menurut The National Science Teachers Association (NSTA) adalah belajar dan mengajar sains dalam konteks pengalaman manusia. Sedangkan Poedjiadi (2005:47) mengatakan bahwa pembelajaran S-T-M berarti menggunakan teknologi sebagai penghubung antara sains dan masyarakat.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Pendekatan S-T-M merupakan suatu strategi pembelajaran yang memadukan pemahaman dan pemanfaatan sains, teknologi dan masyarakat dengan tujuan agar konsep sains dapat diaplikasikan melalui keterampilan yang bermanfaat bagi peserta didik dan masyarakat.
Menurut Fajar (2003:108), mengemukakan pada umumnya S-T-M memiliki karakteristik/ciri-ciri sebagai berikut:
a. Identifikasi masalah-masalah setempat yang memiliki kepentingan dan dampak.
b. Penggunaan sumber daya setempat (manusia, benda, lingkungan) untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah.
c. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.
d. Perpanjangan belajar di luar kelas dan sekolah.
e. Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap siswa.
f. Suatu pandangan bahwa isi dari pada sains bukan hanya konsep-konsep saja yang harus dikuasai siswa dalam tes.
g. Penekanan pada keterampilan proses dimana siswa dapat menggunakannya dalam memecahkan masalah.
h. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi.
i. Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga negara dimana ia mencoba untuk memecahkan isu-isu yang telah diidentiflkasikan.
j. Identifikasi sejauhmana sains dan teknologi berdampak di masa depan.
k. Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.
Dari karakteristik S-T-M yang dikemukakan Yager, dapat dikatakan bahwa pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan S-T-M diawali dengan isu dan isu itulah yang merupakan ciri utamanya. Karena dengan mengemukakan isu mendorong peserta didik untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah yang diakibatkan oleh isu tersebut. Dalam memecahkan masalah peserta didik akan mencari informasi dari berbagai sumber, bukan hanya di dalam kelas melainkan di luar kelas dengan menggunakan berbagai cara termasuk memanfaatkan teknologi. Dengan demikian peserta didik belajar menemukan dan menyusun sendiri pengetahuan yang diperolehnya dari proses belajar yang dilakukannya. Selain itu proses belajar juga merupakan kesempatan bagi peserta didik untuk dapat berpartisipasi sebagai warga negara.
Posts by : Admin
Transisi Peralihan Pendidikan
Pra Sekolah Dasar banyak yang perlu difikirkan dan dicermati, ketika siswa baru mengapa ? karena murid baru pada siswa kelas 1 Sekolah dasar merupakan jenjang kelas transisi atau peralihan dari jenjang pendidikan prasekolah/PAUD kepada jenjang pendidikan sekolah/akademik yang menuntut peserta didiknya memiliki performance Kesiapan Belajar yang baik. Namun seringkali Kesiapan Belajar ini menjadi kendala yang berarti manakala jenjang pendidikan sebelumnya (prasekolah/PAUD) belum mampu memapankan performance Kesiapan Belajar peserta didiknya yang telah menamatkan program belajarnya. Selain itu Kesiapan Belajar menjadi masalah manakala kemampuan adaptasi belajar anak cukup rendah. Dan akhirnya terbawa menjadi masalah sehari-hari dalam kegiatan belajar di sekolah. Kemampuan berhitung dasar merupakan salah satu komponen kesiapan belajar yang amat penting, selain itu berhitung dasar dalam mata pelajaran matematika juga menjadi materi yang strategis untuk menyiapkan kemampuan awal akademik anak. Hanya saja permasalahan yang ada di lapangan adalah jumlah anak yang belum memiliki keterampilan berhitung dasar masih cukup tinggi.
sesuatu ang perlu digambarkan strategi yang dilakaukan guru ketika siswa tidak tertarik untuk mengikuti pembelajaran matematika. Solusi yang ditawarkan dalam program ini adalah Membuka percakapan sederhana tentang sesuatu yang sempat teramati oleh siswa, mengajak siswa untuk mengeksplorasi dengan membilang yang ada di lingkungan sekitar, memberikan pula contoh langsung oleh guru dengan benda/sesuatu yang telah disiapkan dan meminta siswa melakukan hal yang sama. Dan Terakhir adalah memberi penguatan ketika mereka memberi respons terhadap apa yang kita contohkan.
dan guru terkadang mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatian siswa terhadap materi yang diajarkan. Solusi yang ditawarkan adalah dengan menggunakan alat peraga yang menarik. Siswa dialihkan dan arahkan perhatiannya pada alat peraga yang digunakan guru dalam mengajar. Selain itu siswa diajak mengeksplorasi dengan alat peraga yang disiapkan guru dengan cara meraba atau menggunakan langsung dan terakhir siswa diminta mengekspresikan kegembiraan selama kegiatan tersebut berlangsung yang dilakukan secara verbal
sesuatu ang perlu digambarkan strategi yang dilakaukan guru ketika siswa tidak tertarik untuk mengikuti pembelajaran matematika. Solusi yang ditawarkan dalam program ini adalah Membuka percakapan sederhana tentang sesuatu yang sempat teramati oleh siswa, mengajak siswa untuk mengeksplorasi dengan membilang yang ada di lingkungan sekitar, memberikan pula contoh langsung oleh guru dengan benda/sesuatu yang telah disiapkan dan meminta siswa melakukan hal yang sama. Dan Terakhir adalah memberi penguatan ketika mereka memberi respons terhadap apa yang kita contohkan.
dan guru terkadang mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatian siswa terhadap materi yang diajarkan. Solusi yang ditawarkan adalah dengan menggunakan alat peraga yang menarik. Siswa dialihkan dan arahkan perhatiannya pada alat peraga yang digunakan guru dalam mengajar. Selain itu siswa diajak mengeksplorasi dengan alat peraga yang disiapkan guru dengan cara meraba atau menggunakan langsung dan terakhir siswa diminta mengekspresikan kegembiraan selama kegiatan tersebut berlangsung yang dilakukan secara verbal
Posts by : Admin
bermacam belajar bahasa inggris
bermacam-macam.untuk belajar bahasa inggris Ada orang belajar bahasa inggris dengan membawa kamus bahasa inggris kemana-mana, ya hanya dibawa saja. Ada orang belajar bahasa inggris dengan mencoba menghapalkan kamus, wow rajin amat!. Banyak orang belajar bahasa inggris dengan cara bernyanyi, ada banyak juga orang belajar bahasa inggris dengan ke pantai kuta lalu langsung ngobrol sama bule, ada lagi yang kuliah di jurusan bahasa inggris, kalau anak-anak biasanya belajar melalui gambar-gambar, banyak juga orang yang belajar dengan baca-baca pelajaran bahasa inggris gratis di internet seperti Anda, hehe..
Yang penting, apa saja cara yang kita tempuh dalam belajar bahasa inggris adalah pada akhirnya kita BISA bahasa inggris. Maksud saya benar-benar bisa dan lancar, bukan bisa sedikit-sedikit. Kan lebih baik bisa beneran dari pada bisa sedikit bukan? Bisa dikit-dikit bahasa inggris itu tidak cukup menyenangkan, belum mampu untuk membantu kita mencari penghasilan tambahan dari bahasa inggris misalnya, tak sanggup mengajari anak. Sebaliknya kalau bahasa inggris anda mengalir bagai air, senang tidak?
Anda tentu punya cara tersendiri untuk belajar bahasa inggris. Saya tak akan pernah mengatakan suatu cara belajar bahasa inggris itu jelek. Yang penting sekali lagi saya bilang adalah HASIL-nya. Caranya banyak. Jika suatu cara anda anggap kurang berhasil maka ganti caranya. Cara yang paling jitu dalam belajar bahasa inggris adalah “belajar terus sampai bisa”. Boleh ganti cara ini cara itu, terus saja belajar sampai bisa.
Saya hanya akan mendorong anda agar ANDA menemukan sendiri cara yang paling cepat dan yang paling pas dengan diri Anda sendiri. Dan itu tak akan terlepas dari NIAT yang sangat kuat untuk benar-benar bisa bahasa inggris. Tanpa niat yang sangat kuat, percayalah, 10 tahun Anda belajar pun tak akan lancar. Sudah banyak bukti, kita sekolah SD, SMP, SMA sampai kuliah kan belasan tahun belajar bahasa inggris, dan banyak orang ketika ditanya apakah bahasa inggrisnya bisa diandalkan? Jawabnya “sedikit sedikit”. Sudah pasti kurang niat di awal lah itu, masa sih belajar bahasa saja perlu belasan tahun dan baru bisa sedikit-sedikit padahal ini kan hanya belajar ngomong doang, belajar mendengarkan doang, belajar menulis dan membaca doang.
Sekali lagi NIAT, atau keinginan, atau kemauan. Jika anda mau bisa bahasa inggris, dan benar-benar mau bisa, dan ingin pasti bisa, dan keinginan anda itu sangat kuat maka Anda sendiri akan secara otomatis menemukan cara-cara yang tepat untuk anda lakukan.
Nah, setelah keinginan yang kuat untuk bisa bahasa inggris tadi telah teranan dalam, dan anda sudah menemukan cara apa yang akan ditempuh misalnya ikut kursus terdekat dengan Anda, atau membeli kaset, atau praktek langsung ke teman anda yang sudah bisa, atau paksa-paksa diri untuk menulis atau mungkin cara yang anda temukan akan bisa menjadikan anda pandai bahasa inggris justru dengan mengajar anak SD, atau apa saja cara yang anda temukan maka langkah selanjutnya adalah benar-benar mengerjakan apa yang anda niatkan tersebut. Tidak cukup hanya mau dan ingin atau niat saja bukan?
coba beberapa macam ini anda lakukan semoga membantu kelancaran anda berbahasa inggris
Coba lakukan latihan berikut ini, latihan ini sebaiknya dilakukan berdua secara bergantian. Caranya begini :
1. Duduk / berdiri berhadapan.
2. Siapkan stop watch , dan atur stop watch untuk berhenti menghitung setelah satu menit.
3. Siapkan counter / penghitung.
4. Sekarang berhadapan, satu orang pegang stop watch, satu orang lagi memegang counter.
5. Nah yang pegang stop watch bertugas untuk mengucapkan sebanyak-banyaknya kata dalam bahasa Inggris secara spontan dan tanpa berpikir.
6. Yang pegang counter, adalah pendengar dan sekaligus penghitung jumlah kata-kata yang diucapkan oleh temannya.
7. Ketika stop watch berbunyi, lihat dan catat jumlah angka yang tertera di counter.
8. Tukarkan alat dan lakukan yang sebaliknya.
Latihan ini akan melatih spontanitas dalam berbicara dalam bahasa Inggris dan meminimalkan proses berpikir pada waktu berbicara. Sekaligus akan melatih pendengaran dalam berbahasa Inggris. Batas waktu tidak harus satu menit, bisa Anda tentukan sendiri, dan kosa kata bisa dalam bentuk word (kata) ataupun sentence (kalimat).
Selamat berlatih dan bersenang-senang.
Yang penting, apa saja cara yang kita tempuh dalam belajar bahasa inggris adalah pada akhirnya kita BISA bahasa inggris. Maksud saya benar-benar bisa dan lancar, bukan bisa sedikit-sedikit. Kan lebih baik bisa beneran dari pada bisa sedikit bukan? Bisa dikit-dikit bahasa inggris itu tidak cukup menyenangkan, belum mampu untuk membantu kita mencari penghasilan tambahan dari bahasa inggris misalnya, tak sanggup mengajari anak. Sebaliknya kalau bahasa inggris anda mengalir bagai air, senang tidak?
Anda tentu punya cara tersendiri untuk belajar bahasa inggris. Saya tak akan pernah mengatakan suatu cara belajar bahasa inggris itu jelek. Yang penting sekali lagi saya bilang adalah HASIL-nya. Caranya banyak. Jika suatu cara anda anggap kurang berhasil maka ganti caranya. Cara yang paling jitu dalam belajar bahasa inggris adalah “belajar terus sampai bisa”. Boleh ganti cara ini cara itu, terus saja belajar sampai bisa.
Saya hanya akan mendorong anda agar ANDA menemukan sendiri cara yang paling cepat dan yang paling pas dengan diri Anda sendiri. Dan itu tak akan terlepas dari NIAT yang sangat kuat untuk benar-benar bisa bahasa inggris. Tanpa niat yang sangat kuat, percayalah, 10 tahun Anda belajar pun tak akan lancar. Sudah banyak bukti, kita sekolah SD, SMP, SMA sampai kuliah kan belasan tahun belajar bahasa inggris, dan banyak orang ketika ditanya apakah bahasa inggrisnya bisa diandalkan? Jawabnya “sedikit sedikit”. Sudah pasti kurang niat di awal lah itu, masa sih belajar bahasa saja perlu belasan tahun dan baru bisa sedikit-sedikit padahal ini kan hanya belajar ngomong doang, belajar mendengarkan doang, belajar menulis dan membaca doang.
Sekali lagi NIAT, atau keinginan, atau kemauan. Jika anda mau bisa bahasa inggris, dan benar-benar mau bisa, dan ingin pasti bisa, dan keinginan anda itu sangat kuat maka Anda sendiri akan secara otomatis menemukan cara-cara yang tepat untuk anda lakukan.
Nah, setelah keinginan yang kuat untuk bisa bahasa inggris tadi telah teranan dalam, dan anda sudah menemukan cara apa yang akan ditempuh misalnya ikut kursus terdekat dengan Anda, atau membeli kaset, atau praktek langsung ke teman anda yang sudah bisa, atau paksa-paksa diri untuk menulis atau mungkin cara yang anda temukan akan bisa menjadikan anda pandai bahasa inggris justru dengan mengajar anak SD, atau apa saja cara yang anda temukan maka langkah selanjutnya adalah benar-benar mengerjakan apa yang anda niatkan tersebut. Tidak cukup hanya mau dan ingin atau niat saja bukan?
coba beberapa macam ini anda lakukan semoga membantu kelancaran anda berbahasa inggris
Coba lakukan latihan berikut ini, latihan ini sebaiknya dilakukan berdua secara bergantian. Caranya begini :
1. Duduk / berdiri berhadapan.
2. Siapkan stop watch , dan atur stop watch untuk berhenti menghitung setelah satu menit.
3. Siapkan counter / penghitung.
4. Sekarang berhadapan, satu orang pegang stop watch, satu orang lagi memegang counter.
5. Nah yang pegang stop watch bertugas untuk mengucapkan sebanyak-banyaknya kata dalam bahasa Inggris secara spontan dan tanpa berpikir.
6. Yang pegang counter, adalah pendengar dan sekaligus penghitung jumlah kata-kata yang diucapkan oleh temannya.
7. Ketika stop watch berbunyi, lihat dan catat jumlah angka yang tertera di counter.
8. Tukarkan alat dan lakukan yang sebaliknya.
Latihan ini akan melatih spontanitas dalam berbicara dalam bahasa Inggris dan meminimalkan proses berpikir pada waktu berbicara. Sekaligus akan melatih pendengaran dalam berbahasa Inggris. Batas waktu tidak harus satu menit, bisa Anda tentukan sendiri, dan kosa kata bisa dalam bentuk word (kata) ataupun sentence (kalimat).
Selamat berlatih dan bersenang-senang.
Posts by : Admin
Imajinasi Siswa Dengan Model Permainan Segitiga



Membuka Imajinasi Siswa dengan Segitiga Kreatif
Memberikan kontribusi terhadap imajinasi siswa untuk tumbuh dan tumbuh merupakan ciri khas orang yang berkemampuan berpikir kreatif. Jika orang tersebut berhasil dalam membuka imajinasi anak dan imajinasi tersebut merupakan imajinasi yang aktif dan kreatif, maka kelak anak tersebut akan tumbuh menjadi seorang penemu kewirausahaan atau lebih dikenal entrepreneur. Mereka akan memiliki kemampuan berpikir yang kreatif untuk memecahkan berbagai masalah.
Imajinasi dalam kehidupan anak sama pentingnya dengan membaca beberapa mata pelajaran seperti matematika atau ilmu pengetahuan lainnya, karena dapat membantu anak-anak mengembangkan keterampilan, yang pada akhirnya akan membantu dia mencapai keberhasilan dalam kehidupannya ketika dia mencapai usia dewasa.
Untuk dapat membuka imajinasi anak melalui segitiga kreatif, digunakan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Membuka Imajinasi Siswa dengan Permainan Gambar Bidang Segitiga
Kegiatan membuka imajinasi siswa dengan permainan gambar pada bidang segitiga merupakan pengembangan kegiatan pembelajaran Seni Budaya yang dapat dilaksanakan pada kelas ,VIII dan IX semester I dan II dengan rincian berikut ini.
a. Standar Kompetensi : 2. Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa
b. Kompetensi Dasar : 2.3 Mengekspresikan diri melalui karya seni lukis.
2.1 Memilih unsur seni rupa Nusantara untuk dikembangkan menjadi karya seni murni
2.2 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa murni yang dikembangkan dari unsur seni rupa Nusantara
Model pelaksanaan kegiatan pengembangan imajinasi siswa dilaksanakan sebagai berikut :
1) Alokasi waktu 2 jam pelajaran (2 x 40 menit)
2) Anak disuruh menyiapkan kertas gambar
3) Setelah diberi penjelasan guru, Anak bermain membuat gambar segitiga sama kaki dengan berbagai bentuk sejumlah minimal 25 dalam waktu 40 menit
4) Setelah waktu yang telah ditentukan selesai semua gambar di pajang di depan dan diapresiasi sehingga anak tahu berbagai vareasi bentuk segitiga.
Hasil yang didapat dari permainan ini adalah :
a.Anak akan terbiasa menguras semua idea atau terbiasa mengeploirasi gagasan yang ada diotaknya semaksimal mungkin
b.Anak akan tahu setelah mengeplorasi bentuk segitiga pasti ada satu diantara bentuk itu yang terbaik (desain)
Membuka Imajinasi Siswa melalui Permainan dengan Meghias Bidang Segitiga
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya, namun tingkat kesukaran mulai dinaikan. Adapun langkah-langkah kegiatan pembelajaranya adalah sebagai berikut
a. Waktu 2 jam pelajaran
b. Setelah diberi penjelasan guru, siswa membuat segitiga hias ,.namun pada kegiatan ini penekanya pada hiasanya
c. Dalam permainan ini anak diberi waktu 40 menit untuk mengekplorasi berbagai macam hiasan
Hasil yang didapat dari permainan ini adalah:
a. Anak akan terbiasa menguras semua ide atau terbiasa mengekploirasi gagasan yang ada diotaknya semaksimal mungkin
b. Anak akan tahu setelah mengeplorasi bentuk segitiga ikan pasti ada satu diantara bentuk itu yang terbaik (desain)
Aspek penilaian dalam permainan segitiga kreatif tahap II
Membuka Imajinasi Siswa dengan Permainan Merangkai Bidang Segitiga Ikan Menjadi Kesatuan yang Mengkombinasikan Unsur-unsur Seni
Dalam kegiatan ini sudah mulai menggabungkan berbagai unsur seni yang berhubungan dengan estetika dan sudah berbentuk karya seni
Adapun kegiatannya adalah sebagai berikut
a. Waktu 2 jam pelajaran (2 x 40 menit)
b. Alat yang dipersiapkan siswa meliputi kertas gambar ukuran A4, pensil, balpoint dan spidol warna/pencil warna/crayon/cat air.
c. Setelah diberi penjelasan guru,siswa membuat susunan segitiga ikan menjadi karya yang mempertimbangkan unsur unsur seni yang meliputi: komposisi, warna, gelap terang, dan tekstur.
Hasil yang didapat dari permainan ini adalah :
a. Anak akan terbiasa dengan menggabungkan hal hal yang sederhana akan menjadi karya yang bagus
b. Anak juga dapat merasakan bentuk estetika baru dalam perkembangan dunia seni rupa modern
Aspek penilaian dalam permainan segitiga kreatif tahap III
No Aspek yang dinilai skor Keterangan
1 Komposisi warna 1 2 3 4 5
2 Ragam hiasan yang digunakan 1 2 3 4 5
3 Keunikan 1 2 3 4 5
Jumlah
4. Membuka imajinasi anak dengan mengembangkan bentuk yang sudah.Dalam permainan ini sebetulnya anak dapat ditugaskan mengembangkan berbagai bentuk binatang untuk dibuat gambar deformasi. Namun biar anak tidak bingung memilih,maka ditentukan menggambar deformasi ikan lumba lumba.
Adapun kegiatanya sebagai berikut
a) Waktu 4 jam pelajaran
b) Alat yang dipersiapkan siswa meliputi kertas gambar ukuran A4,pensil,bolpoint dan spidol warna/pencil warna/crayon/cat air.
c) Setelah diberi penjelasan guru,siswa menggambar ikan lumba-lumba sebanyak
Membuka Imajinasi Siswa dengan Permainan Merangkai Bidang Segitiga Ikan Menjadi Kesatuan yang Mengkombinasikan Unsur-unsur Seni
Dalam kegiatan ini sudah mulai menggabungkan berbagai unsur seni yang berhubungan dengan estetika dan sudah berbentuk karya seni
Adapun kegiatannya adalah sebagai berikut
a. Waktu 2 jam pelajaran (2 x 40 menit)
b. Alat yang dipersiapkan siswa meliputi kertas gambar ukuran A4, pensil, balpoint dan spidol warna/pencil warna/crayon/cat air.
c. Setelah diberi penjelasan guru,siswa membuat susunan segitiga ikan menjadi karya yang mempertimbangkan unsur unsur seni yang meliputi: komposisi, warna, gelap terang, dan tekstur.
Hasil yang didapat dari permainan ini adalah :
a. Anak akan terbiasa dengan menggabungkan hal hal yang sederhana akan menjadi karya yang bagus
b. Anak juga dapat merasakan bentuk estetika baru dalam perkembangan dunia seni rupa modern
Aspek penilaian dalam permainan segitiga kreatif tahap III
No Aspek yang dinilai skor Keterangan
1 Komposisi warna 1 2 3 4 5
2 Ragam hiasan yang digunakan 1 2 3 4 5
3 Keunikan 1 2 3 4 5
Jumlah
Sumber www.dikbangkes-jatim.com
Posts by : Admin
Keterampilan Diri Siswa
Keterampilan-keterampilan Belajar
Menurut A. Suhaenah Suparno (2001: 106-126), ada beberapa keterampilan keterampilan belajar yang harus dimiliki oleh siswa agar dapat meningkatkan kemandirian dalam belajarnya, yaitu :
a) Mengenali diri sendiri
Memahami diri sendiri menjadi sangat penting karena banyak orang yang keliru menafsirkan kemampuan-kemampuan dirinya baik karena menilai terlalu optimis maupun sebaliknya karena terlalu pesimistik dan menilai rendah kemampuan-kemampuannya dan akan sangat penting untuk memahami apa yang sebenarnya ingin dicapai atau dicita-citakan, yang merupakan visi terhadap kehidupan yang akan datang.
b) Memotivasi diri sendiri
Motivasi ada yang bersifat instrinsik yaitu yang memang tumbuh di dalam orang itu sejak awal, tetapi ada juga motivasi yang sifatnya ekstrinsik yaitu yang berasal dari luar dirinya, apakah itu dari orang tua, guru, teman ataupun tuntutan pekerjaan. Menumbuhkan motivasi ini sebenarnya bias dipelajari yaitu dengan cara membuat daftar keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh tatkala memutuskan untuk mempelajari sesuatu.
c) Mempelajari cara-cara belajar efektif
Tipe atau gaya orang untuk belajar merupakan hal yang unik untuk dirinya dan mungkin sangat berbeda dengan gaya belajar orang lain. Namun ada beberapa tips yang dapat dicatat tentang tindakan-tindakan yang dapat membantu mengefektifkan seseorang dalam belajar, diantaranya :
1). Membuat rangkuman
Rangkuman adalah ikhtisar tentang hal-hal esensial yang terkandung dalam bahan bacaan atau pemaparan lisan yang kita simak tersebut yang lebih ramping. Rangkuman membantu seseorang ketika mengulang pekerjaan atau ketika mencoba mengingat kembali apa yang telah dibacanya. Setelah selesai membaca dan membuat rangkuman dapat membuat pertanyaan-pertanyaan untuk dijwab sendiri.
2). Membuat pemetaan konsep-konsep penting
Pemetaan merupakan gambaran konsep-konsep yang berhubungan, dalam hal pemetaan konsep-konsep penting maka ada konsep utama dan ada konsep pelengkap yang diasosiasikan dengan konsep utama. Konsep pelengkap dan konsep asosiasi ini dapat diperoleh dari bahan bacaan itu sendiri.
3). Mencatat hal-hal yang esensial dan membuat komentar
Cara mencatat semacam ini dapat dilakukan pada kertas yang terpisah, yang dibagi menjadi dua bagian; di sebelah kiri dibuat catatancatatan penting yang sifatnya deskriptif sesuai dengan apa yang dibaca atau yang didengar. Di sebelah kanan dibuat catatan-catatn yang sifatnya lebih personal, dapat berupa kesan atau perintah-perintah kepada diri sendiri untuk mengasosiasikan atau menghubungkan pengalaman sebelumnya.
4). Membaca secara efektif
a). Skimming
Skimming berarti membaca selintas dan cepat untuk melihat gambaran sangat umum dengan membaca judul-judul bab dan bagian lainnya secara garis besar.
b). Scanning
Scanning adalah cara membaca dengan melihat judul bab kemudian judul-judul sub bab atau pasal-pasal di dalam suatu bab serta dengan membaca kalimat-kalimat awal pada tiap-tiap paragraf yang sering disebut topic sentence.
c). Membaca simpulan
Setiap simpulan berisi ide-ide pokok tentang apa yang telah dipaparkan sebelumnya dan berfungsi untuk mengingatkan kembali kepada pembacanya bahwa inilah ide-ide pokok dari penulis.
d). Membaca untuk pendalaman
Dalam membaca untuk mendalami sesuatu, orang melakukannya secara cermat dan penuh kesadaran, artinya tidak sambil melamun, mendalami isi bacaan kalimat per kalimat. Dalam kegiatan ini seseorang harus dapat menangkap ide yang tersirat (reading betweenthe lines).
e). Memanfaatkan indeks
Indeks menolong pembaca untuk mengetahui ada tidaknya atau dimana suatu informasi yang diperlukannya dipaparkan dalam buku.
5). Membuat situasi yang kondusif
Belajar adalah pekerjaan yang memerlukan pengerahan penglihatan, pendengaran, latihan dan pikiran. Oleh karena itu diperlukan suasana yang menunjang seperti tempat yang relatif tenang dan pikiran yang konsentrasi . Cara belajar yang sehat adalah cara yang rileks tidak
mengganggu postur tubuh dan tidak mengganggu konsentrasi.
6). Mengenal lingkungan
Yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan belajar atau sumber-sumber belajar yang tidak terhitung jumlahnya. Sumber-sumber belajar berupa orang, bahan bacaan, lembaga atau institusi, maupun setting yang sengaja maupun yang semula tidak disengaja untuk dijadikan sumber belajar tetapi dapat berfungsi sebagai sumber belajar.
d) Mengarahkan diri sendiri dalam belajar
Yang dimaksud dengan mengarahkan diri sendiri dalam belajar adalah memulai kegiatan belajar karena lingkungan yang mendorongnya melakukan sesuatu. Adapula orang yang mengarahkan diri sendiri di dalam belajar karena memang sistem dalam lingkungannya memberikan peluang, selain itu ada juga orang yang melaksanakan kegiatan pengarahan diri dalam belajar itu karena faktor kebetulan ketika ia sudah mempunyai waktu luang untuk mempelajari sesuatu yang menjadi minatnya.
e) Catatan harian
Catatan harian bertujuan untuk mencatat apa yang harus dilakukan, apa yang telah dicapai, serta apa yang harus dicapai, masalah-masalah yang harus diselesaikan, dengan catatan harian ini membantu ingatan seseorang.(sumber sutisna.com)
Beberapa contoh keterampilan, mengembangkan kecakapan bicara, pidato, membaca, mengetik, dan mengunggah informasi melalui blog. Bentuk keterampilan yang manipulatif serperti belajar menjadi pilot pesawat terbang, meningkatkan kecakapan mengelola ekspor-impor dalam perdagangan internasional, melaksanakan persidangan di penadilan, termasuk mengurus harimau di kebun binatang. Yang terakhir ini penting dismanipulasi karena harimau tidak dapat dihadirkan bersama guru dan siswa dalam kelas.
Telaah kepusatakaan di negara maju antara ranah kognitif dan psikomotor mendapat perhatian yang seimabang dan dihadirkan secara simultan dalam proses pembelajaran di kelas atau di labolatorium. Jika guru mengajarkan teori tentang kloning binatang, maka keterampilan yang harus siswa kuasai adalah memahami teori dan menerapkan dalam kegiatan nyata.
Dan untuk pengembangan bakat dan minat siswa sekolah menyediakan program ekstrakurikuler. Program ini menjaring bakat dan minat yang menonjol kepada siswa dan dikembangkan/dipasilitasi supaya tumbuh Optimal. “Adapun jenis-jenis ekstrakurikuler yang akan dikembangkan adalah tari, melukis, olahraga, pramuka dan kerohanian,” ujarnya
Menurut A. Suhaenah Suparno (2001: 106-126), ada beberapa keterampilan keterampilan belajar yang harus dimiliki oleh siswa agar dapat meningkatkan kemandirian dalam belajarnya, yaitu :
a) Mengenali diri sendiri
Memahami diri sendiri menjadi sangat penting karena banyak orang yang keliru menafsirkan kemampuan-kemampuan dirinya baik karena menilai terlalu optimis maupun sebaliknya karena terlalu pesimistik dan menilai rendah kemampuan-kemampuannya dan akan sangat penting untuk memahami apa yang sebenarnya ingin dicapai atau dicita-citakan, yang merupakan visi terhadap kehidupan yang akan datang.
b) Memotivasi diri sendiri
Motivasi ada yang bersifat instrinsik yaitu yang memang tumbuh di dalam orang itu sejak awal, tetapi ada juga motivasi yang sifatnya ekstrinsik yaitu yang berasal dari luar dirinya, apakah itu dari orang tua, guru, teman ataupun tuntutan pekerjaan. Menumbuhkan motivasi ini sebenarnya bias dipelajari yaitu dengan cara membuat daftar keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh tatkala memutuskan untuk mempelajari sesuatu.
c) Mempelajari cara-cara belajar efektif
Tipe atau gaya orang untuk belajar merupakan hal yang unik untuk dirinya dan mungkin sangat berbeda dengan gaya belajar orang lain. Namun ada beberapa tips yang dapat dicatat tentang tindakan-tindakan yang dapat membantu mengefektifkan seseorang dalam belajar, diantaranya :
1). Membuat rangkuman
Rangkuman adalah ikhtisar tentang hal-hal esensial yang terkandung dalam bahan bacaan atau pemaparan lisan yang kita simak tersebut yang lebih ramping. Rangkuman membantu seseorang ketika mengulang pekerjaan atau ketika mencoba mengingat kembali apa yang telah dibacanya. Setelah selesai membaca dan membuat rangkuman dapat membuat pertanyaan-pertanyaan untuk dijwab sendiri.
2). Membuat pemetaan konsep-konsep penting
Pemetaan merupakan gambaran konsep-konsep yang berhubungan, dalam hal pemetaan konsep-konsep penting maka ada konsep utama dan ada konsep pelengkap yang diasosiasikan dengan konsep utama. Konsep pelengkap dan konsep asosiasi ini dapat diperoleh dari bahan bacaan itu sendiri.
3). Mencatat hal-hal yang esensial dan membuat komentar
Cara mencatat semacam ini dapat dilakukan pada kertas yang terpisah, yang dibagi menjadi dua bagian; di sebelah kiri dibuat catatancatatan penting yang sifatnya deskriptif sesuai dengan apa yang dibaca atau yang didengar. Di sebelah kanan dibuat catatan-catatn yang sifatnya lebih personal, dapat berupa kesan atau perintah-perintah kepada diri sendiri untuk mengasosiasikan atau menghubungkan pengalaman sebelumnya.
4). Membaca secara efektif
a). Skimming
Skimming berarti membaca selintas dan cepat untuk melihat gambaran sangat umum dengan membaca judul-judul bab dan bagian lainnya secara garis besar.
b). Scanning
Scanning adalah cara membaca dengan melihat judul bab kemudian judul-judul sub bab atau pasal-pasal di dalam suatu bab serta dengan membaca kalimat-kalimat awal pada tiap-tiap paragraf yang sering disebut topic sentence.
c). Membaca simpulan
Setiap simpulan berisi ide-ide pokok tentang apa yang telah dipaparkan sebelumnya dan berfungsi untuk mengingatkan kembali kepada pembacanya bahwa inilah ide-ide pokok dari penulis.
d). Membaca untuk pendalaman
Dalam membaca untuk mendalami sesuatu, orang melakukannya secara cermat dan penuh kesadaran, artinya tidak sambil melamun, mendalami isi bacaan kalimat per kalimat. Dalam kegiatan ini seseorang harus dapat menangkap ide yang tersirat (reading betweenthe lines).
e). Memanfaatkan indeks
Indeks menolong pembaca untuk mengetahui ada tidaknya atau dimana suatu informasi yang diperlukannya dipaparkan dalam buku.
5). Membuat situasi yang kondusif
Belajar adalah pekerjaan yang memerlukan pengerahan penglihatan, pendengaran, latihan dan pikiran. Oleh karena itu diperlukan suasana yang menunjang seperti tempat yang relatif tenang dan pikiran yang konsentrasi . Cara belajar yang sehat adalah cara yang rileks tidak
mengganggu postur tubuh dan tidak mengganggu konsentrasi.
6). Mengenal lingkungan
Yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan belajar atau sumber-sumber belajar yang tidak terhitung jumlahnya. Sumber-sumber belajar berupa orang, bahan bacaan, lembaga atau institusi, maupun setting yang sengaja maupun yang semula tidak disengaja untuk dijadikan sumber belajar tetapi dapat berfungsi sebagai sumber belajar.
d) Mengarahkan diri sendiri dalam belajar
Yang dimaksud dengan mengarahkan diri sendiri dalam belajar adalah memulai kegiatan belajar karena lingkungan yang mendorongnya melakukan sesuatu. Adapula orang yang mengarahkan diri sendiri di dalam belajar karena memang sistem dalam lingkungannya memberikan peluang, selain itu ada juga orang yang melaksanakan kegiatan pengarahan diri dalam belajar itu karena faktor kebetulan ketika ia sudah mempunyai waktu luang untuk mempelajari sesuatu yang menjadi minatnya.
e) Catatan harian
Catatan harian bertujuan untuk mencatat apa yang harus dilakukan, apa yang telah dicapai, serta apa yang harus dicapai, masalah-masalah yang harus diselesaikan, dengan catatan harian ini membantu ingatan seseorang.(sumber sutisna.com)
Beberapa contoh keterampilan, mengembangkan kecakapan bicara, pidato, membaca, mengetik, dan mengunggah informasi melalui blog. Bentuk keterampilan yang manipulatif serperti belajar menjadi pilot pesawat terbang, meningkatkan kecakapan mengelola ekspor-impor dalam perdagangan internasional, melaksanakan persidangan di penadilan, termasuk mengurus harimau di kebun binatang. Yang terakhir ini penting dismanipulasi karena harimau tidak dapat dihadirkan bersama guru dan siswa dalam kelas.
Telaah kepusatakaan di negara maju antara ranah kognitif dan psikomotor mendapat perhatian yang seimabang dan dihadirkan secara simultan dalam proses pembelajaran di kelas atau di labolatorium. Jika guru mengajarkan teori tentang kloning binatang, maka keterampilan yang harus siswa kuasai adalah memahami teori dan menerapkan dalam kegiatan nyata.
Dan untuk pengembangan bakat dan minat siswa sekolah menyediakan program ekstrakurikuler. Program ini menjaring bakat dan minat yang menonjol kepada siswa dan dikembangkan/dipasilitasi supaya tumbuh Optimal. “Adapun jenis-jenis ekstrakurikuler yang akan dikembangkan adalah tari, melukis, olahraga, pramuka dan kerohanian,” ujarnya
Posts by : Admin
Pembelajaran Apresiasi Sastra
1. Pengertian
2. Pembelajaran Apresiasi Sastra
- Prinsip pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra
- Tujuan pembelajaran apresiasi sastra
- Bahan pembelajaran berupa teks prosa, puisi, drama (sesuai tingkat perkemb anak,
- aspek pedagogis, aspek estetis) dan media pembelajaran (gambar, boneka, topeng, musik)Pembelajaran apresiasi prosa, puisi, dan drama
3. Metode, Strategi, dan Model Pembelajaran Apresiasi Sastra
4. Penilaian Pembelajaran Apresiasi Sastra
Apresiasi dari bahasa Inggris appreciation artinya ‘penghargaan’
Apresiasi mengacu pada pengertian, pemahaman, dan pengenalan yang tepat, atau pertimbangan dan pernyataan yang memberikan penilaian (Hornby dalam Sayuti, 2000:3)
Apresiasi adalah kegiatan menggauli karya sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra (Effendi, 1973)
Apresiasi sastra: upaya memahami karya sastra untuk dapat mengerti sebuah karya sastra yang kita baca, baik prosa maupun puisi, mengerti maknanya, baik yang intensional maupun yang aktual, dengan cara mengerti seluk beluknya.
Tahapan atau langkah untuk memahami karya sastra meliputi interpretasi, analisis, dan evaluasi.
Prinsip Pembelajaran Apresiasi Sastra
- meningkatkan kepekaan rasa pada budaya bangsa
- memberikan kepuasan batin dan pengayaan daya estetis melalui bahasa
- merupakan pembelajaran untuk memahami nilai kemanusiaan di dalam karya sastra yang dapat dikaitkan dengan nilai kemanusiaan di dalam dunia nyata
Diperoleh setelah melakukan kegiatan apresiasi sastra:
- Memahami ciri-ciri puisi
Memahami ciri-ciri prosa
- Memahami kaitan pembelajaran sastra dengan kecakapan hidup ( memecahkan masalah, - kecakapan berpikir kritis dan kreatif, kecakapan berkomunikasi, kemampuan membuat keputusan, kecakapan menjalin hubungan antarpribadi, dsb)
- Memahami pembelajaran sastra untuk mempertajam perasaan, penalaran, daya khayal, dan kepekaan terhadap budaya masyarakat
- Memahami kaitan pembelajaran sastra dengan pembelajaran bahasa, yakni dilakukan secara terpadu dengan memanfaatkan teks sastra sebagai bahan pembelajaran bahasa
Pengalaman berapresiasi:
membaca karya sastra
menyimak pembacaan cerpen atau puisi
menonton pementasan drama
Pengalaman berekspresi:
menulis puisi, cerpen, atau dialog
berdeklamasi atau membacakan puisi
mementaskan drama
2. Pembelajaran Apresiasi Sastra
- Prinsip pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra
- Tujuan pembelajaran apresiasi sastra
- Bahan pembelajaran berupa teks prosa, puisi, drama (sesuai tingkat perkemb anak,
- aspek pedagogis, aspek estetis) dan media pembelajaran (gambar, boneka, topeng, musik)Pembelajaran apresiasi prosa, puisi, dan drama
3. Metode, Strategi, dan Model Pembelajaran Apresiasi Sastra
4. Penilaian Pembelajaran Apresiasi Sastra
Apresiasi dari bahasa Inggris appreciation artinya ‘penghargaan’
Apresiasi mengacu pada pengertian, pemahaman, dan pengenalan yang tepat, atau pertimbangan dan pernyataan yang memberikan penilaian (Hornby dalam Sayuti, 2000:3)
Apresiasi adalah kegiatan menggauli karya sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra (Effendi, 1973)
Apresiasi sastra: upaya memahami karya sastra untuk dapat mengerti sebuah karya sastra yang kita baca, baik prosa maupun puisi, mengerti maknanya, baik yang intensional maupun yang aktual, dengan cara mengerti seluk beluknya.
Tahapan atau langkah untuk memahami karya sastra meliputi interpretasi, analisis, dan evaluasi.
Prinsip Pembelajaran Apresiasi Sastra
- meningkatkan kepekaan rasa pada budaya bangsa
- memberikan kepuasan batin dan pengayaan daya estetis melalui bahasa
- merupakan pembelajaran untuk memahami nilai kemanusiaan di dalam karya sastra yang dapat dikaitkan dengan nilai kemanusiaan di dalam dunia nyata
Diperoleh setelah melakukan kegiatan apresiasi sastra:
- Memahami ciri-ciri puisi
Memahami ciri-ciri prosa
- Memahami kaitan pembelajaran sastra dengan kecakapan hidup ( memecahkan masalah, - kecakapan berpikir kritis dan kreatif, kecakapan berkomunikasi, kemampuan membuat keputusan, kecakapan menjalin hubungan antarpribadi, dsb)
- Memahami pembelajaran sastra untuk mempertajam perasaan, penalaran, daya khayal, dan kepekaan terhadap budaya masyarakat
- Memahami kaitan pembelajaran sastra dengan pembelajaran bahasa, yakni dilakukan secara terpadu dengan memanfaatkan teks sastra sebagai bahan pembelajaran bahasa
Pengalaman berapresiasi:
membaca karya sastra
menyimak pembacaan cerpen atau puisi
menonton pementasan drama
Pengalaman berekspresi:
menulis puisi, cerpen, atau dialog
berdeklamasi atau membacakan puisi
mementaskan drama
Posts by : Admin
Model pendekatan lingkungan
Model pembelajaran dengan pendekatan lingkungan, bukan merupakan pendekatan pembelajaran yang baru, melainkan sudah dikenal dan populer, hanya saja sering terlupakan. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan lingkungan adalah suatu strategi pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sebagai sasaran belajar, sumber belajar, dan sarana belajar. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah lingkungan dan untuk menanamkan sikap cinta lingkungan (Karli dan Yuliaritiningsih, 2002).
Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan sangat efektif diterapkan di sekolah dasar.apalagi seperti di lingkungan kami mengajar yaitu desa cukup terpencil Hal ini relevan dengan tingkat perkembangan intelektual usia sekolah dasar (7-11 tahun) berada pada tahap operasional konkret (Piaget, dalam Wilis:154). Hal senada dikatakan Margaretha S.Y., (2002) bahwa kecenderungan siswa sekolah dasar yang senang bermain dan bergerak menyebabkan anak-anak lebih menyukai belajar lewat eksplorasi dan penyelidikan di luar ruang kelas.
pada dasarnya Konsep-konsep sains dan lingkungan sekitar siswa dapat dengan mudah dikuasai siswa melalui pengamatan pada situasi yang konkret. Dampak positif dari diterapkannya pendekatan lingkungan yaitu siswa dapat terpacu sikap rasa keingintahuannya tentang sesuatu yang ada di lingkungannya. Seandainya kita renungi empat pilar pendidikan yakni learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to be (belajar untuk menjadi jati dirinya), learning to do (Belajar untuk mengerjakan sesuatu) dan learning to life together (belajar untuk bekerja sama) dapat dilaksanakan melalui pembelajaran dengan pendekatan lingkungan yang dikemas sedemikian rupa oleh guru.
Harapan Penulis terilhami menuangkan tulisan ini dengan maksud untuk dikembangkan menjadi visi misi sekolah sebagai prioritas untuk meningkatkan mutu pendidikan. Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat menjadi bahan masukan bagi para guru untuk menengok lingkungan sekitar yang penuh arti sebagai sumber belajar dan informasi yang mendukung tercapainya tujuan pembelajaran secara efektif. Model pendekatan ini pun relevan dengan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM), sehingga pada gilirannya dapat mencetak siswa yang cerdas dan cinta lingkungan.
Siswa boleh saja berpikir secara global, tetapi mereka harus bertindak secara lokal. Artinya, setiap orang/siswa perlu belajar apa pun, bahkan mencari hikmah dari berbagai macam pengalaman bangsa-bangsa lain di seluruh dunia, namun pengetahuan tentang pengalaman bangsa-bangsa lain tersebut dijadikan sebagai pembelajaran dalam tindakan di lingkungan secara lokal. Dengan cara kerja seperti itu, kita tidak perlu melakukan trial and error yang berkepanjangan, melainkan kita belajar dari kesalahan-kesalahan orang lain, sementara kita sekadar meneruskan kerja dari paradigma yang benar.
Bekerja dan belajar yang berbasis lingkungan sekitar memberikan nilai lebih, baik bagi si pembelajar itu sendiri maupun bagi lingkungan sekitar. Katakanlah belajar ilmu sosial atau belajar ekonomi, maka lingkungan sosial dan ekonomi sekitar dapat menjadi laboratorium alam. Pembelajaran ini dapat dilakukan sembari melakukan pemberdayaan (empowering) terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, sementara si pembelajar dapat melakukan proses pembelajaran dengan lebih baik dan efisien. Mohamad Yunus, penerima Nobel asal Bangladesh adalah orang yang banyak belajar berbasis lingkungan untuk mengembangkan ekonomi. Dengan mendirikan Grameen Bank, dia belajar sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar.
Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan sangat efektif diterapkan di sekolah dasar.apalagi seperti di lingkungan kami mengajar yaitu desa cukup terpencil Hal ini relevan dengan tingkat perkembangan intelektual usia sekolah dasar (7-11 tahun) berada pada tahap operasional konkret (Piaget, dalam Wilis:154). Hal senada dikatakan Margaretha S.Y., (2002) bahwa kecenderungan siswa sekolah dasar yang senang bermain dan bergerak menyebabkan anak-anak lebih menyukai belajar lewat eksplorasi dan penyelidikan di luar ruang kelas.
pada dasarnya Konsep-konsep sains dan lingkungan sekitar siswa dapat dengan mudah dikuasai siswa melalui pengamatan pada situasi yang konkret. Dampak positif dari diterapkannya pendekatan lingkungan yaitu siswa dapat terpacu sikap rasa keingintahuannya tentang sesuatu yang ada di lingkungannya. Seandainya kita renungi empat pilar pendidikan yakni learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to be (belajar untuk menjadi jati dirinya), learning to do (Belajar untuk mengerjakan sesuatu) dan learning to life together (belajar untuk bekerja sama) dapat dilaksanakan melalui pembelajaran dengan pendekatan lingkungan yang dikemas sedemikian rupa oleh guru.
Harapan Penulis terilhami menuangkan tulisan ini dengan maksud untuk dikembangkan menjadi visi misi sekolah sebagai prioritas untuk meningkatkan mutu pendidikan. Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat menjadi bahan masukan bagi para guru untuk menengok lingkungan sekitar yang penuh arti sebagai sumber belajar dan informasi yang mendukung tercapainya tujuan pembelajaran secara efektif. Model pendekatan ini pun relevan dengan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM), sehingga pada gilirannya dapat mencetak siswa yang cerdas dan cinta lingkungan.
Siswa boleh saja berpikir secara global, tetapi mereka harus bertindak secara lokal. Artinya, setiap orang/siswa perlu belajar apa pun, bahkan mencari hikmah dari berbagai macam pengalaman bangsa-bangsa lain di seluruh dunia, namun pengetahuan tentang pengalaman bangsa-bangsa lain tersebut dijadikan sebagai pembelajaran dalam tindakan di lingkungan secara lokal. Dengan cara kerja seperti itu, kita tidak perlu melakukan trial and error yang berkepanjangan, melainkan kita belajar dari kesalahan-kesalahan orang lain, sementara kita sekadar meneruskan kerja dari paradigma yang benar.
Bekerja dan belajar yang berbasis lingkungan sekitar memberikan nilai lebih, baik bagi si pembelajar itu sendiri maupun bagi lingkungan sekitar. Katakanlah belajar ilmu sosial atau belajar ekonomi, maka lingkungan sosial dan ekonomi sekitar dapat menjadi laboratorium alam. Pembelajaran ini dapat dilakukan sembari melakukan pemberdayaan (empowering) terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, sementara si pembelajar dapat melakukan proses pembelajaran dengan lebih baik dan efisien. Mohamad Yunus, penerima Nobel asal Bangladesh adalah orang yang banyak belajar berbasis lingkungan untuk mengembangkan ekonomi. Dengan mendirikan Grameen Bank, dia belajar sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar.
Posts by : Admin
Model conference writing
Diantara berbagai masalah atau kesulitan siswa dalam keterampilan menulis ka-rangan yang merupakan kesulitan pokok adalah penyusunan kalimat efektif, penggunaan ejaan dan pungtuasi. Hal ini ditandai dengan tidak gramatikalnya atau tidak jelasnya maksud kalimat dalam karangan, pemakaian ejaan dan pungtuasi yang masih kurang tepat (Yeti Mulyati, 1999).
Kemudian sering kita lihat, siswa tidak dilibatkan dalam menilai (mengkritisi ) hasil karangan. Sehingga mereka kurang mendapatkan pengalaman langsung dalam ber-latih dan melihat kesalahannya sendiri, yang pada gilirannya mereka kurang terasah dan kurang peka dalam kemampuan menulis. Untuk itulah ditawarkan model conference writing dalam pembelajaran menulis karangan, agar pembelajarannya menjadi kompre-hensif, simultan, interaktif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, dengan harapan ke-mampuan menulis karangan siswa menjadi lebih meningkat
Bagaimanakah model conference writing dapat meningkatkan kompetensi menulis karangan
Definisi Operasional
Kesamaan pandangan dalam memahami sebuah masalah dalam penelitian amat diperlukan. Untuk keperluan itu, di sini perlu dikemukakan definisi-definisi operasional sebagai berikut :
1. Menulis karangan adalah suatu proses kegiatan seseorang yang hendak mengungkapkan buah pikiran dan perasaannya kepada orang lain atau dirinya sendiri dalam bentuk tulisan (I. K. Natia, 1994).
2. Kompetensi adalah kemampuan menguasai gramatikal suatu bahasa secara
abstrak atau batiniah (KBBI, 2002).
3. Conference writing adalah strategi menulis bersama (kelompok) dengan melakukan kegiatan saling merespon, menyunting, mengecek dan mempre-
sentasikan/mempublikasikan hasil karangan.
Model Conference Writing
Sebagai aktifitas, sekurang-kurangnya terdapat empat unsur dalam menulis, yaitu
penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan, saluran tulisan, dan pembaca se-bagai penerima pesan. Ditinjau dari keempat unsur aktifitas tersebut, menulis pada haki-katnya adalah sebuah proses. Oleh karena itu, sebuah tulisan tidak dapat ditulis sekali jadi, tetapi melalui proses dan tahapan.
Menurut Hairstone seperti dikutip oleh Barokah Santoso (BPG, 2003) proses a-tau tahapan menulis itu terdiri dari empat yaitu, yaitu (1) tahap persiapan (preperation stage), (2) tahap inkubasi (incubation stage, (3) tahap pencerahan dan pelaksanaan (illu-mnination and execution stage), dan (4) tahap verifikasi (verification stage).
Pada tahap persiapan, seorang penulis berusaha menggali dan memperluas peng-alamannya. Pengalaman bukan hanya berarti fisik, seperti pengalaman perjalanan, ber-wisata, dan sebagainya, melainkan juga bersifat psiokis, seperti membaca buku, berdis-kusi, mendengarkan ceramah, dan sebagainya. Jika usaha menggali dan memperkluas pengalaman ini sudah dilakukan, seorang penulis akan memulai mengidentifikasi per-soalan, memilih topik, dan membatasi topik yang akan ditulisnya. Sekaligus penulis a-kan menentukan tujuan dan memikirkan sejumlah strategi pengumpulan bahan untuk tu-lisannya.
Tahab inkubasi merupakan tahapan bahwa seorang penulis merenung dan memi-kirkan terus-menerus tentang tulisannya. Dengan kekuatan sadar dan bawah sadar, penu-lis memproses, mengevaluasi, menyeleksi, dan menggabung-gabungkan atau menghu-bung-hubungkan semua informasi untuk tulisannya.
Pada tahap pencerahan dan pelaksanaan, penulis menyusun ide-ide pokok untuk tulisannya dalam bentuk kerangka tulisan (out line). Setelah itu penulis mulai mengem-bangkan tulisannya dalam bentuk buram (draft).
Pada tahap akhir yakni tahap verifikasi, penulis mengadakan pengecekan ulang terhadap tulisannya, dari organisasi tulisan, konsistensi alur pikiran atau penalaran, hing-ga penggunaan bahasa dan ejaan. Pada tahap verifikasi ini, penulis mengedit keseluruh-an tulisannya
Kemudian sering kita lihat, siswa tidak dilibatkan dalam menilai (mengkritisi ) hasil karangan. Sehingga mereka kurang mendapatkan pengalaman langsung dalam ber-latih dan melihat kesalahannya sendiri, yang pada gilirannya mereka kurang terasah dan kurang peka dalam kemampuan menulis. Untuk itulah ditawarkan model conference writing dalam pembelajaran menulis karangan, agar pembelajarannya menjadi kompre-hensif, simultan, interaktif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, dengan harapan ke-mampuan menulis karangan siswa menjadi lebih meningkat
Bagaimanakah model conference writing dapat meningkatkan kompetensi menulis karangan
Definisi Operasional
Kesamaan pandangan dalam memahami sebuah masalah dalam penelitian amat diperlukan. Untuk keperluan itu, di sini perlu dikemukakan definisi-definisi operasional sebagai berikut :
1. Menulis karangan adalah suatu proses kegiatan seseorang yang hendak mengungkapkan buah pikiran dan perasaannya kepada orang lain atau dirinya sendiri dalam bentuk tulisan (I. K. Natia, 1994).
2. Kompetensi adalah kemampuan menguasai gramatikal suatu bahasa secara
abstrak atau batiniah (KBBI, 2002).
3. Conference writing adalah strategi menulis bersama (kelompok) dengan melakukan kegiatan saling merespon, menyunting, mengecek dan mempre-
sentasikan/mempublikasikan hasil karangan.
Model Conference Writing
Sebagai aktifitas, sekurang-kurangnya terdapat empat unsur dalam menulis, yaitu
penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan, saluran tulisan, dan pembaca se-bagai penerima pesan. Ditinjau dari keempat unsur aktifitas tersebut, menulis pada haki-katnya adalah sebuah proses. Oleh karena itu, sebuah tulisan tidak dapat ditulis sekali jadi, tetapi melalui proses dan tahapan.
Menurut Hairstone seperti dikutip oleh Barokah Santoso (BPG, 2003) proses a-tau tahapan menulis itu terdiri dari empat yaitu, yaitu (1) tahap persiapan (preperation stage), (2) tahap inkubasi (incubation stage, (3) tahap pencerahan dan pelaksanaan (illu-mnination and execution stage), dan (4) tahap verifikasi (verification stage).
Pada tahap persiapan, seorang penulis berusaha menggali dan memperluas peng-alamannya. Pengalaman bukan hanya berarti fisik, seperti pengalaman perjalanan, ber-wisata, dan sebagainya, melainkan juga bersifat psiokis, seperti membaca buku, berdis-kusi, mendengarkan ceramah, dan sebagainya. Jika usaha menggali dan memperkluas pengalaman ini sudah dilakukan, seorang penulis akan memulai mengidentifikasi per-soalan, memilih topik, dan membatasi topik yang akan ditulisnya. Sekaligus penulis a-kan menentukan tujuan dan memikirkan sejumlah strategi pengumpulan bahan untuk tu-lisannya.
Tahab inkubasi merupakan tahapan bahwa seorang penulis merenung dan memi-kirkan terus-menerus tentang tulisannya. Dengan kekuatan sadar dan bawah sadar, penu-lis memproses, mengevaluasi, menyeleksi, dan menggabung-gabungkan atau menghu-bung-hubungkan semua informasi untuk tulisannya.
Pada tahap pencerahan dan pelaksanaan, penulis menyusun ide-ide pokok untuk tulisannya dalam bentuk kerangka tulisan (out line). Setelah itu penulis mulai mengem-bangkan tulisannya dalam bentuk buram (draft).
Pada tahap akhir yakni tahap verifikasi, penulis mengadakan pengecekan ulang terhadap tulisannya, dari organisasi tulisan, konsistensi alur pikiran atau penalaran, hing-ga penggunaan bahasa dan ejaan. Pada tahap verifikasi ini, penulis mengedit keseluruh-an tulisannya
Posts by : Admin
Teknik Menulis Cerpen
Teknik Menulis cerita pengalaman yang mengesankan merupakan langkah awal dalam pengembangan unsur fiksi, dengan berpedoman pada kekronologisan peristiwa yang telah ditetapkan. Keterampilan menulis khususnya menulis cerpen bukanlah masalah yang ringan. Hal ini membutuhkan kerja sama untuk saling koreksi agar dapat meningkatkan keterampilan menulis dan membaca. Sebagai konsekwensinya, sastra dan pemahaman terhadapnya bukan saja memberikan kesempatan kepada orang lain menikmatinya dalam beberapa jam, menghindarkan dari kerumitan hidup dalam pengertian yang sebenar-benarnya. Karya sastra memungkinkan kita turut berpartisipasi seolah-olah mengalami sendiri apa-apa yang dialami orang lain dalam dunia fiksi. Menemui dan mengalami dunia fiksi ini dapat menambah serta memperkaya pemahaman kita akan dunia nyata. Cara-cara yang baik untuk mengembangkan selera sastra kita sendiri, meningkatkan kemampuan kritis, dan belajar menggunakan sastra sebagai pengalaman manusiawi dengan jalan menulis kritis.
Bahan dasar menulis cerpen adalah tema. Tema adalah ide yang mendasari sebuah cerita. Secara umum tema dibedakan menjadi tiga : (1) estetis, yakni tema yang berisikan tentang keindahan baik secara fisik atau psikis, (2) etis, yakni tema yang berkaitan dengan identifikasi yang ada di masyarakat. (3) religius, yakni tema-tema yang berbahu ke-Tuhanan, perlu dialami bahwa pembagian tersebut bukan merupakan “Karya mati”.
C. Teknik Menulis Cerpen
Untuk membangkitkan selera siswa agar suka menulis, diperlukan adanya kerjasama yang baik untuk tukar pendapat dalam mengembangkan ide-idenya.
1.Siswa diberi kebebasan mengungkapkan pengalaman yang paling berkesan.
2.Menentukan tema dan alur cerita.
3.Mengembangkan ide-ide cerita.
4.Mendiskusikan hasil tulisan dengan memperhatikan :
a.Ketepatan menggunakan pilihan kata, pemakaian bahasa, dan ejaan yang digunakan.
b.Keruntutan alur cerita yang digunakan untuk mengembangkan cerita yang ditulis.
Bahan dasar menulis cerpen adalah tema. Tema adalah ide yang mendasari sebuah cerita. Secara umum tema dibedakan menjadi tiga : (1) estetis, yakni tema yang berisikan tentang keindahan baik secara fisik atau psikis, (2) etis, yakni tema yang berkaitan dengan identifikasi yang ada di masyarakat. (3) religius, yakni tema-tema yang berbahu ke-Tuhanan, perlu dialami bahwa pembagian tersebut bukan merupakan “Karya mati”.
C. Teknik Menulis Cerpen
Untuk membangkitkan selera siswa agar suka menulis, diperlukan adanya kerjasama yang baik untuk tukar pendapat dalam mengembangkan ide-idenya.
1.Siswa diberi kebebasan mengungkapkan pengalaman yang paling berkesan.
2.Menentukan tema dan alur cerita.
3.Mengembangkan ide-ide cerita.
4.Mendiskusikan hasil tulisan dengan memperhatikan :
a.Ketepatan menggunakan pilihan kata, pemakaian bahasa, dan ejaan yang digunakan.
b.Keruntutan alur cerita yang digunakan untuk mengembangkan cerita yang ditulis.
Posts by : Admin
Contoh RPP Berkarakter SD
Pada intinya RPP Berkarakter lebih menekankan pada suatu proses dalam pembelajaran yaitu Landasan eksplorasi,Elaborasi,konfirmasi.
Ciri-ciri pembelajaran berbasis eksplorasi :
(1) Melibatkan peserta didik mencari informasi (topic tertentu),
(2) Menggunakan beragam pendekatan ,media dan sumber belajar,(
3) Memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik.
Ciri-ciri pembelajaran berbasis Elaborasi : (1) Membiasakan peserta didik untuk membaca dan menulis yang beragam melalui tugas tertentu,(3) Memfasilitasi peserta didik untuk memunculkan gagasan baru melalui pemberian tugas, (4) Memberi kesemptan siswa untuk berpikir,menganalisa,menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut.,(5) kooperatif,(6) berkompetisi secara sehat, (7) Membuat laporan.
Ciri-ciri pembelajaran berbasis konfirmasi : (1) Guru memberi umpan balik positip terhadap hasi belajar anak didik,(2) Guru memberi konfirmasi hasil eksplorasi peserta didik, (3) Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk merefleksi pengalamn belajarnya. berikut contoh RPP Berkarakter Kelas 5 SD : kali ini saya hanya akan menampilkan kegiatan pembelajaran saja, untuk yang lain tidak jauh berbeda dengan RPP biasa.
E.Langkah – Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama
a.Pendahuluan
Untuk memotivasi siswa, guru menggambar atau menunjukkan bangun ruang kubus dan bertanya jawab bagaimana bentuk kubus.
b.Kegiatan inti
1. Eksplorasi
-Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan tugas.
-Tiap kelompok melaporkan tugas yang telah dilaksanakan.
-Guru menyajikan materi tentang cara menentukan volume kubus.
2. Elaborasi
-Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing – masing kelompok melaksanakan tugas.
-Guru menyediakan kotak yang berbentuk kubus dan balok.
-Tiap kelompok mengambil kotak – kotak kecil untuk disusun menjadi sebuah kubus ataupun balok.
-Tiap kelompok membacakan hasil kerja kelompok untuk mendapat tanggapan dari kelompok lain.
3. Konfirmasi
-Guru memberikan penghargaan pada kelompok terbaik berupa ucapan selamat secara langsung.
-Menanyakan pada siswa hal – hal yang telah dipahami atau yang belum dipahami oleh anak.
-Memberikan tugas / PR kepada siswa.
-Memberi bimbingan pada siswa yang belum mampu mencapai tujuan pembelajaran indikator atau KKM yang ditetapkan.
c.Penutup
-Penilaian
-Refleksi
Pertemuan Kedua
a.Pendahuluan
-Guru memberikan pertanyaan tentang materi yang lalu yaitu tentukan volumenya rusuk sebuah kubus 12 satuan.
-Guru membahas yang berhubungan dengan materi.
b.Kegiatan inti
1. Eksplorasi
-Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan tugas.
-Masing – masing kelompok melaporkan hasil tugasnya.
-Guru menyajikan materi pelajaran.
2. Elaborasi
-Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
-Guru menyediakan kertas untuk menggambar bangun balok.
-Tiap kelompok mengerjakan tugas sesuai dengan ukuran masing – masing.
-Masing – masing kelompok membacakan hasil kerja kelompok untuk dikumpulkan.
3. Konfirmasi
-Guru memberi penghargaan pada kelompok terbaik dengan ucapan selamat.
-Menanyakan pada siswa yang dipahami maupun yang belum dipahami.
-Memberikan tugas / PR.
-Memberikan bimbingan khusus pada siswa yang belum mampu mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan indikator atau KKM yang ditetapkan.
c.Penutup
-Penilaian
-Refleksi
Ciri-ciri pembelajaran berbasis eksplorasi :
(1) Melibatkan peserta didik mencari informasi (topic tertentu),
(2) Menggunakan beragam pendekatan ,media dan sumber belajar,(
3) Memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik.
Ciri-ciri pembelajaran berbasis Elaborasi : (1) Membiasakan peserta didik untuk membaca dan menulis yang beragam melalui tugas tertentu,(3) Memfasilitasi peserta didik untuk memunculkan gagasan baru melalui pemberian tugas, (4) Memberi kesemptan siswa untuk berpikir,menganalisa,menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut.,(5) kooperatif,(6) berkompetisi secara sehat, (7) Membuat laporan.
Ciri-ciri pembelajaran berbasis konfirmasi : (1) Guru memberi umpan balik positip terhadap hasi belajar anak didik,(2) Guru memberi konfirmasi hasil eksplorasi peserta didik, (3) Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk merefleksi pengalamn belajarnya. berikut contoh RPP Berkarakter Kelas 5 SD : kali ini saya hanya akan menampilkan kegiatan pembelajaran saja, untuk yang lain tidak jauh berbeda dengan RPP biasa.
E.Langkah – Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama
a.Pendahuluan
Untuk memotivasi siswa, guru menggambar atau menunjukkan bangun ruang kubus dan bertanya jawab bagaimana bentuk kubus.
b.Kegiatan inti
1. Eksplorasi
-Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan tugas.
-Tiap kelompok melaporkan tugas yang telah dilaksanakan.
-Guru menyajikan materi tentang cara menentukan volume kubus.
2. Elaborasi
-Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing – masing kelompok melaksanakan tugas.
-Guru menyediakan kotak yang berbentuk kubus dan balok.
-Tiap kelompok mengambil kotak – kotak kecil untuk disusun menjadi sebuah kubus ataupun balok.
-Tiap kelompok membacakan hasil kerja kelompok untuk mendapat tanggapan dari kelompok lain.
3. Konfirmasi
-Guru memberikan penghargaan pada kelompok terbaik berupa ucapan selamat secara langsung.
-Menanyakan pada siswa hal – hal yang telah dipahami atau yang belum dipahami oleh anak.
-Memberikan tugas / PR kepada siswa.
-Memberi bimbingan pada siswa yang belum mampu mencapai tujuan pembelajaran indikator atau KKM yang ditetapkan.
c.Penutup
-Penilaian
-Refleksi
Pertemuan Kedua
a.Pendahuluan
-Guru memberikan pertanyaan tentang materi yang lalu yaitu tentukan volumenya rusuk sebuah kubus 12 satuan.
-Guru membahas yang berhubungan dengan materi.
b.Kegiatan inti
1. Eksplorasi
-Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan tugas.
-Masing – masing kelompok melaporkan hasil tugasnya.
-Guru menyajikan materi pelajaran.
2. Elaborasi
-Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok.
-Guru menyediakan kertas untuk menggambar bangun balok.
-Tiap kelompok mengerjakan tugas sesuai dengan ukuran masing – masing.
-Masing – masing kelompok membacakan hasil kerja kelompok untuk dikumpulkan.
3. Konfirmasi
-Guru memberi penghargaan pada kelompok terbaik dengan ucapan selamat.
-Menanyakan pada siswa yang dipahami maupun yang belum dipahami.
-Memberikan tugas / PR.
-Memberikan bimbingan khusus pada siswa yang belum mampu mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan indikator atau KKM yang ditetapkan.
c.Penutup
-Penilaian
-Refleksi
Posts by : Admin
Ketahanan Pribadi Siswa
Pada penelitian ini tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan ketahanan pribadi bagi siswa, sebab ditengarai banyak siswa yang kurang ulet dalam belajar matematika. Indikasi dari dugaan tresebut antara lain ; 1) belum mampu membebaskan diri dari keinginan menggantungkan diri dari pihak lain, misalnya kebiasaan siswa mencontoh hasil pekerjaan temannya, atau adanya siswa yang sering mengekor pendapat temannya, 2) belum memiliki jiwa dinamis, kreatif dan pantang menyerah, misalnya kebiasaan siswa kurang berani memulai suatu pekerjaan (kurang berani untuk mengambil keputusan walaupun beresiko).
Menurut (Soedarsono,S, 1999) secara esensial seseorang disebut memiliki ketahanan pribadi (keuletan) bila ia ;
-Memiliki rasa percaya diri dan berpegang teguh pada prinsip,
-Mampu membebaskan diri dari keinginan menggantungkan diri dari pihak lain,
-Mendambakan kebersamaan,
-Memiliki jiwa dinamis, kreatif dan pantang menyerah.
Siswa yang memiliki ketahanan pribadi yang tinggi akan berusaha menggunakan potensinya sendiri dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan dia malu apabila harus mencontoh hasil pekerjaan teman-temannya. Siswa akan lebih berani mencoba mengerjakan tugas-tugas (kelompok maupun individu) walaupun secara psikologis resikonya sangat besar menurut siswa, misalnya disalahkan, dicemooh, atau pandangan negatif lainnya.
Pada saat pembelajaran kelompok, siswa yang memiliki ketahanan pribadi tinggi akan lebih terbuka, berani bertanya, berani mengemukakan pendapat walaupun beresiko, misalnya diejek, dianggap sok tahu, dianggap bodoh dan lain-lain predikat negatif.
Apabila ketahanan pribadi yang tinggi ini sudah tertanam pada diri siswa, maka dapat dipastikan masing-masing siswa memiliki rasa tanggung jawab pribadi yang tinggi juga. Mereka akan dapat mengembangkan potensinya secara optimal sehingga diharapkan akan berdampak positif pada prestasi belajarnya.
Menurut (Soedarsono,S, 1999) secara esensial seseorang disebut memiliki ketahanan pribadi (keuletan) bila ia ;
-Memiliki rasa percaya diri dan berpegang teguh pada prinsip,
-Mampu membebaskan diri dari keinginan menggantungkan diri dari pihak lain,
-Mendambakan kebersamaan,
-Memiliki jiwa dinamis, kreatif dan pantang menyerah.
Siswa yang memiliki ketahanan pribadi yang tinggi akan berusaha menggunakan potensinya sendiri dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan dia malu apabila harus mencontoh hasil pekerjaan teman-temannya. Siswa akan lebih berani mencoba mengerjakan tugas-tugas (kelompok maupun individu) walaupun secara psikologis resikonya sangat besar menurut siswa, misalnya disalahkan, dicemooh, atau pandangan negatif lainnya.
Pada saat pembelajaran kelompok, siswa yang memiliki ketahanan pribadi tinggi akan lebih terbuka, berani bertanya, berani mengemukakan pendapat walaupun beresiko, misalnya diejek, dianggap sok tahu, dianggap bodoh dan lain-lain predikat negatif.
Apabila ketahanan pribadi yang tinggi ini sudah tertanam pada diri siswa, maka dapat dipastikan masing-masing siswa memiliki rasa tanggung jawab pribadi yang tinggi juga. Mereka akan dapat mengembangkan potensinya secara optimal sehingga diharapkan akan berdampak positif pada prestasi belajarnya.
Posts by : Admin
Sistem pembelajaran ICARE
Konsep sistem ICARE yang diperkenalkan oleh Decentralized Basic Education (DBE) yang dikembangkan oleh United States Agency International Developmen (USAID) tahun 2006, mengemukakan suatu sistem pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar peserta (siswa) dengan tahapan-tahapan pembelajaran sebagai berikut: (1) Introduce (Perkenalkan), pada tahap ini guru sebagai fasilitator memperkenalkan topik (tujuan pembelajaran) kepada siswa, kemudian guru sebagai fasilitator mencoba untuk menghubungkan topik pembelajaran dengan sesuatu yang menarik perhatian siswa, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan dan pengalaman orang sehari-hari. (3) Apply (Terapkan), tahap ini sangat penting untuk siswa, karena siswa belajar menggunakan apa yang baru mereka pelajari. Sehingga siswa terlibat langsung dalam kehidupan nyata dengan mempraktikkan keterampilan-keterampilan yang baru. (4) Reflect (Refleksikan) , merupakan aktivitas melalui diskusi-diskusi kelompok dan catatan-catatan individu dalam jurnal (buku) pribadi siswa. (5) Extend (Perluaskan), tahapan yang terakhir ini secara eksplisit guru memperluas apa yang telah dialami dan dipelajari siswa, sehingga siswa akan mempraktikkan pengalaman belajarnya untuk bersosial dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan cara ini siswa akan mengungkapkan ide-ide atau pengalaman belajarnya. John Holt (1967) dalam Siberman ML (2006;26) menyatakan bahwa “Proses belajar akan meningkat jika siswa diminta untuk melakukan hal-hal sebagai berikut: mengemukakan kembali informasi dengan kata-kata mereka sendiri, memberi contohnya, melihat kaitannya antara informasi itu dengan fakta atau gagasan lain, menggunakan dengan beragam cara, memprediksikan sejumlah konsekuensinya dan menyebutkan lawan atau balikannya”.
Posts by : Admin
Bahasa Inggris sistem ICARE
Setelah penulis membaca dan memahami beberapa strategi atau cara-cara bagaimana membelajarkan siswa yang aktif dan interaktif maka, penulis memilih salah satu strategi pembelajaran yang diperkirakan akan membuat siswa aktif dan interaktif mengungkapkan bahasa Inggris secara lisan yang berterima adalah sistem ICARE. Dengan sistem ICARE siswa akan menerapkan langsung komunikasi berdasarkan ide atau pengalaman belajar yang dimiliki, dengan demikian keterampilan siswa akan meningkat sebab seluruh siswa akan mempraktikkan bahasa lisan yang berterima selama proses pembelajaran.
Fenomena lain yang terkait di dalam membelajarkan siswa adalah guru belum terbiasa melakukan pembelajaran secara kreatif dan inovatif dengan menggunakan sistem ICARE. Untuk itu selama proses pembelajaran cara-cara guru didalam menerapkan sistem ICARE perlu dikaji juga.
Di dalam standar kompetensi bahasa Inggris SMP memiliki beberapa wacana, salah satu wacana untuk kelas VII adalah monolog descriptive sederhana. Berikut ini adalah salah satu standar kompetensi keterampilan berbicara yaitu: “Mengungkapkan makna dalam monolog pendek sangat sederhana dengan menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar, dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat dalam teks berbentuk descriptive dan procedure.” (Standar isi, 2006; 4). Terdapat dua monolog dalam standar kompetensi pada keterampilan berbicara di atas, yaitu monolog descriptive dan procedure, wacana yang dipilih oleh penulis adalah monolog descriptive karena monolog descriptive struktur tatabahasa yang digunakan wacana ini lebih sederhana. Karena penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil maka dipilih bahasan monolog descriptive dengan menggunakan model pembelajaran ICARE
Fenomena lain yang terkait di dalam membelajarkan siswa adalah guru belum terbiasa melakukan pembelajaran secara kreatif dan inovatif dengan menggunakan sistem ICARE. Untuk itu selama proses pembelajaran cara-cara guru didalam menerapkan sistem ICARE perlu dikaji juga.
Di dalam standar kompetensi bahasa Inggris SMP memiliki beberapa wacana, salah satu wacana untuk kelas VII adalah monolog descriptive sederhana. Berikut ini adalah salah satu standar kompetensi keterampilan berbicara yaitu: “Mengungkapkan makna dalam monolog pendek sangat sederhana dengan menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar, dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat dalam teks berbentuk descriptive dan procedure.” (Standar isi, 2006; 4). Terdapat dua monolog dalam standar kompetensi pada keterampilan berbicara di atas, yaitu monolog descriptive dan procedure, wacana yang dipilih oleh penulis adalah monolog descriptive karena monolog descriptive struktur tatabahasa yang digunakan wacana ini lebih sederhana. Karena penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil maka dipilih bahasan monolog descriptive dengan menggunakan model pembelajaran ICARE
Posts by : Admin
Kesulitan Lisan Bahasa Inggris
Kesulitan paling esensi yang penulis alami ketika membelajarkan siswa bahasa Inggris adalah bagaimana cara membelajarkan siswa untuk mengungkapkan bahasa tersebut secara lisan dan berterima. Pada umumnya siswa kurang mampu mengungkapkan bahasa lisan walaupun mereka telah mengalami pembelajaran dalam beberapa bahasan pada siklus lisan. Beberapa cara sudah penulis lakukan antara lain menambahkan waktu belajar khusus berbicara pada setiap hari sabtu melalui ekstrakurikuler conversation, siswa diberi tugas untuk belajar menggunakan bahasa lisan di sekolah atau di rumah secara berkelompok tetapi hasilnya masih kurang memuaskan karena masih 40% siswa belum terampil mengungkapkan bahasa Inggris secara lisan. Sedangkan 60% lainnya hanya mampu mengungkapkan dengan frekuensi rata-rata dua sampai dengan tiga kalimat saja dan dengan cara menghafalkan tulisan. Inilah fenomena kesulitan yang dialami oleh penulis di dalam membelajarkan siswa di sekolah.
Ketika penulis membaca buku Percikan Perjuangan Guru karya Profesor Surya yang menyatakan tentang perubahan paradigma guru pada abad ke 21, salah satu pernyataannya mampu menyadarkan penulis untuk berkreasi didalam membelajarkan siswa dengan cara yang kreatif, pernyataan tersebut tertulis sebagai berikut: “Guru akan lebih tampil tidak lagi sebagai pengajar (teacher) seperti fungsinya menonjol saat ini, melainkan sebagai: pelatih, konselor, manajer belajar, partisipan, pemimpin, dan pelajar ”, (Surya,2003:334). Lebih mendalam dan rinci pada buku tersebut dijelaskan sebagai berikut: Pada kata pelatih dimaksudkan guru adalah seperti pelatih olah raga yang banyak membantu siswa dalam permainan (game of learning), membantu siswa menguasai alat belajar, memotivasi untuk kerja keras, bekerjasama dengan siswa yang lain. Sebagai konselor, guru akan menjadi sahabat siswa, teladan bagi pribadi yang mengundang rasa hormat dan keakraban. Struktur kelas, perlu ditata agar terjadi school within school dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok dalam bimbingan guru. Sebagai manajer, guru akan bertindak seperti manajer perusahaan, membimbing siswa belajar, mengambil prakarsa, ide-ide terbaik yang dimilikinya, namun disisi lain guru merupakan bagian dari siswa yang ikut belajar bersama mereka sebagai pelajar. Guru juga belajar dari teman seprofesinya melalui model team teaching. Pernyataan bijak di atas tentunya perlu diteladani dan dimaknai, artinya guru sebagai pengelolah pembelajaran harus selalu kreatif dan inovatif dalam menentukan stategi pembelajaran yang dapat membantu dan mempermudah siswa dalam belajar untuk mencapai kompetensi. Banyak strategi pembelajaran atau metoda yang ditawarkan agar siswa aktif dan kreatif yang seperti Quantumn Learning, Accelerated Learning, Cooperative Learning, Contextual Teaching and Learning dan sebagainya.
Ketika penulis membaca buku Percikan Perjuangan Guru karya Profesor Surya yang menyatakan tentang perubahan paradigma guru pada abad ke 21, salah satu pernyataannya mampu menyadarkan penulis untuk berkreasi didalam membelajarkan siswa dengan cara yang kreatif, pernyataan tersebut tertulis sebagai berikut: “Guru akan lebih tampil tidak lagi sebagai pengajar (teacher) seperti fungsinya menonjol saat ini, melainkan sebagai: pelatih, konselor, manajer belajar, partisipan, pemimpin, dan pelajar ”, (Surya,2003:334). Lebih mendalam dan rinci pada buku tersebut dijelaskan sebagai berikut: Pada kata pelatih dimaksudkan guru adalah seperti pelatih olah raga yang banyak membantu siswa dalam permainan (game of learning), membantu siswa menguasai alat belajar, memotivasi untuk kerja keras, bekerjasama dengan siswa yang lain. Sebagai konselor, guru akan menjadi sahabat siswa, teladan bagi pribadi yang mengundang rasa hormat dan keakraban. Struktur kelas, perlu ditata agar terjadi school within school dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok dalam bimbingan guru. Sebagai manajer, guru akan bertindak seperti manajer perusahaan, membimbing siswa belajar, mengambil prakarsa, ide-ide terbaik yang dimilikinya, namun disisi lain guru merupakan bagian dari siswa yang ikut belajar bersama mereka sebagai pelajar. Guru juga belajar dari teman seprofesinya melalui model team teaching. Pernyataan bijak di atas tentunya perlu diteladani dan dimaknai, artinya guru sebagai pengelolah pembelajaran harus selalu kreatif dan inovatif dalam menentukan stategi pembelajaran yang dapat membantu dan mempermudah siswa dalam belajar untuk mencapai kompetensi. Banyak strategi pembelajaran atau metoda yang ditawarkan agar siswa aktif dan kreatif yang seperti Quantumn Learning, Accelerated Learning, Cooperative Learning, Contextual Teaching and Learning dan sebagainya.
Posts by : Admin
Meningkatkan Tanggungjawab Individu dalam Kelompok Belajar
Bertanggungjawab artinya mengakui akuntabilitas, pengaruh dan peran individu akan terciptanya sebuah situasi dimana individu berada.ini berarti individu bertanggungjawab terhadap perilakunya,dan menerima sepenuhnya konsekuensi apapun yang diakibatkan oleh perbuatannya. Tanggungjawab mengisyaratkan proses pembentukanmakna(Authorship), Tanggungjawab membawa pada pembebasan pengakuan kebenaran dan tidak melarikan diri dari kesalahan,dan akan membawa individu untuk melangkah lebih lanjut kepada kebaikan yang lebih besar.(Elizabeth Kubler dalam Ross , 1989). Tanggung jawab adalah pelajaran kedewasaan yang utama, individu yang menerima tanggungjawab berusaha mewujudkan sesuatu dalam situasi tertentu yang berbeda, dimana individu bisa berbangga karenanya. (Rosser,1984:445)
Bertanggungjawab adalah kesediaan individu menerima sejumlah tugas, kemudian melaksanakan tugas yang telah disepakati antara pemberi tugas dan penerima tugas, berkonsultasi kepada pemberi tugas jika menghadapi masalah atau menemui masalah ketika menjalankan tugasdan melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada pemberi tugas serta kesanggupan bekerjasama dengan pemberi tugas demi keberhasilan tugas yang disepakati bersama ( Carl R. Rogers,1981 :185)
Kelompok belajar adalah berkumpulnya dua individu atau lebih yang mengadakan aktivitas belajar. ( D. Ausubel, 1992)
Ada lima elemen penting yang harus ada dalam suatu kelompok belajar antara lain:
1.Interdependent yang positif (perasaan kebersamaan).
2.Interaksi face-to-face atau tatap muka saling mendukung (saling membantu saling menghargai, memberikan selamat dan merayakan sukses bersama).
3.Tanggungjawab individu dan kelompok (demi keberhasilan pembelajaran)
4.Kemampuan komunikasi antar pribadi dankomunikasi dalamkelompok kecil ( komunikasi, rasa percaya, kepemimpinan, pembuatan keputusan dan manajemen serta resolusi konflik ).
5.Pemrosesan secara kelompok ( melakukan refleksi terhadap fungsi dan kemampuan mereka bekerjasama sebagai suatu kelompok,dan bagaimana untuk mampu berprestasillebih baik lagi).
Usaha-usaha yang harus diperhatikan agar kelompok belajar lebih efektif:
1.Pengelompokan harus memperhatikan level kemampuan, karakter, style Belajar, dan heterogenitas agar terjadi pelatihan silang(cross-training).
2.Jumlah anggota kelompok harus desuai dengan materi bahasan dan waktu pengerjaan. Jumlah ideal anara 3 – 5 orang tiap kelompok.
3.Kelompok belajar harus diterapkan secara konsisten dan sistematik dengan memperhatikan, stamina individu anggota kelompok, frekuensi, privasi, Dan daya asimilasi materi pembelajaran setiap individu dalam kelompok .
Ada 3 macam pengelompokan dalam belajar, yaitu:
1.Kelompok Informal
Kelompok ini bersifat sementara, pengelompokan ini hanya digunakan dalam satu periode pengajaran. Kelompok ini biasanya hanya terdiri dari dua orang siswa. Tujuan kelompok ini adalah untuk menjelaskan harapan akan hasil yang ingin dicapai , membantu siswa untuk lebih focus pada materipembelajaran, memberikan kesempatan kepada siswa untuk bisa secara lebih mendalam memproses informasi yang diajarkan atau menyediakan waktu untuk melakukan pengulangan dan menjangkarkan informasi.
2. Kelompok Formal
Kelompok ini digunakan untuk memastikan bahwa siswa mempunyai
Cukup waktu untuk menyelesaikan cukup waktu untuk menyelesaikan
Suatu tugas dengan baik,kelompok ini bisa bekerja beberapa hari atau bahkan beberapa minggu tergantung pada tugas yang diberikan kepada meraka.
3.Kelompok Pendukung
Kelompok pendukung adalah pengelompokan dengan tenggang waktu yang lebih panjang (misalnya satu semester atau satu tahun). Tujuannya adalah memberi suatu dukungan yang berkelanjutan antara satu dengan yang lainnya
Bertanggungjawab adalah kesediaan individu menerima sejumlah tugas, kemudian melaksanakan tugas yang telah disepakati antara pemberi tugas dan penerima tugas, berkonsultasi kepada pemberi tugas jika menghadapi masalah atau menemui masalah ketika menjalankan tugasdan melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada pemberi tugas serta kesanggupan bekerjasama dengan pemberi tugas demi keberhasilan tugas yang disepakati bersama ( Carl R. Rogers,1981 :185)
Kelompok belajar adalah berkumpulnya dua individu atau lebih yang mengadakan aktivitas belajar. ( D. Ausubel, 1992)
Ada lima elemen penting yang harus ada dalam suatu kelompok belajar antara lain:
1.Interdependent yang positif (perasaan kebersamaan).
2.Interaksi face-to-face atau tatap muka saling mendukung (saling membantu saling menghargai, memberikan selamat dan merayakan sukses bersama).
3.Tanggungjawab individu dan kelompok (demi keberhasilan pembelajaran)
4.Kemampuan komunikasi antar pribadi dankomunikasi dalamkelompok kecil ( komunikasi, rasa percaya, kepemimpinan, pembuatan keputusan dan manajemen serta resolusi konflik ).
5.Pemrosesan secara kelompok ( melakukan refleksi terhadap fungsi dan kemampuan mereka bekerjasama sebagai suatu kelompok,dan bagaimana untuk mampu berprestasillebih baik lagi).
Usaha-usaha yang harus diperhatikan agar kelompok belajar lebih efektif:
1.Pengelompokan harus memperhatikan level kemampuan, karakter, style Belajar, dan heterogenitas agar terjadi pelatihan silang(cross-training).
2.Jumlah anggota kelompok harus desuai dengan materi bahasan dan waktu pengerjaan. Jumlah ideal anara 3 – 5 orang tiap kelompok.
3.Kelompok belajar harus diterapkan secara konsisten dan sistematik dengan memperhatikan, stamina individu anggota kelompok, frekuensi, privasi, Dan daya asimilasi materi pembelajaran setiap individu dalam kelompok .
Ada 3 macam pengelompokan dalam belajar, yaitu:
1.Kelompok Informal
Kelompok ini bersifat sementara, pengelompokan ini hanya digunakan dalam satu periode pengajaran. Kelompok ini biasanya hanya terdiri dari dua orang siswa. Tujuan kelompok ini adalah untuk menjelaskan harapan akan hasil yang ingin dicapai , membantu siswa untuk lebih focus pada materipembelajaran, memberikan kesempatan kepada siswa untuk bisa secara lebih mendalam memproses informasi yang diajarkan atau menyediakan waktu untuk melakukan pengulangan dan menjangkarkan informasi.
2. Kelompok Formal
Kelompok ini digunakan untuk memastikan bahwa siswa mempunyai
Cukup waktu untuk menyelesaikan cukup waktu untuk menyelesaikan
Suatu tugas dengan baik,kelompok ini bisa bekerja beberapa hari atau bahkan beberapa minggu tergantung pada tugas yang diberikan kepada meraka.
3.Kelompok Pendukung
Kelompok pendukung adalah pengelompokan dengan tenggang waktu yang lebih panjang (misalnya satu semester atau satu tahun). Tujuannya adalah memberi suatu dukungan yang berkelanjutan antara satu dengan yang lainnya
Posts by : Admin
Belajar Aktif Pendekatan Kuis Tim
Pendekatan kuis tim adalah salah satu bentuk atau bagian dari pembelajaran aktif yang mengedepankan kegiatan yang menyenangkan , menciptakan kreativitas- kreativitas baru, mengutamakan efektifitas dalam belajar, memobilisasi kelompok secara konsisten.
Belajar aktif adalah mengkaji gagasan, mendiskusikan gagasan,memecahkan masalah, mengambil kesimpulan dan menerapkan apa yang dipelajari dengan semangat dan menyenangkan ( Piaget dalam teoribelajar Ratna Wilis D,1988).
Montessori mengatakan bahwa, siswa akan belajar dengan sangat baik dari pengalaman konkret yang berlandaskan kegiatan yang menyenangkan dan berkesan dalam kebersamaan atau kegiatan kelompok yang saling mempengaruhi dan saling menghargai perbedaan individual serta menghargai beragamnya kecerdasan.
Belajar aktif melalui pendekatan kuis tim ini memiliki cirri khusus sebagai berikut:
1. Belajar dimulai dengan suatu topic,
2.Pembentukan tim, untuk mengenal satu sama lain dalam menciptakan satu kerjasama dan kesalingtergantungan.
3.Pelibatan belajar secara langsung untuk menciptakan minat awal terhadap pelajaran.
4.Penilaian serentak untuk mempelajari sikap, pengetahuan, dan pengalaman siswa.Teknik-teknik ini digunakan untuk mendorong siswa untuk mengambil peran aktif sejak awal.
Teknik yang digunakan sebagai alternative dalam membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan ,ketrampilan secara aktif adalah sebagai berikut:
1.Proses belajar satu kelas penuh yang dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dipimpin oleh guru sebagai stimulator seluruh siswa.
2.Diskusi kelas yang yang mewadahi dialog dan debat tentang persoalan-persoalan yang muncul dalam presentasi kelompok.
3.Pengajuan pertanyaan oleh siswa dalam rangka meminta penjelasan atau penguatan konsep pemahaman topic.
4.Kegiatan belajar kolaboratif untuk penyelesaian tugas secara bersama-sama dalam kelompok kecil.
5.Pengajaran oleh teman sekelas dalam rangka tukar menukar informasi dan penjajakan pengetahuan dengan sistim among.
6.Kegiatan belajar madiri, yakni aktifitas belajar yang dilakukan di dalam kelompok tersebut untuk meningkatkan tanggung jawab individu terhadap apa yang telah mereka pelajari dan pahami.
7.Kegiatan belajar aktif dan partisipatif, yakni kegiatan yang membantu siswa dalam memahami perasaan, nilai-nilai dan sikap mereka
8.Pengembangan ketrampilan,mempelajari dan mempraktekan ketrampilan baik secara teknis maupun non teknis.
Belajar aktif adalah mengkaji gagasan, mendiskusikan gagasan,memecahkan masalah, mengambil kesimpulan dan menerapkan apa yang dipelajari dengan semangat dan menyenangkan ( Piaget dalam teoribelajar Ratna Wilis D,1988).
Montessori mengatakan bahwa, siswa akan belajar dengan sangat baik dari pengalaman konkret yang berlandaskan kegiatan yang menyenangkan dan berkesan dalam kebersamaan atau kegiatan kelompok yang saling mempengaruhi dan saling menghargai perbedaan individual serta menghargai beragamnya kecerdasan.
Belajar aktif melalui pendekatan kuis tim ini memiliki cirri khusus sebagai berikut:
1. Belajar dimulai dengan suatu topic,
2.Pembentukan tim, untuk mengenal satu sama lain dalam menciptakan satu kerjasama dan kesalingtergantungan.
3.Pelibatan belajar secara langsung untuk menciptakan minat awal terhadap pelajaran.
4.Penilaian serentak untuk mempelajari sikap, pengetahuan, dan pengalaman siswa.Teknik-teknik ini digunakan untuk mendorong siswa untuk mengambil peran aktif sejak awal.
Teknik yang digunakan sebagai alternative dalam membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan ,ketrampilan secara aktif adalah sebagai berikut:
1.Proses belajar satu kelas penuh yang dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dipimpin oleh guru sebagai stimulator seluruh siswa.
2.Diskusi kelas yang yang mewadahi dialog dan debat tentang persoalan-persoalan yang muncul dalam presentasi kelompok.
3.Pengajuan pertanyaan oleh siswa dalam rangka meminta penjelasan atau penguatan konsep pemahaman topic.
4.Kegiatan belajar kolaboratif untuk penyelesaian tugas secara bersama-sama dalam kelompok kecil.
5.Pengajaran oleh teman sekelas dalam rangka tukar menukar informasi dan penjajakan pengetahuan dengan sistim among.
6.Kegiatan belajar madiri, yakni aktifitas belajar yang dilakukan di dalam kelompok tersebut untuk meningkatkan tanggung jawab individu terhadap apa yang telah mereka pelajari dan pahami.
7.Kegiatan belajar aktif dan partisipatif, yakni kegiatan yang membantu siswa dalam memahami perasaan, nilai-nilai dan sikap mereka
8.Pengembangan ketrampilan,mempelajari dan mempraktekan ketrampilan baik secara teknis maupun non teknis.
Posts by : Admin
Matematika Mudah Dipahami
Pembelajaran Matematika umumnya didominasi oleh pengenalan rumus-rumus serta konsep-konsep secara verbal, tanpa ada perhatian yang cukup terhadap pemahaman siswa. Matematika agar Mudah Dipahami Disamping itu proses belajar mengajar hampir selalu berlangsung dengan metode “chalk and talk” guru menjadi pusat dari seluruh kegiatan di kelas (Somerset, 1997 dalam Sodikin, 2004:1).
Pembelajaran matematika sering diinterpretasikan sebagai aktivitas utama yang dilakukan guru, yaitu guru mengenalkan materi, mungkin mengajukan satu atau dua pertanyaan, dan meminta siswa yang pasif untuk aktif dengan memulai melengkapi latihan dari buku teks, pelajaran diakhiri dengan pengorganisasian yang baik dan pembelajaran selanjutnya dilakukan dengan sekenario yang serupa.
Kondisi di atas tampak lebih parah pada pembelajaran geometri. Sebagian siswa tidak mengetahui mengapa dan untuk apa mereka belajar konsep-konsep geometri, karena semua yang dipelajari terasa jauh dari kehidupan mereka sehari-hari. Siswa hanya mengenal objek-objek geometri dari apa yang digambar oleh guru di depan papan tulis atau dalam buku paket matematika, dan hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk memanipulasi objek-objek tersebut. Akibatnya banyak siswa yang berpendapat bahwa konsep-konsep geometri sangat sukar dipelajari (Soedjadi, 1991 dalam Sodikin 2004:2).
Pada umumnya, sekelompok siswa beranggapan bahwa mata pelajaran matematika sulit difahami. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Pertama, siswa kurang memiliki pengetahuan prasyarat serta kurang mengetahui manfaat pelajaran matematika yang ia pelajari. Kedua, daya abstraksi siswa kurang dalam memahami konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak.
Dalam mengajarkan matematika, Matematika agar Mudah Dipahami sebaiknya diusahakan agar siswa mudah memahami konsep yang ia pelajari, sehingga siswa lebih berminat untuk mempelajarinya. Jika sekiranya diperlukan media atau alat peraga yang dapat membantu siswa dalam memahami konsep matematika, maka seyogyanya guru menyiapkan media atau alat peraga yang diperlukan.
Dari pengalaman peneliti dalam memberikan pembelajaran matematika kepada siswa selama ini, sebagian besar siswa sulit memahami materi dimensi tiga, khususnya tentang irisan bidang dengan bangun ruang. Meskipun peneliti sudah berupaya membimbing siswa dalam memahami konsep irisan bidang dengan bangun ruang dengan cara menunjukkan sketsa gambar, namun hasil belajar siswa belum sesuai dengan yang diharapkan, yaitu masih banyak siswa yang nilainya kurang dari standar ketuntasan belajar minimal.
Menurut Dienes (dalam Ruseffendi, 1980:134) menyatakan bahwa setiap konsep matematika dapat difahami dengan mudah apabila kendala utama yang menyebabkan anak sulit memahami dapat dikurangi atau dihilangkan. Dienes berkeyakinan bahwa anak pada umumnya melakukan abstraksi berdasasarkan intuisi dan pengalaman kongkrit, sehingga cara mengajarkan konsep-konsep matematika dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan objek kongkrit. Dengan demikian, dalam mengajarkan matematika perlu adanya benda-benda kongkrit yang merupakan model dari ide-ide matematika, yang selanjutnya disebut sebagai alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran. Alat bantu pembelajaran ini digunakan dengan maksud agar anak dapat mengoptimalkan panca inderanya dalam proses pembelajaran, mereka dapat melihat, meraba, mendengar, dan merasakan objek yang sedang dipelajari
Pembelajaran matematika sering diinterpretasikan sebagai aktivitas utama yang dilakukan guru, yaitu guru mengenalkan materi, mungkin mengajukan satu atau dua pertanyaan, dan meminta siswa yang pasif untuk aktif dengan memulai melengkapi latihan dari buku teks, pelajaran diakhiri dengan pengorganisasian yang baik dan pembelajaran selanjutnya dilakukan dengan sekenario yang serupa.
Kondisi di atas tampak lebih parah pada pembelajaran geometri. Sebagian siswa tidak mengetahui mengapa dan untuk apa mereka belajar konsep-konsep geometri, karena semua yang dipelajari terasa jauh dari kehidupan mereka sehari-hari. Siswa hanya mengenal objek-objek geometri dari apa yang digambar oleh guru di depan papan tulis atau dalam buku paket matematika, dan hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk memanipulasi objek-objek tersebut. Akibatnya banyak siswa yang berpendapat bahwa konsep-konsep geometri sangat sukar dipelajari (Soedjadi, 1991 dalam Sodikin 2004:2).
Pada umumnya, sekelompok siswa beranggapan bahwa mata pelajaran matematika sulit difahami. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Pertama, siswa kurang memiliki pengetahuan prasyarat serta kurang mengetahui manfaat pelajaran matematika yang ia pelajari. Kedua, daya abstraksi siswa kurang dalam memahami konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak.
Dalam mengajarkan matematika, Matematika agar Mudah Dipahami sebaiknya diusahakan agar siswa mudah memahami konsep yang ia pelajari, sehingga siswa lebih berminat untuk mempelajarinya. Jika sekiranya diperlukan media atau alat peraga yang dapat membantu siswa dalam memahami konsep matematika, maka seyogyanya guru menyiapkan media atau alat peraga yang diperlukan.
Dari pengalaman peneliti dalam memberikan pembelajaran matematika kepada siswa selama ini, sebagian besar siswa sulit memahami materi dimensi tiga, khususnya tentang irisan bidang dengan bangun ruang. Meskipun peneliti sudah berupaya membimbing siswa dalam memahami konsep irisan bidang dengan bangun ruang dengan cara menunjukkan sketsa gambar, namun hasil belajar siswa belum sesuai dengan yang diharapkan, yaitu masih banyak siswa yang nilainya kurang dari standar ketuntasan belajar minimal.
Menurut Dienes (dalam Ruseffendi, 1980:134) menyatakan bahwa setiap konsep matematika dapat difahami dengan mudah apabila kendala utama yang menyebabkan anak sulit memahami dapat dikurangi atau dihilangkan. Dienes berkeyakinan bahwa anak pada umumnya melakukan abstraksi berdasasarkan intuisi dan pengalaman kongkrit, sehingga cara mengajarkan konsep-konsep matematika dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan objek kongkrit. Dengan demikian, dalam mengajarkan matematika perlu adanya benda-benda kongkrit yang merupakan model dari ide-ide matematika, yang selanjutnya disebut sebagai alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran. Alat bantu pembelajaran ini digunakan dengan maksud agar anak dapat mengoptimalkan panca inderanya dalam proses pembelajaran, mereka dapat melihat, meraba, mendengar, dan merasakan objek yang sedang dipelajari
Langganan:
Postingan (Atom)