PENGUNJUNG YANG BAIK SILAHKAN TINGGALKAN KOMENTAR

Pembelajaran speaking melalui pemodelan

Kompetensi yang dituju dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah kompetensi komunikasi baik secara lisan maupun tulis. Implikasinya, pembelajaran bahasa Inggris harusnya menyediakan banyak kesempatan kepada para siswa untuk (berlatih) menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Tugas guru selanjutnya adalah menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan para siswa mempunyai cukup alasan untuk berbahasa Inggris. Paparan berikut adalah salah satu praktek pembelajaran yang pernah saya lakukan dalam menciptakan situasi berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan memberikan contoh/model berkomunikasi yang jelas bagi para siswa.

Langkah-langkah yang kami lakukan:
1.Setelah salam, siswa diberitahu tentang materi yang akan dipelajari pada
hari itu.
Guru : OK, everybody. Today we are going to talk about public Service. Can you give me examples of public service?
Siswa : Hospital
Guru : Good. What else?
Siswa : Post Office ….. Supermarket ……….
Guru : Supermarket. OK, what can you do in supermarket? etc
2. Siswa diberi lembaran berisi gambar-gambar toko, dan diberi beberapa pertanyaan:
Guru : OK, what can you see in your worksheet?
Siswa : Pictures
Guru : How many pictures are there?
Siswa : four
Guru : What is picture number one?
Siswa : A bread shop.
3.Siswa diminta untuk mendaftar apa saja yang bisa dibeli dari toko-toko yang ada di gambar. Guru menyediakan nama barang-barang yang mungkin dijual di toko-toko tersebut. Siswa diminta menambah sendiri.
4.Presentasi oleh beberapa siswa:
Siswa 1 : In a bread shop we can buy humbergers, bread rolls,….
Siswa 2 : In a chemist we can buy toothpaste, headache tablets, …
5.Setelah presentasi, penulis mengundang salah satu siswa untuk diajak berdialog. Dialog guru dengan siswa ini dimaksudkan sebagai contoh/model:
Guru : Hello Aldi!
Siswa : Hello Mr. Bambang!
Guru : Aldi, Do you know bread shop?
Siswa : Yes, I know.
Guru : What can you buy in a bread shop?
Siswa : I can buy ..eh..humburgers, bread rolls, sliced-bread, etc.
Guru : OK, thank you Aldi.
Siswa : You’re welcome.
6.Mengundang siswa kedua untuk membuat dialog yang sama, sebagai model juga.
7.Setelah melihat dua contoh tersebut, siswa diminta membuat dialog seperti contoh dengan memanfaatkan gambar dan daftar barang yang bisa dibeli.
8.Siswa berlatih meragakan dialog secara berpasangan. Penulis berkeliling untuk memastikan bahwa para siswa betul-betul berlatih berdialog dalam bahasa Inggris.
9.Secara berpasangan siswa meragakan dialog yang baru saja dilatihkan. Siswa yang tampil lebih dahulu memilih pasangan berikutnya. Setiap pasangan yang selesai diberi pujian berupa tepuk tangan.

Dari pembelajaran tadi para siswa merasa bahwa berkomunikasi dalam bahasa Inggris tidaklah sesulit yang dibayangkan. Sebagai tambahan informasi, ketika kelompok yang tampil selesai dan akan memilih pasangan berikutnya, banyak siswa yang menawarkan diri untuk ditunjuk duluan, tidak seperti biasanya yang selalu menghindar. Bagi penulis dari praktek pembelajaran yang sederhana ini bisa ditarik kesimpulan: a. Untuk ‘mau’ berkomunikasi, siswa perlu diberi situasi (konteks) dan input yang memadai; b. Pemodelan yang mengena akan sangat membantu siswa untuk melakukan ‘peniruan’; c. Keaktifan siswa dalam berlatih maupun unjuk kerja dalam berbahasa sangat meringankan tugas guru. Bagaimana menurut Anda

1 komentar:

putra saburai mengatakan...

Sudah seharusnya belajar apapun siswa yang aktif.

Kamampuan berbica siswa ada levelnya. Kira-kira, pada level berapa, teknik ini bisa diterapkan?

Posting Komentar